Konten dari Pengguna

Ketika Budaya Hanya Jadi Pajangan: Pemersatu atau Peringatan?

Farel Lucky

Farel Lucky

Mahasiswa Universitas Jember, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Indonesia

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Farel Lucky tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertunjukkan Wayang Kulit: gambar dihasilkan oleh AI
zoom-in-whitePerbesar
Pertunjukkan Wayang Kulit: gambar dihasilkan oleh AI

Indonesia merupakan negara yang kaya akan alam, budaya, bahasa, dan sebagainya. Indonesia bangga dengan gelar negara multikultural. Lebih dari 300 etnis, ratusan bahasa daerah, dan beragam kesenian tradisional menjadi wajah Indonesia yang khas di mata dunia. Namun, di balik kebanggaan itu, muncul pertanyaan kritis yaitu apakah budaya masih menjadi pemersatu bangsa, atau justru kini kian tersisih di tengah gempuran globalisasi dan arus modernitas?

Saya melihat budaya kita berada dalam persimpangan yang genting. Di satu sisi, ia menjadi jantung dari identitas bangsa. Tapi di sisi lain, banyak praktik budaya kini tinggal seremoni tanpa makna. Budaya digelar untuk keperluan pariwisata, namun esensinya luput dipahami oleh generasi muda. Apakah budaya masih hidup di dalam masyarakat, atau hanya menjadi pelengkap acara seremonial?

Bahasa Indonesia: Simbol yang Terancam?

Bahasa Indonesia seharusnya menjadi jembatan yang menghubungkan kita semua. Namun realitanya, bahasa ini kini sedang berkompetisi dengan bahasa asing yang dianggap lebih “keren” dan bergengsi. Anak-anak muda banyak yang lebih percaya diri menggunakan bahasa Inggris, terutama di ruang digital. Tak sedikit konten kreator yang lebih memilih judul dan narasi dalam bahasa asing demi “engagement”.

Kita menghadapi dilema dengan mendorong generasi melek global tanpa kehilangan akar nasional. Kesenjangan penguasaan bahasa Indonesia di berbagai daerah dan minimnya kebijakan pemerintah untuk menguatkan bahasa nasional di ruang publik menambah masalah ini. Jika kita tidak hati-hati, bahasa kita bisa menjadi simbol yang kehilangan makna pemersatunya.

Ketika Warisan Budaya Menjadi Pajangan

Saya pernah menyaksikan pagelaran tari tradisional di sebuah festival budaya. Penari menampilkan gerak gemulai yang memesona, tetapi yang menyedihkan adalah sebagian besar penontonnya sibuk merekam, bukan memahami. Seni dan tradisi seperti tari, musik gamelan, dan wayang, makin sering menjadi sekadar tontonan eksotis ketimbang warisan hidup yang dijaga dan dipraktikkan.

Ini menjadi konflik utama antara pelestarian budaya dan komodifikasi budaya. Batik, misalnya, telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia, namun berapa banyak generasi muda yang memahami motif-motif batik dan makna filosofis di baliknya? Kita bangga memakainya, tapi tidak memahami akar budayanya. Untuk mengatasi hal tersebut, perlunya pemerintah mengajarkan disekolah-sekolah mengenai pembelajaran budaya leluhur kita, supaya generasi muda tidak hanya tau dengan melihat secara visual namun tau juga makna-makna dibalik budaya tersebut.

Pendidikan: Solusi yang Belum Maksimal

Pendidikan seharusnya menjadi instrumen utama untuk memperkuat budaya bangsa. Sayangnya, pendekatan pendidikan kita masih terlalu akademik dan kurang kontekstual. Materi tentang budaya kerap menjadi tempelan dalam pelajaran, bukan bagian integral yang menginspirasi siswa untuk memahami, menghargai, dan meneruskan budaya leluhur mereka.

