Konten dari Pengguna

Gen Z Mulai Meninggalkan Gaya Hidup Serba Cepat, Apa Alasannya?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Farhat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar : Dihasilkan menggunakan AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar : Dihasilkan menggunakan AI

Jakarta — Bagi sebagian generasi sebelumnya, hidup yang sibuk sering dianggap sebagai tanda keberhasilan. Bekerja keras, mengejar karier, memiliki banyak aktivitas, hingga terus meningkatkan pencapaian menjadi bagian dari gambaran kehidupan yang sukses.

Namun, cara pandang tersebut perlahan mengalami perubahan.

Di tengah kehidupan yang semakin cepat, sebagian anak muda dari Generasi Z justru mulai mencari sesuatu yang berbeda: waktu yang lebih fleksibel, pekerjaan yang tetap memberikan ruang untuk kehidupan pribadi, hubungan yang lebih bermakna, serta kesempatan untuk menikmati hidup tanpa harus selalu terburu-buru.

Bukan berarti Gen Z tidak memiliki ambisi. Mereka hanya mulai mempertanyakan apakah kesuksesan harus selalu dibayar dengan kehidupan yang penuh tekanan dan kesibukan.

Ketika Sibuk Tak Lagi Dianggap Sebagai Pencapaian

Dunia kerja dan kehidupan sosial saat ini membuat seseorang mudah merasa harus selalu produktif.

Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, pesan yang perlu dibalas, media sosial yang terus diperbarui, serta berbagai tren yang seolah tidak pernah berhenti.

Dalam situasi seperti ini, waktu luang justru menjadi sesuatu yang semakin berharga.

Bagi sebagian Gen Z, memiliki jadwal yang tidak terlalu padat bukan berarti tidak produktif. Ada nilai tersendiri dalam memiliki waktu untuk beristirahat, menjalani hobi, bertemu orang terdekat, atau sekadar menikmati waktu tanpa agenda.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa produktivitas mulai dipandang bukan hanya dari seberapa banyak aktivitas yang berhasil dilakukan, tetapi juga dari bagaimana seseorang menjaga keseimbangan dalam menjalani kehidupan.

Karier Tetap Penting, tetapi Bukan Segalanya

Gen Z tetap membutuhkan pekerjaan dan penghasilan. Namun, pekerjaan tidak selalu ditempatkan sebagai satu-satunya pusat kehidupan.

Munculnya pembicaraan mengenai work-life balance menunjukkan adanya kebutuhan untuk membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Bagi sebagian anak muda, pekerjaan ideal bukan hanya pekerjaan dengan gaji yang baik. Lingkungan kerja, fleksibilitas, kesempatan berkembang, budaya perusahaan, serta waktu untuk kehidupan pribadi juga menjadi pertimbangan.

Hal tersebut membuat definisi pekerjaan yang “bagus” menjadi lebih luas.

Karier tetap dapat menjadi bagian penting dalam hidup, tetapi tidak harus mengambil seluruh ruang yang tersedia.

Pengalaman Mulai Dianggap Lebih Berarti

Perubahan gaya hidup juga terlihat dari cara anak muda menggunakan waktu dan uang.

Memiliki barang baru tentu tetap menyenangkan. Namun, bagi sebagian orang, pengalaman seperti perjalanan, mencoba kegiatan baru, menghadiri konser, mengikuti kelas, atau menghabiskan waktu bersama teman dapat memberikan kepuasan yang berbeda.

Pengalaman juga sering kali berkaitan dengan kenangan.

Karena itu, muncul kecenderungan untuk mempertimbangkan kembali sebelum membeli sesuatu. Bukan berarti menjadi anti-belanja, tetapi lebih selektif dalam menentukan apa yang benar-benar memberikan manfaat atau kesenangan.

Di sinilah konsep hidup sederhana, mindful spending, hingga frugal living dapat bertemu dengan gaya hidup generasi muda.

Media Sosial Mengubah Cara Melihat Kehidupan

Ironisnya, generasi yang tumbuh bersama teknologi juga menjadi generasi yang semakin menyadari kelelahan akibat dunia digital.

Media sosial memberikan akses tanpa batas terhadap kehidupan orang lain. Setiap hari seseorang dapat melihat pencapaian teman, perjalanan orang lain, gaya berpakaian, pekerjaan impian, hingga kehidupan yang terlihat sempurna.

Jika tidak disadari, hal tersebut dapat menciptakan perasaan tertinggal.

Keinginan untuk selalu mengikuti tren bisa berubah menjadi tekanan untuk memiliki kehidupan yang sama dengan apa yang terlihat di layar.

