Konten dari Pengguna

Setelah Fasilitas Nuklir Iran Dihancurkan, Apa yang Sebenarnya Berubah?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Farellia Rizki Amanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Serangan terhadap fasilitas nuklir Iran mungkin terlihat seperti langkah paling tegas untuk menghentikan program nuklir negara tersebut. Fasilitas pengayaan dapat dihancurkan, infrastruktur dapat rusak, dan kemampuan produksi dapat terganggu. Namun, ada satu pertanyaan yang justru menjadi semakin penting setelah serangan dilakukan: apakah penghancuran fasilitas benar-benar menyelesaikan persoalan nuklir Iran?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Iranian flag waving with city skyline on background in Tehran, Iran
zoom-in-whitePerbesar
Iranian flag waving with city skyline on background in Tehran, Iran

Per 7 Oktober 2026, tiga fasilitas pengayaan uranium Iran yang diketahui, termasuk fasilitas utama di Natanz, dilaporkan telah hancur atau mengalami kerusakan berat akibat serangan Amerika Serikat dan Israel. Sebelum serangan tersebut, Iran diketahui memiliki sekitar 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen. Angka tersebut penting karena uranium dengan tingkat pengayaan 60 persen memang belum mencapai tingkat weapons-grade yang umumnya berada pada 90 persen, tetapi secara teknis sudah jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat yang dibutuhkan untuk penggunaan sipil biasa. IAEA juga tidak menemukan bukti adanya program senjata nuklir Iran yang terkoordinasi, meskipun jumlah dan tingkat pengayaan uranium Iran menjadi persoalan serius.

Masalahnya, bom tidak menghapus material nuklir.

Reuters melaporkan bahwa IAEA masih memperkirakan lebih dari 200 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen berada di Iran, terutama di kompleks terowongan Isfahan. Pada saat yang sama, Iran belum memberikan akses kepada inspektur IAEA ke fasilitas yang menjadi sasaran serangan. Akibatnya, persoalan yang sekarang dihadapi bukan hanya mengenai fasilitas mana yang hancur, tetapi juga mengenai apa yang masih tersisa dan apakah komunitas internasional dapat memastikannya.

Di sinilah persoalan keamanan internasional menjadi lebih rumit.

Ketika fasilitas hancur, persoalan verifikasi justru membesar

Dalam isu nuklir, kemampuan untuk mengetahui apa yang dimiliki suatu negara sama pentingnya dengan kemampuan untuk membatasi apa yang boleh dimilikinya. Karena itu, keberadaan IAEA menjadi penting. Lembaga ini bukan sekadar mengawasi fasilitas nuklir, tetapi juga melakukan verifikasi untuk memastikan material nuklir tidak dialihkan dari penggunaan damai ke tujuan lain.

Masalahnya, mekanisme tersebut sudah mengalami gangguan jauh sebelum serangan terbaru. Dalam laporan pada 2025, IAEA menyatakan bahwa mereka telah kehilangan kesinambungan pengetahuan mengenai sejumlah aspek program nuklir Iran, termasuk produksi dan persediaan centrifuge serta beberapa material nuklir. IAEA juga menyatakan bahwa terbatasnya akses dan berhentinya sejumlah mekanisme pemantauan membuat kemampuan lembaga tersebut untuk memberikan kepastian mengenai sifat damai program nuklir Iran semakin terbatas.

Serangan terhadap fasilitas nuklir kemudian menambah persoalan tersebut. Ketika fasilitas rusak tetapi akses pemeriksaan tidak kembali normal, dunia internasional menghadapi sebuah paradoks: infrastruktur nuklir Iran mungkin berkurang, tetapi kepastian mengenai apa yang sebenarnya tersisa juga ikut berkurang.

Dalam konteks non-proliferasi, kondisi tersebut bukan persoalan kecil. Ketidakpastian dapat menciptakan ruang bagi kecurigaan, sementara kecurigaan dalam hubungan internasional sering kali mendorong negara mengambil langkah keamanan yang lebih keras.

Masalahnya bukan hanya Iran, tetapi security dilemma

Persoalan Iran juga dapat dilihat melalui konsep security dilemma. Dari sudut pandang Amerika Serikat dan sekutunya, kemampuan Iran untuk memperkaya uranium hingga tingkat tinggi dapat dipandang sebagai ancaman terhadap keamanan regional. Mengurangi kemampuan tersebut kemudian dianggap sebagai bagian dari upaya mencegah proliferasi nuklir.

Namun, tindakan yang dimaksudkan untuk meningkatkan keamanan satu pihak belum tentu dipersepsikan demikian oleh pihak lain. Bagi Iran, serangan terhadap fasilitas nuklir dan tekanan militer dapat memperkuat persepsi bahwa kemampuan strategis tertentu dibutuhkan untuk menghadapi ancaman eksternal.

