Konten dari Pengguna

Fenomena Tren S-Line di Kalangan Pelajar, Ketika Gaya Menjadi Identitas

Muhammad Farhanudin

Muhammad Farhanudin

Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Surabaya

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Farhanudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.canva.com/design/DAGtlP9swX8/-k81tQh7j6sEWu6hydDZVQ/edit
zoom-in-whitePerbesar
https://www.canva.com/design/DAGtlP9swX8/-k81tQh7j6sEWu6hydDZVQ/edit

Media sosial telah menjadi ruang utama bagi generasi muda dalam mengekspresikan diri. Sebagai seorang generasi muda tentunya kalau tidak mengikuti sebuah tren yang sedang viral rasanya tidak keren, Takut ketinggalan (FOMO) dan alih-alih hanya untuk meningkatkan eksistensi diri dan ingin merasa dirinya dikenal oleh publik.

Di tengah derasnya arus tren digital, hadir suatu fenomena baru yang menyita banyak perhatian public yaitu: tren S-Line. Gaya berpose yang menonjolkan lekuk tubuh menyerupai huruf “S” ini kini menjalar dari kalangan selebritas hingga ke pelajar usia belia. disisi lain juga orang yang menggabadaikan fotonya dengan gaya coretan garis merah diatas kepala menadakan orang yang pernah diajak untuk berhubungan badan. konsep ini tentunya memperlihatkan sisi buruk dan rahasia manusia yang disembunyikan dari kehidupan sosial.

Pertanyaannya, Apakah tren ini sekadar gaya foto kekinian, atau ada dampak sosial yang lebih dalam?

Simbol Ekspresi atau Tuntutan Eksistensi?

Di satu sisi, S-Line bisa dilihat sebagai bentuk ekspresi diri, bagian dari kreativitas visual dalam berswafoto. Namun, dalam dunia remaja yang masih membentuk identitas diri, tren ini bisa bermetamorfosis menjadi tuntutan eksistensi. Remaja belajar bahwa “pose tertentu” akan mendatangkan lebih banyak like dan komentar. Dari sanalah muncul keinginan untuk menyesuaikan diri, bahkan memaksa tubuh dan penampilan agar sesuai standar viral.

Sekolah dan Orang Tua, Apa Perannya?

Sekolah dan orang tua tidak bisa menutup mata. Dunia digital bukan dunia asing bagi anak-anak kita, tapi dunia nyata kedua mereka. Maka, sangat diperlukan pendidikan literasi digital dan etika bermedia sosial untuk mendapat tempat dalam kurikulum dan komunikasi rumah.

Alih-alih melarang atau menyalahkan, pendekatan dialog dan empati jauh lebih penting. Tanyakan, apa yang mereka cari dari tren ini? Apa makna di balik setiap unggahan? Dari sana, kita bisa membentuk generasi yang tidak hanya mahir bersosial media, tapi juga tangguh secara mental dan bijak dalam bersikap.

Refleksi: Siapa Kita Tanpa Validasi Digit

al?

Fenomena S-Line membawa kita pada refleksi yang lebih dalam: di era serba visual ini, bagaimana kita membentuk identitas tanpa harus tunduk pada standar media? Apakah keindahan hanya ditentukan oleh bentuk tubuh dan pose? Atau ada ruang bagi kecerdasan, kebaikan, dan kreativitas untuk ikut menjadi bagian dari definisi “menarik”?

Seharunya sebagai seorang generasi muda harus lebih teliti lagi maksud dari tren tersebut seperti apa? apalagi seorang generasi muda yang sudah paham perkembangan teknlogi harus melek akan hal tersebut tidak hanya sekedar ikut-ikutan saja.

“Tren akan selalu datang dan pergi. Namun, yang perlu dijaga adalah karakter dan nilai yang tertanam dalam diri pelajar. Biarkan mereka tumbuh di dunia digital, tapi pastikan mereka tak kehilangan jati diri. Karena pada akhirnya, yang viral belum tentu bernilai, dan yang bernilai tidak selalu harus viral”.