Konten dari Pengguna

Menjelang Senja: Tentang Hidup, Kehilangan, dan Waktu yang Berlalu

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Athifah Farhana Luthfiah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi senja yang menggambarkan suasana perenungan dan kesunyian yang dialami tokoh dalam cerpen. Sumber: pixabay. https://pixabay.com/images/download/julianshen-sunset-9280759_1920.jpg
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi senja yang menggambarkan suasana perenungan dan kesunyian yang dialami tokoh dalam cerpen. Sumber: pixabay. https://pixabay.com/images/download/julianshen-sunset-9280759_1920.jpg

Ada pertanyaan yang mungkin pernah muncul dalam kehidupan manusia: apa yang tersisa ketika usia terus bertambah dan orang-orang yang pernah hadir satu per satu meninggalkan kita? Pertanyaan tersebut tergambar dalam cerpen “Hening di Ujung Senja” karya Wilson Nadeak. Cerpen ini mengisahkan seorang tokoh yang berada pada fase senja kehidupannya dan dipenuhi berbagai perenungan mengenai kesepian, kehilangan, serta kedekatan dengan kematian. Oleh karna itu, pergulatan batin tokoh tersebut, dapat di pahami melalui berbagai peristiwa yang membentuk kesadarannya terhadap kehidupan dan kematian. Sebab itu, cerpen ini menarik untuk dikaji menggunakan konsep pergulatan batin. Analisis dilakukan dengan pendekatan objektif yang berfokus pada unsur-unsur yang ada dalam teks untun mengungkap bagaimana tokoh menghadapi kesepian, kesadaran akan kematian, serta pencarian makna hidup.

Kesepian dan Kehilangan di Usia Senja

Tokoh Rendi dalam cerpen menunjukan pergulatan batin melalui pengalaman kehilangan dan kesepian yang dialaminya setelah kematian sang istri. Meski tinggal di tengah kehidupan kota yang ramai, Rendi tetap merasakan kehampaan dalam hidupnya. Ini terlihat dalam kutipan

“Sepi merundung hidupnya, di tengah keramaian kota dan keheningan pagi dan senja, membuatnya resah”

Kutipan ini menunjukan bahwa kesepian yang dialami Rendi bukan hanya konflik secara fisik, tetapi juga kegelisahan batin yang muncul akibat kehilangan istrinya.

Menurut Burhan Nurgiyantoro, konflik internal atau konflik kejiwaan adalah konflik yang terjadi dalam hati dan jiwa tokoh yang muncul akibat pertentangan antara dua keinginan, keyakinan, pilihan, harapan, atau masalah lain yang dialami tokoh. Konflik ini merupakan bentuk permasalahan yang terjadi dalam tokoh sehingga menimbulkan pergulatan batin.

Ketika Kematian Menjadi Kabar yang Berulang

Yang menarik dari cerpen ini adalah hadirnya kabar kematian yang datang silih berganti, Ketika tokoh utama menyaksikan satu per satu orang-orang di sekelilingnya pergi meninggal dunia dan menerima berbagai kabar duka, seperti

“Tunggul sudah tiada, pada usia yang ke-67”

“Lusiana baru saja meninggal dunia, Tutup usia menjelang ulang tahun ke-61”

“Ibu Maria menyusul suaminya yang sudah bertahun-tahun meninggal dunia, dalam usianya yang ke-72”

Kutipan ini menunjukan kematian itu hadir secara sederhana, tetapi meninggalkan kesan yang kuat. Melalui peristiwa tersebut pembaca ikut merasakan bahwa usia senja bukan hanya tentang kenangan, tetapi juga tentang kesadaran bahwa waktu yang dimiliki semakin terbatas

Makna Hidup di Ujung Senja

“Aku bertanya-tanya kepada diriku, jejak mana yang sudah kutoreh dalam hidup ini, dan jejak-jejak apakah yang bermakna sebelum tiba giliranku?”

Kutipan ini menggambarkan kebingungan dan keresahan tokoh utama saat menilai kembali perjalanan hidupnya di usia senja. Berbagai kehilangan yang dialaminya membuat ia menyadari bahwa hidup memiliki batas, karna itu mendorong tokoh utama untuk merenungkan jejak apa yang telah ditinggalkan selama ini. Senja tidak hanya dimaknai sebagai waktu menjelang malam, tetapi juga menjadi simbol dari tahap akhir kehidupan manusia.

“Aku terpekur.”

“Hening di ujung senja.”

Kutipan ini merupakan akhiran paling berkesan dalan cerpen ini. Karna pada akhirnya, Hening di Ujung Senja bukan sekadar cerita tentang kematian dan kehilangan. Nurgiyantoro menjelaskan bahwa moral dalam karya sastra dapat dipandang sebagai amanat atau pesan yang disampaikan pengarang kepada pembaca melalui cerita dan tokoh-tokohnya. Cerpen ini mengajak pembaca untuk menyadari bahwa waktu terus berjalan dan kehidupan memiliki batas yang tidak dapat dihindari. Melalui tokoh-tokohnya, Wilson Nadeak berhasil menunjukkan bahwa kesadaran akan kematian justru dapat menjadi jalan untuk memahami makna hidup dengan lebih dalam.

Di tengah kesibukan yang sering membuat manusia lupa berhenti, cerpen ini mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan dan mengejar waktu, tetapi juga sebagai pengingat bahwa waktu adalah amanah yang tidak bisa di sia-siakan. Sebab pada akhirnya, setiap orang akan sampai pada "ujung senja" nya masing-masing.

Daftar Pustaka

Nadeak, Wilson. 2012. Hening di Ujung Senja. Cerpen Kompas.id.

Nurgiyantoro, Burhan. 2018. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.