Konten dari Pengguna

Pendidikan Kemanusiaan, Sublimasi Pemikiran Ki Hadjar dan Freire

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Farhan Nugraha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pendidikan Kemanusiaan. Sumber: Dok/Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pendidikan Kemanusiaan. Sumber: Dok/Istimewa

Banyak institusi pendidikan yang ditutup untuk menghindari keramaian, akibat dampak dari pandemi global covid-19. Kemudian hampir seluruh institusi pendidikan menerapkan proses pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi digital. Pandemi covid-19 mempercepat adaptasi pendidikan Indonesia dengan pemanfaatan teknologi digital yang merupakan salah satu tantangan pendidikan abad ke 21.

Melalui tulisannya yang berjudul The World After Coronavirus , Yuval Noah Harari memprediksi kehidupan yang akan terjadi dalam sebuah dunia baru setelah pandemi. Pandemi global membuat pemerintah memiliki alasan untuk selalu mengawasi 24 jam setiap warga nya melalui sebuah kemajuan teknologi. Teknologi semakin massif mengawasi tubuh-tubuh kita.

Dalam situasi yang demikian, menurut Harari mempercepat terwujudnya suatu tatanan kehidupan manusia masa depan, atau yang lebih popular dengan istilah Homo Deus. Dalam Homo Deus, Harari mengungkapkan bahwa kehidupan masa depan adalah kecerdasan buatan yang dengan cepat akan mengambil alih sebagian besar pekerjaan manusia untuk dikerjakan dengan komputer, robot, dan mesin. Untuk menghadapi kehidupan dunia baru, Harari memberikan gagasan untuk mewujudkan kesadaran solidaritas global.

Dunia Baru

Jika boleh meminjam istilah Harari tentang dunia baru, sejak dimulai nya praktik model pembelajaran jarak jauh sepertinya pendidikan nasional telah masuk kedalam sebuah dunia baru. Argumentasi tersebut merujuk pada pemanfaatan teknologi secara massal yang menjadi media utama dalam proses pembelajaran. Tanpa melalui birokrasi yang berbelit, secara serentak seluruh lapisan pendidikan nasional melaksanakan model pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi digital. Pendidikan berbasis teknologi adalah sebuah dunia baru.

Namun dalam kenyataannya, pendidikan berbasis teknologi juga turut menggeser sekolah sebagai pusat pendidikan. Pusat pendidikan bergeser kepada keluarga dan masyarakat. Kenyataan lain yang timbul adalah ternyata model pembelajaran jarak jauh tidak begitu efektif dan efisien. 

Dalam menyongsong dunia baru yang telah terjadi hari ini, pendidikan nasional tentu perlu mengkonstruksi sebuah konsep yang harus menjawab tantangan dalam penerapan pendidikan berbasis teknologi. Dalam menjawab tantangan tersebut, konsep pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire bisa dihadirkan kembali sebagai pilihan untuk mengkonstruksi pendidikan masa depan.

Pemikiran Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara. Sumber: kumparan.com

Melalui perguruan Taman Siswa yang didirikan 3 Juli 1922 Ki Hadjar mewujudkan sebuah konsepsi pendidikan murah dan inklusif. Perguruan Taman Siswa adalah antitesa dari Ki Hadjar terhadap sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Atas berbagai sumbangsihnya terhadap pendidikan, Ki Hadjar ditetapkan sebagai "Bapak Pendidikan Nasional".

Mengenai konsep pendidikan itu sendiri, Menurut Ki Hadjar (1962: 14-15) pendidikan adalah daya-upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tubuh, dalam rangka kesempurnaan hidup dan keselarasan dengan dunianya. Dalam konteks penalaran atas konsep pemikiran tersebut, bagi Ki Hadjar pendidikan adalah upaya pemanusiaan manusia secara manusiawi, menuju kemerdekaan lahir dan batin. Melalui pendidikan, Ki Hadjar menginginkan tumbuhnya kesadaran akan pentingnya menghormati nilai-nilai kemanusiaan, baik dalam kehidupan personal maupun kehidupan sosial.

Artinya, kesadaran akan pentingnya hormat pada martabat kehidupan yang diimani sebagai takzim pada pencipta kehidupan. Di situlah dasar daya upaya memerdekakan badaniah dan batiniah dibangun. Pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai pendidikan, ialah upaya nyata untuk memerdekakan manusia secara utuh dan penuh. Baginya, pendidikan adalah pintu masuk menuju kemerdekaan lahir dan batin, baik sebagai makhluk individual maupun sebagai anggota masyarakat dan warga dunia.

Dalam konteksnya terhadap pendidikan berbasis teknologi yang menyongsong dunia baru, proses pembelajaran jarak jauh hanya memenuhi kebutuhan badaniah peserta didik, yang hanya menekankan pada pengetahuan. Proses pembelajaran jarak jauh belum menyentuh aspek batiniah seperti apa yang dimaksud Ki Hadjar. Proses pembelajaran jarak jauh mengikis aspek kepekaan sosial terhadap para peserta didik. Pembelajaran jarak jauh terkesan sebagai penggugur proses pengajaran.

