Konten dari Pengguna

Komunikasi Budaya dalam ‘Mou Koi Nante Shinai’ (1992)

Farel Destano

Farel Destano

Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Farel Destano tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang pria muda duduk sendirian di kamar apartemen sederhana khas Jepang era 1990-an, memegang kaset atau CD ”dengan cahaya senja masuk melalui jendela dan siluet kota di kejauhan (Foto: farel destano)
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pria muda duduk sendirian di kamar apartemen sederhana khas Jepang era 1990-an, memegang kaset atau CD ”dengan cahaya senja masuk melalui jendela dan siluet kota di kejauhan (Foto: farel destano)

Lagu bukan sekadar rangkaian nada dan lirik, tetapi juga medium komunikasi budaya yang menyampaikan nilai, emosi, dan realitas sosial suatu masyarakat. Salah satu karya yang menarik dibaca dalam perspektif komunikasi budaya adalah “Mou Koi Nante Shinai” (1992) karya Noriyuki Makihara. Lagu ini tidak hanya berbicara tentang patah hati, tetapi juga merepresentasikan cara masyarakat Jepang memaknai kesendirian, kehilangan, dan ekspresi emosi dalam ruang sosial.

Seorang pria duduk sendiri di kamar apartemen minimalis khas Jepang pada malam hari, cahaya lampu temaram menerangi meja kecil dengan radio tua yang memutar lagu tahun 1990-an. (Foto:farel destano)
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pria duduk sendiri di kamar apartemen minimalis khas Jepang pada malam hari, cahaya lampu temaram menerangi meja kecil dengan radio tua yang memutar lagu tahun 1990-an. (Foto:farel destano)

Secara harfiah, “Mou Koi Nante Shinai” berarti “Aku Tidak Akan Jatuh Cinta Lagi.” Namun, di balik pernyataan tegas tersebut tersimpan paradoks emosional. Dalam liriknya, tokoh “aku” justru menunjukkan kerinduan mendalam terhadap sosok yang telah pergi. Ia mengingat detail keseharian membuat sarapan, kebiasaan kecil, hingga keheningan kamar yang terasa lebih sunyi dari biasanya. Detail domestik ini menjadi simbol penting dalam budaya Jepang yang menjunjung nilai kedekatan emosional melalui tindakan-tindakan sederhana, bukan melalui ekspresi verbal yang berlebihan

Dapur kecil yang rapi dengan satu piring sarapan di meja, kursi kosong di seberangnya, dan sinar matahari pagi masuk melalui jendela, menciptakan suasana hening dan kehilangan.( Foto: Farel destano)

Dalam perspektif komunikasi budaya, lagu ini mencerminkan karakter masyarakat Jepang yang cenderung high-context culture. budaya dengan komunikasi tidak langsung dan sarat makna implisit. Perasaan tidak selalu diungkapkan secara gamblang; justru disampaikan melalui isyarat, suasana, dan simbol keseharian. Kesedihan dalam lagu ini tidak meledak-ledak, melainkan hadir sebagai kesunyian yang perlahan menggerus. Di sinilah komunikasi terjadi: bukan lewat deklarasi dramatis, tetapi melalui ruang kosong yang terasa hampa.

Siluet seorang pria berdiri di dekat jendela apartemen, memandang kota Tokyo yang sibuk dari kejauhan, namun ekspresinya tenang dan penuh refleksi. (Foto:Farel destano)

Selain itu, lagu ini juga menarik dari sisi representasi maskulinitas. Tokoh pria dalam lagu tidak digambarkan sebagai sosok dominan atau emosional secara agresif. Sebaliknya, ia rapuh, merindukan, dan mengakui ketergantungannya pada kehadiran orang lain. Dalam konteks komunikasi budaya, hal ini menunjukkan pergeseran representasi laki-laki Jepang modern yang lebih terbuka terhadap kerentanan emosional, meski tetap dibungkus dalam kesederhanaan ekspresi.

Seorang pendengar muda memakai headphone di kamar sederhana, menatap kosong ke luar jendela saat hujan turun, menunjukkan universalitas rasa kehilangan (Foto:Farel destano)

Popularitas lagu ini yang bertahan hingga kini membuktikan bahwa pesan budayanya bersifat universal. Patah hati adalah pengalaman personal, tetapi cara mengomunikasikannya dibentuk oleh budaya. Melalui lagu ini, Noriyuki Makihara menghadirkan narasi kesunyian yang sangat Jepang tenang, reflektif, dan penuh makna tersirat namun tetap dapat dipahami lintas batas negara.

Pada akhirnya, “Mou Koi Nante Shinai” bukan sekadar lagu tentang berhenti mencintai. Ia adalah teks budaya yang memperlihatkan bagaimana masyarakat Jepang mengomunikasikan kehilangan tanpa harus berteriak tentang rasa sakit. Kesunyian menjadi bahasa, dan rutinitas menjadi simbol cinta yang tak lagi hadir. Dalam ruang itulah komunikasi budaya bekerja diam, tetapi berbicara banyak