Konten dari Pengguna

Ketika Nilai Ilahi Menuntun Dunia Digital: Kontribusi Filsafat Pendidikan Islam

Farhan Qodriyanto

Farhan Qodriyanto

Guru Pendidikan Agama Islam SMA di Surakarta, sedang melanjutkan S2 di UIN SYBER SYEH NURJATI Cirebon

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Farhan Qodriyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: keasi penulis menggunakan canva.com.                                                                     Peta konsep atau diagram filosofis yang menggambarkan hubungan harmonis antara manusia, ilmu pengetahuan, dan alam semesta.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: keasi penulis menggunakan canva.com. Peta konsep atau diagram filosofis yang menggambarkan hubungan harmonis antara manusia, ilmu pengetahuan, dan alam semesta.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan revolusi digital, dunia pendidikan menghadapi tantangan besar: bagaimana menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual. Transformasi digital telah mengubah cara kita belajar, berkomunikasi, dan bekerja. Namun, di balik kemudahan akses informasi dan percepatan ilmu pengetahuan, muncul pula persoalan etika, degradasi moral, serta krisis identitas yang kian mengkhawatirkan. Dalam situasi inilah filsafat pendidikan Islam tampil sebagai panduan yang menuntun manusia untuk tetap berpijak pada nilai-nilai Ilahi ketika melangkah di dunia yang serba digital.Filsafat Pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan pendidikan kontemporer yang ditandai oleh globalisasi, perkembangan teknologi digital, dan krisis nilai. Sebagai cabang filsafat yang berakar pada Al-Qur’an, Hadis, dan tradisi intelektual Islam, filsafat pendidikan Islam tidak hanya memberikan kerangka konseptual bagi penyelenggaraan pendidikan, tetapi juga menghadirkan panduan praktis yang relevan untuk membentuk manusia seutuhnya. Dalam konteks ini, filsafat pendidikan Islam bukan sekadar teori pendidikan berbasis agama, melainkan kerangka berpikir yang menyeluruh tentang hakikat manusia, tujuan hidup, dan cara memperoleh pengetahuan.(Ilham, 2020). Filsafat ini menggabungkan tiga dimensi penting—ontologi, epistemologi, dan aksiologi—yang bersama-sama membentuk fondasi pendidikan yang holistik. Dalam konteks digital, ketiga dimensi ini memberi arah agar proses pendidikan tidak hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kesadaran spiritual.

Sumber: keasi penulis menggunakan canva.com. Keseluruhan gambar menyiratkan pesan tentang cahaya ilmu, keindahan ibadah, serta pentingnya belajar dan mendalami ajaran agama dengan hati yang tulus.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: keasi penulis menggunakan canva.com. Keseluruhan gambar menyiratkan pesan tentang cahaya ilmu, keindahan ibadah, serta pentingnya belajar dan mendalami ajaran agama dengan hati yang tulus.

Tataran Ontologis

Di tengah arus globalisasi yang seringkali mendorong sekularisasi dan relativisme nilai, konsep ontologis ini menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya proses transfer ilmu, tetapi juga pembentukan identitas spiritual dan moral. Hal ini sejalan dengan pandangan Alipia et al. (2025) yang menekankan pentingnya pendidikan Islam dalam membentuk insan kamil—manusia yang mampu mengintegrasikan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. (Andri Alipia et al., 2025). Konsep pendidikan ber-Islam, ber-Iman, dan ber-Ihsan (Ilham, 2020) menegaskan bahwa pendidikan sejati harus menuntun peserta didik untuk mengenal dan mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh, menanamkan keimanan kepada Allah, dan menumbuhkan kesadaran ihsan—merasa selalu diawasi oleh Tuhan. Di era digital, kesadaran ini menjadi benteng penting agar kemajuan teknologi tidak menjerumuskan generasi muda pada hedonisme, disinformasi, atau penyalahgunaan media sosial.

Tataran Epistemologi

Pada tataran epistemologis, filsafat pendidikan Islam menawarkan kerangka metodologis yang relevan untuk merespons perubahan zaman. Sistem pendidikan Islam, yang mencakup tujuan, kurikulum, metode, peran guru, dan pendekatan pembelajaran, menekankan keterpaduan antara ilmu agama dan ilmu dunia. Prinsip integrasi ini sangat penting dalam pendidikan kontemporer yang sering kali terjebak dalam dikotomi ilmu pengetahuan. Misalnya, perkembangan teknologi informasi menuntut peserta didik untuk menguasai literasi digital, tetapi filsafat pendidikan Islam memastikan bahwa penguasaan teknologi tidak mengabaikan etika dan tanggung jawab sosial (Hidayat, 2016). Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam tidak menolak kemajuan, tetapi mengarahkan inovasi agar tetap sejalan dengan nilai-nilai ketuhanan. Dalam dunia digital, di mana informasi begitu melimpah dan mudah diakses, filsafat pendidikan Islam mengajarkan pentingnya filter nilai—bahwa ilmu tidak hanya dinilai dari kebenaran faktualnya, tetapi juga dari kemanfaatannya bagi kemaslahatan manusia. Literasi digital, misalnya, bukan sekadar keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan menilai informasi berdasarkan kebenaran, kejujuran, dan etika.