Pendidikan multikultural seharusnya membentuk siswa yang toleran dan mencintai keragaman. Namun saat ini, sekolah-sekolah justru makin homogen dan tidak banyak ruang untuk budaya lokal tampil sebagai materi utama. Ironisnya, justru media sosial yang kini menjadi ruang paling aktif bagi pertemuan budaya sayangnya, tanpa filter yang kuat.

Moderasi Beragama dan Harmoni yang Rapuh

Indonesia dikenal sebagai negara religius yang plural. Namun konflik horizontal berbasis agama dan suku masih sering terjadi. Isu-isu sensitif kerap dipolitisasi dan mengganggu tatanan sosial. Moderasi beragama menjadi jawaban, tapi implementasinya belum merata. Di perguruan tinggi, wacana toleransi berkembang. Tapi di akar rumput, ketegangan masih sering muncul, apalagi menjelang tahun politik.

Budaya harusnya menjadi pelumas harmoni, namun kini seolah tak cukup kuat untuk meredam gesekan yang berbasis identitas.

Globalisasi: Ancam atau Peluang?

Masuknya budaya asing lewat internet, film, musik, dan media sosial mempercepat pergeseran nilai. Generasi muda lebih mengenal K-pop daripada keroncong, lebih hafal tarian TikTok dibanding tari daerahnya sendiri. Ini bukan semata kesalahan mereka, tapi karena negara gagal menjadikan budaya lokal sebagai hal yang membanggakan dan relevan.

Namun di sinilah peluangnya: media sosial juga bisa menjadi senjata untuk mempromosikan budaya lokal dengan cara yang segar dan kreatif. Yang dibutuhkan adalah dorongan, dukungan kebijakan, dan ruang yang cukup bagi anak muda untuk mengekspresikan identitas budayanya secara otentik dan kontemporer.

Bhinneka Tunggal Ika: Hanya Slogan?

Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” terus digaungkan di berbagai pidato dan spanduk pemerintah. Tapi bagaimana implementasinya dalam keseharian kita? Apakah kita benar-benar merayakan perbedaan, atau hanya bersabar atasnya? Bila semboyan ini tidak dibarengi kesadaran kolektif dan tindakan nyata dalam memperkuat budaya sebagai alat penyatu, maka ia akan menjadi sekadar jargon kosong. Tentunya dalam kebudayaan, sangat tergantung sesuai sila ke 3 yaitu persatuan Indonesia. Hal ini, karena kebudayaan mampu menyatukan lingkungan masyarakat dan menciptakan hubungan yang harmonis sesama rakyat Indonesia.

Peran Kita dan Masyarakat

Pada akhirnya, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tugas pemerintah atau akademisi. Kita, masyarakat, memiliki tanggung jawab moral dan historis untuk menjaga budaya. Kita bisa mulai dari hal kecil yaitu belajar tentang budaya daerah sendiri, menonton pertunjukan seni lokal, mendukung produk budaya, hingga menceritakan kembali nilai-nilai kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari.

Jika tidak, maka budaya tersebut akan punah karena dilupakan dan diabaikan oleh bangsanya sendiri. Masyarakat harus berperan aktif mendukung dan melestarikan budaya-budaya kita sendiri.

Penutup: Saatnya Bangkit Bersama Budaya

Budaya adalah denyut nadi bangsa. Ia bisa memperkuat persatuan, tetapi juga bisa melemah jika tak lagi relevan dalam kehidupan masyarakat. Kita harus jujur melihat konflik yang terjadi antara modernitas dan warisan, antara simbol dan praktik. Tapi dari konflik itu, kita bisa membangun jalan keluar untuk menjadikan budaya sebagai alat transformasi sosial, bukan sekadar artefak masa lalu. Jika kita ingin Indonesia tetap kuat dalam keberagamannya, maka budaya bukan hanya harus dilestarikan ia harus dihidupkan. Menghidupkan budaya terutama dalam generasi muda, merupakan hal yang wajib dilakukan supaya budaya kita tetap hidup. Generasi muda harus berperan aktif dalam melestarikan dan menghidupkan budaya ini. Supaya budaya-budaya yang nenek moyang kita ciptakan tidak hilang begitu saja.

Farel Lucky