Karena itu, sebagian anak muda mulai mencari batas. Mengurangi waktu di media sosial, melakukan digital detox, atau sekadar tidak mengikuti semua tren menjadi cara untuk mengembalikan perhatian kepada kehidupan sendiri.

Dari FOMO ke JOMO

Salah satu istilah yang menarik dalam perubahan gaya hidup ini adalah JOMO, atau Joy of Missing Out.

Jika FOMO (Fear of Missing Out) menggambarkan rasa takut tertinggal dari sesuatu yang sedang dilakukan orang lain, JOMO justru menawarkan perspektif sebaliknya: tidak ikut dalam segala hal juga tidak masalah.

Tidak menghadiri semua acara bukan berarti kehilangan pertemanan.

Tidak mengikuti semua tren bukan berarti ketinggalan zaman.

Tidak selalu aktif di media sosial juga bukan berarti tidak memiliki kehidupan.

Bagi sebagian anak muda, kemampuan mengatakan “tidak” justru menjadi bentuk kebebasan.

Pertemanan yang Lebih Sedikit, tetapi Bermakna

Perubahan juga dapat dilihat dalam cara sebagian Gen Z memandang hubungan sosial.

Memiliki banyak teman mungkin terlihat menarik, tetapi jumlah bukan satu-satunya ukuran kualitas hubungan.

Ada kecenderungan untuk lebih menghargai hubungan yang memberikan rasa nyaman, aman, dan saling mendukung.

Menghabiskan waktu dengan beberapa orang terdekat terkadang terasa lebih bermakna dibandingkan berada di tengah banyak orang tetapi tidak benar-benar terhubung.

Bukan berarti Gen Z tidak suka bersosialisasi. Hanya saja, kualitas interaksi mulai menjadi pertimbangan penting.

Hidup Tenang Menjadi Bentuk Kemewahan Baru

Di tengah kehidupan yang penuh notifikasi dan tuntutan, hidup tenang perlahan menjadi sesuatu yang berharga.

Bangun tanpa terburu-buru, menikmati sarapan, memiliki waktu untuk keluarga, menyelesaikan pekerjaan tanpa harus terus lembur, atau bisa tidur dengan pikiran yang lebih tenang merupakan hal sederhana yang mungkin sebelumnya dianggap biasa.

Kini, hal-hal tersebut justru bisa terasa seperti kemewahan.

Tren seperti slow living, quiet life, dan digital detox menunjukkan adanya keinginan untuk menciptakan ritme kehidupan yang lebih manusiawi.

Namun, bukan berarti semua Gen Z ingin menjalani kehidupan yang sama. Setiap orang tetap memiliki kebutuhan dan prioritas berbeda.

Bukan Menolak Ambisi, tetapi Memilih Prioritas

Perubahan gaya hidup Gen Z sebaiknya tidak dilihat sebagai penolakan terhadap kerja keras atau ambisi.

Banyak anak muda tetap memiliki target besar dalam pendidikan, pekerjaan, bisnis, dan kehidupan pribadi.

Yang berubah adalah cara mereka menentukan apa yang layak diperjuangkan.

Kesuksesan mungkin tidak lagi hanya diukur dari jabatan, penghasilan, atau jumlah pencapaian. Memiliki waktu untuk orang terdekat, kesehatan yang terjaga, pekerjaan yang sesuai dengan nilai pribadi, dan kehidupan yang terasa bermakna juga dapat menjadi bagian dari definisi sukses.

Dengan begitu, ambisi dan keseimbangan sebenarnya tidak harus saling bertentangan.

Setiap Orang Punya Kecepatan Sendiri

Pada akhirnya, tidak ada satu formula yang cocok untuk seluruh Gen Z.

Ada yang nyaman mengejar karier dengan cepat. Ada yang memilih bekerja secara fleksibel. Ada yang ingin membangun bisnis sendiri. Ada pula yang lebih mengutamakan kehidupan sederhana.

Yang berubah adalah semakin terbukanya pilihan mengenai bagaimana seseorang ingin menjalani hidup.

Di tengah dunia yang terus mendorong manusia untuk bergerak lebih cepat, kemampuan menentukan ritme sendiri mungkin menjadi salah satu bentuk kebebasan.

Gen Z tidak sedang meninggalkan ambisi. Mereka mungkin hanya sedang mencari cara agar ambisi tersebut tidak membuat kehidupan terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir.

Sebab, pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang seberapa cepat seseorang mencapai tujuan, tetapi juga tentang apakah ia masih punya waktu untuk menikmati perjalanan menuju ke sana.