Konten dari Pengguna

Kalimat yang Perlu Lebih Banyak Didengarkan

Farhanah Fitria Mustari

Farhanah Fitria Mustariverified-green

Managing Director Yayasan Teman Saling Berbagi II Membuat hidup #MenjadiLebihBermakna bersama Yayasan Teman Saling Berbagi II Berbagi pesan kebaikan tentang hidup yang #SalingBukanSilang.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Farhanah Fitria Mustari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto oleh Tairon Fernandez: https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-yang-memegang-lighted-sparkler-450301/
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Tairon Fernandez: https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-yang-memegang-lighted-sparkler-450301/

Selamat tahun 2023! Setelah melewati 12 bulan di tahun sebelumnya dengan suka & duka, pada akhirnya kita bertemu dengan awal yang baru. Meskipun, setiap pagi setelah malam selalu menjadi siklus alam yang tak pernah berubah. Lantas, apa yang menjadi beda? Intensi & persepsi yang dicurahkan. Pasalnya, tahun baru merupakan standar yang ditetapkan oleh sekumpulan manusia untuk memberi batasan. Kendati demikian, di luar ikatan konstruksi sosial tertentu manusia selalu punya kendali terhadap dirinya. Khususnya dalam memandang konteks apapun.

Salah satu cara untuk memahami diri adalah dengan memperhatikan reaksi. Pertama-tama, apakah kita ketakutan menyambut tahun baru disebabkan oleh masa depan yang tak pasti? Ataukah, apakah kita bersemangat menyambut harapan laksana pagi yang selalu menjadi titik patuhnya?

Reaksi yang dipilih memberikan kode pada diri bahwa ada yang perlu dihilangkan dan dipertahankan. Terus terang, ini tentang keadaan yang membingungkan sekaligus mendebarkan seolah membuat skenario cerita haru & menarik dalam hidup. Bagaimanapun juga, skenario dengan akhir yang membahagiakan perlu dirancang selama setahun kedepan.

Selayaknya sebuah series yang perlu ada monolog hingga dialog. Dalam merayakan awal tahun, ada beberapa rekomendasi kalimat yang sepatutnya perlu lebih banyak didengar:

  1. "Hai diri, sesungguhnya kamu lebih besar dari masalahmu"

Monolog pada diri sendiri sambil menguatkan adalah bahan bakar untuk menyongsong hari demi hari. Tak ayal, manusia dilahirkan dengan seperangkat tantangan. Apapun situasi & kondisi yang akan terjadi, selalu yakin bahwa Tuhan tidak akan pernah membebankan suatu masalah di luar kendalinya. Percayalah itu.

  1. "Aku rindu kamu"

Kita sudah belajar banyak dari pandemi yang berjarak dari segi waktu hingga ruh. Bukankah ini menjadi pembelajaran bahwa terlambat untuk berkata sayang selalu menjadi buah penyesalan? Dua tahun pandemi menegaskan banyak hal, salah satunya adalah beratnya rindu yang tak pernah dihangatkan pertemuan. Banyak cara untuk mengungkapkanya, yang pasti kita hanya perlu jujur. Bahwa, kangen bukanlah tabu. Jadi, bayangkan jika pemeran utama dalam series kehidupan berani lugas untuk bilang: Aku kangen kamu, karena kamu berarti untuk hidupku. Hangat, rasanya!

  1. "Maafkan aku ya"

Maaf sebelum orang lain meminta maaf, atau tak berharap orang lain minta maaf lebih melegakan dibandingkan menunggu pengharapan. Pastinya kita selalu ada kekeliruan yang tak bertepi. Selayaknya, manusia yang dilahirkan tak sempurna. Memaafkan adalah prinsip mencintai lebih baik. Setidaknya, ini bermanfaat bagi diri sendiri. Dalam adegan series, selalu ditunggu momen pemeran utama mengucapkan maaf dan menerimanya. Seakan-akan kita sudah menyadari bahwa klimaks ini lekas menurun.

  1. "Kamu sudah makan? Apakah mau aku temani makan?"

Klise memang dalam relasi romantis selalu ditanya perkara makan. Realita tanpa perlu diingatkan, nafsu lapar lebih dahulu berbunyi. Namun, dibalik hal-hal yang standar selalu menyimpan kerinduan. Jelas, kita mudah rindu dengan hal yang sudah menjadi umum. Dari ucapan terima kasih, sapaan pagi, hingga pertanyaan yang sederhana. Ekspresi simpati yang membuat kita terharu karena bukan tentang makanan yang disajikan, tetapi dengan siapa kita makan dan siapa yang mengingatkan.

  1. "Terima kasih ya, karena kamu....."

Bayangkan sebuah aktor yang beradegan di stasiun atau bandara hendaknya menunggu atau melepas seseorang. Bahasa tubuh yang ditampilkan selalu berbicara satu hal: keberadaanmu sungguh bermakna. Jelas sekali, apresiasi adalah tentang menyadari bahwa keberadaan orang tersebut begitu penting. Saking pentingnya, lisan seperti dibalut es batu yang kelu. Kalau saja kita punya kekuatan untuk mendengar isi hati yang paling jujur seseorang, mungkin langkah tak berat. Nyatanya, kita tidak bisa melakukan itu selain diutarakan. Baiklah, 2023 lebih banyak bilang terima kasih sembari menatap orang tersebut dengan hangat.

Dari pelajaran di tahun-tahun sebelumnya, kita menjadi tahu bahwa apa yang paling berarti adalah bagaimana kita mengisi waktu. Bukan tentang jumlah 'episode' kehidupan, melainkan kemasan cerita yang bermakna.

Selamat tahun baru 2023. Mari perbanyak skenario hidup yang manis dan mengundang tawa. Sehingga, kita sanggup jatuh cinta berkali-kali pada hidup.