VCO Bisa Lebih dari Sekadar Minyak: Sociopreneurship untuk Produk Lokal Papua
Tulisan dari Farhan Fauzul Azhim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di Distrik Semangga, kelapa mudah ditemukan. Banyak pelaku usaha sudah mengolahnya menjadi minyak kelapa dan virgin coconut oil (VCO). Ada pula yang memproduksi ikan asin dan keripik pisang. Bahan bakunya melimpah, tenaga kerjanya ada, dan semangat berusahanya tinggi. Lalu, mengapa usaha-usaha ini masih sulit berkembang?
Pertanyaan itu yang mendorong kami, Tim 20 Ekspedisi Patriot IPB University, menggelar rangkaian kegiatan pengembangan ekosistem bisnis dan sociopreneurship pada 15–16 Oktober 2026 di Balai Kampung Urumb. Sebanyak 40 peserta hadir, terdiri atas pelaku UMKM, kader PKK, dan kader Posyandu.
Salah satu persoalan utamanya adalah produk dijual dalam bentuk paling sederhana. VCO dijual sebagai VCO, kelapa dijual sebagai minyak kelapa. Padahal, nilai ekonomi terbesar justru lahir dari pengolahan lanjutan. Selama produk tidak diberi nilai tambah, harga jualnya akan tetap rendah dan mudah tersaingi produk serupa dari daerah lain.
Persoalan lain tidak kalah penting. Dalam sesi diskusi, sejumlah peserta mengaku masih kesulitan menghitung Harga Pokok Produksi (HPP), terutama membedakan biaya tetap dan biaya variabel. Tanpa perhitungan yang tepat, pelaku usaha bisa saja merasa untung padahal sebenarnya merugi. Belum lagi urusan kemasan, merek, legalitas, dan akses pasar yang sering terabaikan.
Perhitungan HPP sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan. Biaya tetap adalah biaya yang tetap keluar setiap bulan meskipun tidak ada produksi, seperti sewa tempat usaha. Biaya variabel adalah biaya yang besarnya mengikuti jumlah produksi, seperti gas untuk memasak. Kedua biaya itu dijumlahkan, lalu dibagi dengan jumlah produk yang dihasilkan. Hasilnya adalah biaya per unit yang menjadi dasar menentukan harga jual dan keuntungan.
Karena itu, hari pertama kegiatan kami fokuskan pada dasar-dasar usaha: strategi pemasaran, cara menetapkan harga, peningkatan nilai tambah, hingga pengembangan produk unggulan dari bahan baku lokal. Kami percaya, inovasi produk akan sia-sia tanpa kemampuan mengelola dan memasarkannya.
Peserta juga dikenalkan dengan cara sederhana untuk menguji sebuah ide usaha, yaitu memastikan tiga kesesuaian. Pertama, produk harus benar-benar menjawab masalah atau kebutuhan konsumen. Kedua, usaha harus sesuai dengan kemampuan dan potensi orang yang menjalankannya. Ketiga, produk harus cocok dengan pasar yang dituju. Tiga hal ini terdengar sederhana, tetapi sering terlewat ketika semangat berusaha lebih besar daripada perencanaannya.
Diversifikasi produk menjadi salah satu kunci. Kelapa tidak harus berhenti menjadi minyak, pisang tidak harus berhenti menjadi keripik, dan hasil perikanan pun bisa diolah menjadi produk baru, misalnya keripik dari kulit ikan. Agar bisa menembus pasar yang lebih luas, produk juga perlu dilengkapi legalitas, seperti izin edar, sertifikat halal, informasi gizi, dan barcode, serta dipasarkan melalui berbagai saluran, dari penjualan langsung, gerai, hingga platform daring.
Di sinilah konsep sociopreneurship menjadi relevan. Usaha yang dibangun bukan semata untuk mengejar keuntungan pribadi, tetapi juga untuk menggerakkan ekonomi keluarga dan komunitas. Itulah sebabnya kami mengundang kader PKK dan Posyandu. Mereka adalah penggerak di tingkat kampung yang mampu menularkan pengetahuan kepada keluarga-keluarga lain.
Ketua Tim 20, Iqbal Irfany, punya pandangan yang jelas tentang arah pengembangan produk di Papua. "Sebagai upaya pemanfaatan ekonomi, produk unggulan daerah dari Papua, khususnya Merauke, harus menampilkan sisi khas etno dari daerah tersebut. Misalnya VCO, tidak hanya sebatas menjadi VCO, tetapi dengan menambahkan buah merah atau tanaman lokal lainnya, sehingga menjadi produk yang memiliki ciri khas tersendiri berbasis budaya lokal," ujarnya.
Pesan itu sederhana, tetapi kuat. Di pasar yang ramai, produk yang menang bukan selalu yang paling murah, melainkan yang paling punya cerita. Dan Papua memiliki cerita yang tidak dimiliki daerah lain.
Mulyati Kaize, salah satu pelaku UMKM, langsung menangkap peluang itu. "Produk ini nantinya dapat memberikan nilai tambah lebih untuk dijual, tidak sebatas VCO saja, tetapi bisa diolah lebih lanjut menjadi produk seperti kosmetik. Harapannya, dari kegiatan ini produk yang kami jual lebih beragam dan memiliki ciri khas," katanya.
Kami berharap, dari Semangga akan lahir produk-produk yang tidak hanya laku dijual, tetapi juga membawa nama dan identitas Papua ke pasar yang lebih luas.

