Konten dari Pengguna

Jean-Paul Sartre dan Tanggung Jawab Menjadi Manusia

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Farhan M Adyatma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Buku ‘Eksistensialisme adalah Humanisme’ | Foto: Farhan M. Adyatma
zoom-in-whitePerbesar
Buku ‘Eksistensialisme adalah Humanisme’ | Foto: Farhan M. Adyatma

Siapa yang tidak mengenal Jean-Paul Sartre? Seorang filsuf termasyhur asal Prancis ini terkenal dengan pemikirannya mengenai eksistensialisme. Ia juga terkenal karena menolak Hadiah Nobel Sastra 1964. Salah satu alasan penolakannya adalah karena Sartre berprinsip untuk menolak segala penghargaan resmi dan tidak ingin “dilembagakan”.

Membicarakan pemikiran Sartre, berarti membicarakan eksistensialisme. Buku Eksistensialisme Adalah Humanisme (2021) ini mungkin bisa menjadi buku pengantar yang tepat untuk membawa pembaca memahami eksistensialisme Sartrean. Buku ini berisikan dua teks Sartre ditambah satu dialog lanjutan dari teks pertama.

Teks pertama yang berjudul Eksistensialisme adalah Humanisme, sejatinya merupakan transkip stenografer dari pidato Sartre di Club Maintenant, Paris, pada tanggal 29 Oktober 1945. Sedangkan teks kedua yang berjudul Komentar tentang Orang Asing, sejak awal sudah merupakan sebuah teks.

Perbedaan kedua teks tersebut juga bisa dilihat. Pada teks pertama, terlihat bahwa Sartre lebih komunikatif dengan argumen-argumennya yang sederhana serta mudah dipahami. Sedangkan pada teks kedua, terlihat bahwa Sastre lebih reflektif.

Sartre dan Camus

Pada bulan Juni 1943, berjarak empat bulan setelah tulisan Sartre yang berjudul Komentar tentang Orang Asing ditayangkan, Albert Camus memperkenalkan diri kepada Sartre pada premier drama Sartre yang berjudul The Flies. Dari situ, terjalin persahabatan antara Sartre dan Camus yang luar biasa.

Namun, seiring berjalannya waktu, Sartre dan Camus menjadi dua nama yang saling bermusuhan dalam gagasan. Sartre sebagai penulis dari Prancis metropolitan, menjadi rasul antikolonialisme dan mengambil posisi radikal dan global sebagai nabi untuk setiap tujuan dunia-ketiga. Sedangkan Camus sebagai seseorang dari Aljazair, menarik diri ke dalam satu sikap pencari-konsensus, mengembangkan mitologinya tentang persaudaraan dan rekonsiliasi.

Reputasi Jahat Eksistensialisme

Dalam pidato Eksistensialisme adalah Humanisme, Sartre mengawali pidatonya dengan membahas mengenai eksistensialisme yang memiliki reputasi buruk—bahkan reputasi jahat. Sartre menyatakan bahwa pihak-pihak lain mengutuk kaum eksistensialis karena menekankan sesuatu yang tercela dan hina tentang kemanusiaan, sementara pada saat yang sama mengabaikan keindahan dan sisi kodrat manusia yang lebih terang.

Sartre juga membahas mengenai kecaman dari kaum komunis untuk kaum eksistensialis. Kaum komunis mengecam dengan alasan bahwa kaum eksistensialis mendasarkan doktrinnya pada subjektivitas murni—pada Aku Berpikir ala Cartesian—ketika manusia sepenuhnya memahami keterpencilannya.

Bagi kaum komunis, hal itu membuat kaum eksistensialis menjadi tidak mampu untuk membangun ulang solidaritas dengan mereka yang eksis di luar diri. Selain itu, kaum eksistensialis juga menjadi tidak mampu membangun ulang solidaritas dengan yang tidak bisa dicapai melalui cogito.

