Nong Pegghe’: Di Mana Dongeng dan Alam Menyatu

Mahasiswa Universitas Jember, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Indonesia
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Farel Lucky tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di balik hamparan kabut di dataran tinggi Bondowoso, Jawa Timur, tersimpan sebuah kisah yang tak lekang oleh waktu: Legenda Nong Pegghe’. Dalam bahasa Madura, “Nong Pegghe’” berarti gunung terbelah, merujuk pada bentang alam yang tampak terbelah secara alami di kawasan Ijen. Namun, lebih dari sekadar dongeng lawas, legenda ini sejatinya merepresentasikan cara masyarakat lokal membangun relasi dengan ruang hidup mereka bukan melalui lensa ilmiah modern, tetapi lewat tafsir mitologis yang sarat makna simbolik dan spiritualitas kosmis. Dalam kisah ini, lanskap alam bukan sekadar latar, tetapi aktor aktif yang berbicara lewat narasi kolektif. Di tengah krisis ekologis dan alienasi budaya akibat modernisasi, legenda seperti Nong Pegghe’ penting untuk dikaji ulang bukan hanya sebagai warisan, melainkan sebagai kritik terhadap cara pandang manusia modern yang kerap menundukkan alam sebagai objek eksploitasi semata.
Lebih dari Sekadar Cerita Tidur
Sering kali kita meremehkan cerita rakyat sebagai kisah pengantar tidur. Padahal, di balik narasinya yang sederhana, cerita seperti Nong Pegghe’ menyimpan kekayaan identitas budaya yang mendalam. Dalam kisah ini, tokoh mitologis seperti Damarwulan dan Minakjinggo terlibat dalam pertempuran epik yang menyebabkan terbelahnya sebuah gunung oleh pusaka sakti. Namun ini bukan sekadar kisah heroik melainkan cerminan cara masyarakat memahami fenomena alam yang mengelilingi mereka.
Seperti yang ditegaskan Brunvand (2004) dalam The Study of American Folklore, cerita rakyat adalah bentuk ekspresi kolektif yang sarat dengan simbol, nilai, dan pandangan hidup. Dalam konteks Bondowoso, Nong Pegghe’ bukan hanya legenda, tapi bagian dari ingatan kultural yang hidup dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Ketika Imajinasi Bertemu Fakta Geologis
Yang membuat Legenda Nong Pegghe’ istimewa adalah kemampuannya menjembatani imajinasi mitologis dengan realitas geologis. Gunung yang “terbelah” dalam cerita sebenarnya merujuk pada fenomena nyata di kawasan Ijen yang memiliki morfologi patahan dan batuan keras berwarna hitam yang secara lokal disebut sebagai “darah Minakjinggo”.
Studi oleh Sujatmiko et al. (2017) dalam Jurnal Geografi Gea menjelaskan bahwa wilayah ini memang merupakan hasil aktivitas vulkanik tinggi. Lava beku jenis basaltik dan batuan patahan di Ijen menjadi bukti bahwa kisah rakyat seperti Nong Pegghe’ menyimpan pengetahuan ekologis lokal yang ditransformasikan dalam bentuk mitos. Ini menjadi bukti bahwa masyarakat tradisional memiliki cara tersendiri yang cerdas dalam menjelaskan dunia mereka sebelum sains modern hadir.
Antara Lisan, Lupa, dan Layar Gawai
Namun, warisan lisan seperti Nong Pegghe’ kini menghadapi ancaman serius: dilupakan. Di era digital ini, generasi muda lebih familiar dengan karakter dari Marvel atau anime Jepang ketimbang tokoh-tokoh dari tanah kelahiran mereka. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2020) menyebutkan bahwa hanya 27% siswa SMA di Jawa Timur yang bisa menyebutkan lebih dari dua cerita rakyat dari daerah asalnya.
Temuan ini mencerminkan kesenjangan budaya yang mengkhawatirkan. Menurut Widiastuti (2021) dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, kurangnya integrasi cerita rakyat dalam pendidikan formal menjadi salah satu penyebab utama keterputusan generasi muda dari akar budayanya. Padahal, cerita seperti Nong Pegghe’ mengandung nilai-nilai luhur tentang kepahlawanan, hubungan manusia dengan alam, dan kepercayaan spiritual.
Hidupkan Kembali Cerita Lewat Sekolah dan Teknologi
Lalu, apa yang bisa dilakukan agar Nong Pegghe’ tak tinggal nama? Jawabannya ada pada pendidikan dan inovasi digital. Cerita rakyat seharusnya bukan hanya materi tambahan dalam pelajaran bahasa atau seni budaya. Ia perlu dihadirkan sebagai sumber nilai dan refleksi sosial, serta dijadikan bahan diskusi dalam konteks kekinian seperti pelestarian lingkungan, toleransi, dan keberagaman.
Digitalisasi menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Platform seperti YouTube, podcast, Instagram Reels, dan TikTok bisa menjadi medium baru untuk menyampaikan kisah Nong Pegghe’ secara visual dan menarik. Animasi pendek, komik digital, hingga drama suara bisa menjadi alat edukasi budaya yang menyenangkan. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan cultural reappropriation dari Jenkins (2006) dalam Convergence Culture, yakni mengambil warisan budaya dan mengemasnya dalam bentuk baru yang relevan dan mudah diterima generasi digital.
Nong Pegghe’ sebagai Cermin dan Kompas Budaya
Legenda Nong Pegghe’ bukan sekadar dongeng atau cerita romantik masa lalu. Ia adalah cermin yang memantulkan wajah budaya masyarakat Bondowoso dan kompas yang menuntun arah pemahaman kita terhadap hubungan antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Ketika kita menjaga dan menghidupkan kembali cerita seperti ini, kita tidak hanya menyelamatkan satu warisan budaya, tetapi juga membangun kembali koneksi dengan akar-akar identitas lokal yang semakin kabur oleh modernisasi.
Bondowoso dan kisah Nong Pegghe’ bukan produk dari algoritma atau kecerdasan buatan. Mereka adalah hasil dari emosi kolektif, pengalaman spiritual, dan kedekatan manusia dengan alamnya. Dan justru di era digital yang serba cepat dan artifisial ini, kisah-kisah semacam itu menjadi semakin penting karena mereka mengingatkan kita akan apa yang hakiki, asli, dan manusiawi.
Farel Lucky