Tataran Aksiologis

Dimensi aksiologi menegaskan bahwa pendidikan harus memiliki nilai dan manfaat yang jelas bagi kemanusiaan, menekankan tujuan dan nilai akhir pendidikan: membentuk manusia berakhlak mulia dengan keseimbangan antara nilai Ilahiyah (ketuhanan) dan Insaniyah (kemanusiaan). Nilai Ilahiyah seperti keadilan, kasih sayang, dan kejujuran bersifat absolut dan tidak lekang oleh waktu, sedangkan nilai Insaniyah bersifat dinamis dan dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan peradaban (Ilham, 2020). Dalam konteks digital, kedua nilai ini menjadi pedoman agar teknologi digunakan untuk kebaikan, bukan untuk merusak tatanan sosial atau menyesatkan manusia.Dalam konteks pendidikan kontemporer, pemahaman aksiologis ini dapat menjadi landasan untuk menanamkan kesadaran etis, toleransi, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat yang semakin plural dan kompleks. Nilai-nilai ini sejalan dengan prinsip pendidikan karakter yang kini menjadi fokus kebijakan pendidikan di banyak negara.

KONTRIBUSI FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

Kontribusi filsafat pendidikan Islam juga terlihat pada kemampuannya membangun kesadaran kritis terhadap problematika modern seperti materialisme, individualisme, dan krisis lingkungan. Pendidikan Islam yang berbasis filsafat mendorong peserta didik untuk tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga peduli terhadap kemanusiaan dan lingkungan. Hal ini relevan dengan gagasan Paulo Freire tentang pendidikan kritis, di mana peserta didik dilatih untuk menjadi agen perubahan sosial, bukan sekadar penerima pengetahuan (Freire P, 2018). Dalam hal ini, filsafat pendidikan Islam dapat dipandang sebagai model pendidikan kritis yang berakar pada wahyu, namun terbuka pada dialog dengan teori-teori modern.

Di era disrupsi teknologi, filsafat pendidikan Islam juga berperan sebagai benteng moral bagi generasi muda. Integrasi nilai tauhid, akhlak, dan keilmuan menjadi filter penting agar peserta didik tidak hanya mahir memanfaatkan teknologi, tetapi juga bijak dalam menggunakannya. Sebagaimana ditegaskan Alipia et al. (2025), filsafat pendidikan Islam memandu pengembangan kurikulum yang adaptif dan inovatif tanpa kehilangan identitas keislaman. Hal ini sangat penting mengingat pendidikan kontemporer sering dihadapkan pada dilema antara kebutuhan pasar kerja dan pembentukan karakter.

Dengan demikian, kontribusi filsafat pendidikan Islam terhadap pendidikan kontemporer tidak dapat diabaikan. Ia memberikan arah filosofis, metodologis, dan etis bagi penyelenggaraan pendidikan yang holistik. Di satu sisi, filsafat pendidikan Islam mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi; di sisi lain, ia menjaga agar kemajuan tersebut tidak mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Pendidikan kontemporer yang memadukan nilai-nilai Islam dan tantangan modern diharapkan mampu melahirkan generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia—generasi yang siap menghadapi kompleksitas dunia global dengan integritas moral yang kokoh. Generasi ini bukan hanya pengguna teknologi yang mahir, tetapi juga agen perubahan sosial yang bijak dan beretika. Dalam praktiknya, guru dan lembaga pendidikan perlu mengintegrasikan prinsip-prinsip filsafat Islam ke dalam kurikulum modern, seperti menanamkan nilai kejujuran dalam penggunaan internet, mengajarkan etika komunikasi daring, dan mengembangkan kesadaran lingkungan melalui teknologi.

Di era kecerdasan buatan, big data, dan realitas virtual, filsafat pendidikan Islam memberikan kompas moral yang menuntun dunia digital agar tetap humanis dan berkeadilan. Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi hanyalah sarana, bukan tujuan akhir. Tujuan sejati pendidikan adalah membentuk manusia yang mengenal Tuhannya, memanfaatkan ilmu untuk kemaslahatan, dan menjaga keharmonisan antara diri, masyarakat, dan alam. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai Ilahi dalam pendidikan kontemporer, filsafat pendidikan Islam memastikan bahwa dunia digital tetap menjadi ruang yang memuliakan kemanusiaan, bukan mereduksinya.

(By Farhan Qodriyanto)

Referensi

Andri Alipia, Dinda Siti Handayani, Dyah Islamika Mahdarani, & Etika Pujianti. (2025). Filsafat Pendidikan Islam dan Relevansinya terhadap Pendidikan Islam Kontemporer. Jurnal Pengabdian Masyarakat Dan Riset Pendidikan, 3(4), 724–731. https://doi.org/10.31004/jerkin.v3i4.497

Freire P. (2018). Pedagogy of the oppressed. Bloomsbury Publishing USA.

Hidayat, R. (2016). 104-194-1-Sm. Sistem, Kurikulum, Pembaharuan, Dan Upaya Membangun Epistemologi Pendidikan Islam, I(1), 49–69. https://jurnal.dharmawangsa.ac.id/index.php/almufida/article/view/104

Ilham, D. (2020). Persoalan-Persoalan Pendidikan dalam Kajian Filsafat Pendidikan Islam. Didaktika, 9(2). https://jurnaldidaktika.org/179