Walaupun eksistensialisme memiliki reputasi buruk, Sartre menyatakan bahwa kebanyakan orang akan kebingungan jika diminta menjelaskan makna eksistensialisme. Hal itu karena eksistensialisme menjelma menjadi tren yang populer, orang-orang suka menyebut musisi ini atau pelukis itu sebagai seorang "eksistensialis". Lantas, apa yang dimaksud dengan "eksistensialisme"?

Eksistensi Mendahului Esensi

Sartre menyatakan bahwa ada dua jenis eksistensialisme, yakni eksistensialis Kristen (teistik) dan eksistensialis ateistik. Sartre menggolongkan Karl Jaspers dan Gabriel Marcel sebagai eksistensialis Kristen. Sementara itu, Sartre menggolongkan dirinya sendiri dan Martin Heidegger sebagai eksistensialis ateistik, walaupun sebenarnya Heidegger menolak menyebut dirinya sebagai eksistensialis ateistik dalam karyanya yang berjudul Lettre sur l'humanisme (1946).

Walaupun begitu, eksistensialis Kristen (teistik) dan eksistensialis ateistik sama-sama mengamini bahwa eksistensi mendahului esensi. Manusia utamanya eksis sebagai makhluk yang memproyeksikan dirinya sendiri ke dalam satu masa depan, dan dia melakukannya dengan sadar.

Sartre menyatakan bahwa manusia merupakan proyeksi yang memiliki satu eksistensi subjektif, yang berbeda dari eksistensi makhluk semacam lumut, jamur yang menyebar, atau kembang kol. Sebelum proyeksi diri itu, tidak ada apa pun yang eksis, bahkan tidak dalam inteligensi ilahiah, dan manusia akan mendapatkan eksistensi hanya ketika dia telah menjadi sosok yang dia proyeksikan—bukan semata sosok yang mana dia ingin menjadi sepertinya. Apa yang biasanya dipahami sebagai "kehendak" adalah satu keputusan sadar setelah manusia menjadikan dirinya sendiri sebagaimana adanya.

Sederhananya, manusia itu terlebih dahulu eksis. Setelah eksis, manusia akan bebas menjadi apa pun yang manusia itu mau. Manusia bebas mendefinisikan, memilih jalan hidup, membangun identitas, membangun makna, dan lain-lain untuk manusia itu sendiri. Inilah yang disebut sebagai "eksistensi mendahului esensi". Namun, Sartre juga menyatakan bahwa eksistensialisme membuat orang menjadi bertanggung jawab.

Eksistensialisme: Kebebasan yang Bertanggung Jawab

Efek pertama dari eksistensialisme, menurut Sartre, adalah membuat setiap manusia menjadi sadar akan dirinya, dan menjadikannya bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Ketika manusia bertanggung jawab atas dirinya sendiri, bukan berarti manusia bertanggung jawab hanya atas individualitasnya sendiri, melainkan bahwa dia bertanggung jawab kepada seluruh manusia.

Hal itulah yang dimaksud sebagai "humanisme eksistensialis" oleh Sartre. Sartre menambahkan bahwa ini adalah humanisme karena kaum eksistensialis juga mengingatkan manusia bahwa tidak ada legislator selain dirinya sendiri dan bahwa dia harus—dalam kondisinya yang diabaikan—membuat pilihan-pilihannya sendiri.

Lebih jauh, Sartre juga menyatakan bahwa hal tersebut bukan semata menyangkut hal-hal batiniah saja, melainkan juga pengejaran terhadap tujuan di luar dirinya sendiri dalam bentuk kebebasan atau pencapaian khusus. Melalui hal itulah manusia akan mewujudkan dirinya sendiri sebagai manusia sebenar-benarnya.

Eksistensialisme Sartrean menekankan kebebasan yang bertanggung jawab. Seorang eksistensialis memiliki kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Jika kebebasan itu dipahami secara abstrak, manusia justru akan kehilangan kemampuan untuk merasakan keberadaannya sendiri dan berisiko terjebak dalam absurditas. Oleh karena itu, seorang eksistensialis harus bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya sendiri. Bagi kaum eksistensialis, ketika manusia bertanggung jawab atas dirinya sendiri, itu artinya dia juga bertanggung jawab kepada seluruh umat manusia.