Lebih jauh Ki Hadjar menafsirkan perbedaan antara pengajaran dan pendidikan. Pengajaran adalah upaya menghadapi kemiskinan dan kebodohan, atau dalam hal ini pemenuhan aspek badaniah. Sementara pendidikan adalah upaya untuk membangun umat manusia, atau disebut juga pemenuhan aspek batiniah.

Pemikiran Pendidikan Paulo Freire

Paulo Freire. Sumber: en.wikipedia.org

Paulo Freire adalah seorang tokoh filsafat pendidikan asal Brazil. Atas kontribusi nya terhadap dunia pendidikan, Freire diangkat sebagai konsultan di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Harvard. Ia juga merupakan penulis dari beberapa karya fenomenal, dua diantaranya berjudul Politik Pendidikan dan Pembebasan serta Pendidikan Kaum Tertindas.

Pemikiran Freire tentang pendidikan dapat dilihat dari kedua karya nya tersebut. Dalam Politik Pendidikan dan Pembebasan, Freire menafsirkan manusia utuh adalah yang berperan sebagai subyek, dan memiliki kemampuan kritis untuk memilih dan merubah realitas. Di sisi lain, jika seorang manusia berperan hanya sebagai obyek dan tidak merdeka atas keputusan nya sendiri, manusia tersebut hanya melakukan penyesuaian diri dalam hidupnya. Hal yang demikian, menurut Freire adalah gejala dehumanisasi.

Bisa dikatakan, Freire menjunjung bahwa manusia harus merdeka atas pilihannya sendiri. Namun, Freire tidak dengan jelas membatasi kemerdekaan seperti apa yang ia maksud. Terlebih dalam konteks kehidupan sosial bernegara dimana kemerdekaan individu harus berbenturan dengan kebijakan negara, yang oleh Michael Foucault disebut dengan relasi kuasa.

Dalam kacamata Freire melihat masyarakat, ia membaginya dalam tingkatan kesadaran masyarakat, yaitu; 1). Kesadaran Magis. Masyarakat tidak peduli dengan permasalahan diluar kebutuhan biologis nya. Cenderung menafsirkan realita kehidupan sebagai takdir dan sulit diubah. 2). Kesadaran Naif. Meski dalam tingkatan ini masyarakat sudah mulai memahami realita yang terjadi, namun cenderung menyepelekan. 3). Kesadaran Kritis. Kesadaran ini ditandai dengan kematangan masyarakat dalam menafsirkan masalah. Masyarakat berargumentasi dengan prinsip sebab akibat. Pada tingkat kesadaran ini masyarakat cenderung aktif dan menolak untuk pasif. Menurut Freire, untuk merubah kesadaran masyarakat seperti ini hanya dapat dilakukan melalui pendidikan.

Pendidikan yang diinginkan oleh Freire adalah yang dapat mempercayai individu manusia bahwa manusia tidak hanya mendapatkan masalah, tetapi juga dapat mendiskusikan masalah yang dihadapinya. Dengan demikian, pendidikan itu harus dilaksanakan dengan cinta dan kasih. Pendidikan tidak boleh membuat orang takut, takut ditertawakan, takut dihina dan lain sebagainya. Pendidikan yang dapat menumbuhkan diskusi kreatif para peserta didiknya. Pendidikan yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Tetapi menurut Freire, kemanusiaan mendapat rintangan berupa ketidakadilan, eksploitasi, penindasan, dan kekerasan dari penindas.

Pendidikan Kemanusiaan

Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire, keduanya menjadikan menjadikan pendidikan sebagai alat perjuangan. Keduanya sepakat bahwa pendidikan harus inklusif dan berorientasi memerdekakan manusia itu sendiri sebagai subyek nya. Maka bisa dikatakan bahwa „Pendidikan Kemanusiaan“ adalah titik temu yang mempertemukan narasi pemikiran pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire.

Pendidikan kemanusiaan menjadi pelengkap atas apa yang disebut oleh Ki Hadjar Dewantara sebagai sebuah proses pendidikan yang utuh. Pendidikan kemanusiaan menjadi representasi atas apa yang disebut oleh Paulo Freire sebagai pendidikan yang mengutamakan cinta dan kasih. Proses pembelajaran jarak jauh, meski berorientasi pada perkembangan ilmu pengetahuan berbasis teknologi digital, harusnya tidak meninggalkan aspek kemanusiaan.

Setidaknya dalam pendidikan kemanusiaann, terdapat tiga gagasan pokok didalm nya, yakni: 1). Inklusif. Bahwa pendidikan harus terbuka untuk semua. Menyongsong dunia baru dengan segala keterbukaan, siapapun berhak untuk beradaptasi dan mengikuti perkembangan global; 2). Moderat. Dalam upaya mewujudkan solidaritas global, pemahaman moderat atau berimbang perlu ditanamkan dalam setiap proses pembelajaran. 3). Murah. Pendidikan murah dan mudah untuk diakses semua, adalah syarat utama untuk mewujudkan sistem pendidikan nasional yang memanusiakan manusia.

Farhan Nugraha

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah

Universitas Negeri Jakarta

*Tulisan ini merupakan adaptasi dari esai berjudul "Pendidikan Kemanusiaan Menyongsong Dunia Baru: Titik Temu Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire" yang diikutsertakan dalam Lomba Esai Mahasiswa Nasional "Ramadhan Produktif Ditengah Covid" oleh Pesantren Development Project