Di sinilah lingkaran keamanan dapat terbentuk. Amerika Serikat menekan Iran karena menganggap kemampuan nuklirnya berisiko. Iran kemudian melihat tekanan tersebut sebagai ancaman terhadap keamanannya. Respons Iran dapat kembali dipandang sebagai ancaman oleh Amerika Serikat dan negara-negara lain.

Pada akhirnya, masing-masing pihak dapat merasa sedang bertindak defensif, sementara pihak lainnya melihat tindakan tersebut sebagai ancaman.

Persoalan ini membuat penghancuran fasilitas tidak otomatis menghilangkan motivasi politik di balik program nuklir Iran. Bangunan dapat dihancurkan, tetapi pengetahuan teknis, material yang masih tersisa, kepentingan keamanan, dan ketidakpercayaan antarnegara tidak ikut hilang dalam satu serangan.

Diplomasi justru tetap dibutuhkan setelah serangan

Ironisnya, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa persoalan nuklir masih menjadi bagian penting dalam upaya mengakhiri perang.

Pada 6 Oktober 2026, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan kepada Reuters bahwa Iran harus melakukan pengurangan yang signifikan terhadap kapasitas pengayaan uraniumnya sebagai bagian dari kesepakatan untuk mengakhiri perang. Washington tidak hanya menginginkan janji, tetapi langkah konkret untuk mengurangi kemampuan pengayaan Iran.

Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan militer ternyata tidak menghilangkan kebutuhan terhadap diplomasi. Setelah fasilitas diserang, Amerika Serikat tetap membutuhkan kesepakatan yang mengatur apa yang boleh dilakukan Iran terhadap program nuklirnya. Dunia internasional juga tetap membutuhkan mekanisme yang dapat memastikan bahwa kesepakatan tersebut benar-benar dijalankan.

Dengan kata lain, perang mungkin dapat mengubah kondisi fisik program nuklir Iran, tetapi tidak dapat sendirian menciptakan aturan baru mengenai program tersebut.

Pengalaman sebelumnya melalui Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) juga menunjukkan bahwa persoalan nuklir Iran pada dasarnya membutuhkan kombinasi antara pembatasan, negosiasi, dan verifikasi. Setelah Amerika Serikat keluar dari JCPOA pada 2018, Iran secara bertahap melampaui sejumlah batasan yang sebelumnya disepakati. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa ketika mekanisme diplomatik melemah, persoalan nuklir tidak otomatis menghilang. Sebaliknya, kemampuan nuklir Iran justru berkembang semakin jauh dari batasan awal kesepakatan.

Karena itu, tantangan setelah serangan bukan hanya bagaimana menghentikan pengayaan uranium Iran, tetapi bagaimana membangun kembali mekanisme yang memungkinkan dunia internasional mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam program nuklir Iran.

Jadi, apa yang sebenarnya berubah?

Yang berubah adalah kemampuan operasional Iran. Fasilitas yang rusak tentu dapat menghambat pengayaan uranium dalam jangka tertentu. Tetapi yang belum berubah adalah persoalan politik dan keamanan yang berada di balik program tersebut.

Iran masih memiliki material nuklir yang perlu diverifikasi. Pengetahuan dan kemampuan teknis tidak hilang begitu saja. Hubungan antara Iran dan negara-negara Barat juga masih dipenuhi ketidakpercayaan. Pada saat yang sama, IAEA membutuhkan akses untuk memastikan apa yang tersisa dari program nuklir Iran.

Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan apakah serangan berhasil menghancurkan fasilitas nuklir Iran. Secara fisik, beberapa fasilitas memang telah rusak berat. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kerusakan tersebut membuat dunia internasional menjadi lebih mampu memastikan bahwa Iran tidak akan mengembangkan senjata nuklir.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kekuatan militer saja tidak cukup.

Justru setelah serangan berhenti, pekerjaan yang lebih sulit dimulai: memastikan material nuklir yang tersisa dapat dilacak, mengembalikan mekanisme inspeksi, membangun kembali kepercayaan, dan menciptakan kesepakatan yang dapat diterima oleh pihak-pihak yang terlibat.

Jika tujuan akhirnya adalah mencegah proliferasi nuklir, maka keberhasilan tidak dapat diukur hanya dari berapa banyak fasilitas yang berhasil dihancurkan. Keberhasilan juga harus dilihat dari seberapa jauh masyarakat internasional mampu mengetahui, membatasi, dan mengawasi program nuklir Iran setelah perang.

Sebab pada akhirnya, bom dapat menghancurkan fasilitas nuklir. Tetapi bom tidak dapat menggantikan verifikasi dan diplomasi.