Konten dari Pengguna

“Slow Living” Makin Diminati, Benarkah Hidup Lebih Bahagia?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Farhat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Dihasilkan menggunakan AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Dihasilkan menggunakan AI

Jakarta — Bangun pagi, terburu-buru berangkat kerja, mengejar tenggat waktu, membalas pesan, membuka media sosial, lalu mengulang rutinitas yang sama keesokan harinya. Bagi banyak orang, hidup seolah tidak pernah benar-benar memiliki tombol jeda.

Di tengah ritme kehidupan yang serba cepat, muncul keinginan untuk menjalani hari dengan cara berbeda. Tidak selalu mengejar produktivitas, tidak merasa harus melakukan banyak hal sekaligus, dan mulai memberikan waktu untuk menikmati aktivitas sederhana.

Dari sinilah konsep slow living semakin menarik perhatian.

Slow living bukan berarti menjadi lambat dalam segala hal atau meninggalkan pekerjaan dan tanggung jawab. Gaya hidup ini lebih berkaitan dengan kesadaran untuk menjalani sesuatu dengan lebih hadir, menentukan prioritas, dan tidak membiarkan kesibukan mengambil seluruh waktu yang dimiliki.

Lalu, benarkah hidup yang lebih pelan bisa membuat seseorang lebih bahagia?

Bukan Berarti Berhenti Produktif

Salah satu kesalahpahaman mengenai slow living adalah anggapan bahwa orang yang menerapkannya tidak ingin bekerja keras atau mengejar pencapaian.

Padahal, slow living tidak identik dengan kemalasan.

Seseorang tetap dapat memiliki target karier, mengembangkan usaha, menyelesaikan pekerjaan, dan mengejar impian. Perbedaannya terletak pada bagaimana seseorang mengatur energi dan memberikan perhatian terhadap hal-hal yang dianggap penting.

Alih-alih memenuhi jadwal dengan sebanyak mungkin aktivitas, konsep ini mengajak seseorang bertanya: Apa yang benar-benar penting untuk saya lakukan hari ini?

Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu seseorang membedakan antara kesibukan dan aktivitas yang memang memiliki tujuan.

Ketika Kesibukan Menjadi Kebiasaan

Dalam kehidupan modern, sibuk terkadang dianggap sebagai tanda produktif.

Jadwal yang penuh, banyak pekerjaan, berbagai kegiatan, dan selalu memiliki sesuatu untuk dikerjakan bisa membuat seseorang merasa dirinya sedang berkembang.

Namun, kesibukan tidak selalu berarti produktivitas.

Ada kalanya seseorang berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain tanpa memiliki waktu untuk beristirahat atau menikmati apa yang sedang dilakukan. Akibatnya, hari terasa berlalu begitu saja.

Slow living mencoba melihat persoalan tersebut dari sudut pandang berbeda. Tidak semua waktu harus diisi.

Ada kalanya menikmati sarapan tanpa terburu-buru, berjalan kaki, membaca buku, memasak, berbincang dengan keluarga, atau sekadar duduk menikmati suasana rumah juga memiliki nilai.

Menikmati Hal-Hal yang Sering Terlewat

Kehidupan yang terlalu cepat membuat banyak aktivitas sederhana dilakukan secara otomatis.

Sarapan dilakukan sambil memeriksa ponsel. Makan siang sambil bekerja. Berkumpul bersama teman tetapi masing-masing sibuk dengan layar.

Slow living mengajak seseorang kembali memperhatikan aktivitas yang sedang dijalani.

Ketika makan, misalnya, seseorang bisa mencoba benar-benar menikmati makanan tanpa terganggu notifikasi. Ketika berbicara dengan orang lain, perhatian diberikan kepada percakapan, bukan kepada layar ponsel.

Kebiasaan seperti ini mungkin terlihat sepele. Namun, memberikan perhatian penuh terhadap satu aktivitas dapat membuat seseorang lebih menghargai waktu yang sedang dijalani.

Tidak Harus Pindah ke Desa

Gambaran slow living di media sosial sering kali identik dengan rumah yang tenang, kebun, suasana pedesaan, secangkir kopi, dan kehidupan jauh dari hiruk-pikuk kota.

Padahal, menerapkan slow living tidak mengharuskan seseorang pindah ke tempat yang jauh.

Orang yang tinggal di tengah kota tetap bisa menerapkannya dengan cara sederhana.

Misalnya, mengurangi jadwal yang terlalu padat, menyediakan waktu tanpa gawai, memasak sendiri, menikmati akhir pekan tanpa terlalu banyak agenda, atau memberikan waktu khusus untuk melakukan hobi.

Intinya bukan pada tempat tinggal, melainkan pada cara seseorang menjalani kehidupannya.

Mengurangi Kebiasaan Selalu Terhubung

Teknologi membuat manusia dapat terus terhubung kapan saja. Pesan pekerjaan dapat masuk di luar jam kerja, media sosial menyediakan informasi tanpa henti, sementara berbagai aplikasi membuat kita selalu memiliki sesuatu untuk diperiksa.

Kondisi tersebut membuat batas antara waktu bekerja dan waktu pribadi menjadi semakin tipis.

Slow living dapat menjadi salah satu cara untuk menciptakan batas tersebut.

Bukan berarti harus meninggalkan teknologi sepenuhnya. Cukup dengan menentukan waktu tertentu untuk tidak membuka ponsel, mematikan notifikasi yang tidak penting, atau menyimpan perangkat ketika sedang bersama orang terdekat.

Dengan begitu, perhatian tidak terus-menerus berpindah dari satu informasi ke informasi lainnya.

Apakah Slow Living Otomatis Membuat Bahagia?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Slow living bukan formula yang otomatis membuat seseorang bahagia. Setiap orang memiliki kondisi, kebutuhan, pekerjaan, dan persoalan yang berbeda.

Bagi sebagian orang, hidup yang lebih teratur dan tidak terlalu padat mungkin membuat hari terasa lebih nyaman. Namun, bagi orang lain, memiliki aktivitas yang banyak justru bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan selama dilakukan sesuai kemampuan.

Karena itu, tujuan slow living bukan mengejar kehidupan yang selalu tenang.

Yang lebih penting adalah memiliki kendali atas bagaimana waktu digunakan.

Seseorang bisa saja memiliki hari yang sibuk, tetapi tetap merasa puas karena aktivitas yang dilakukan sesuai dengan prioritas. Sebaliknya, seseorang bisa memiliki banyak waktu luang tetapi tetap merasa tidak bahagia jika tidak mengetahui apa yang ingin dilakukan.

Kebahagiaan Tidak Selalu Datang dari Hal Besar

Salah satu hal yang menarik dari slow living adalah ajakannya untuk menemukan kepuasan dari aktivitas sederhana.

Kopi pagi, makan malam bersama keluarga, membaca beberapa halaman buku, menyiram tanaman, berjalan sore, atau mengobrol dengan teman bisa menjadi bagian dari keseharian yang menyenangkan.

Di tengah budaya yang sering mengaitkan kebahagiaan dengan pencapaian besar—karier, penghasilan, barang yang dimiliki, atau destinasi liburan—slow living menawarkan cara pandang yang berbeda.

Kebahagiaan tidak selalu harus menunggu sesuatu yang besar terjadi.

Terkadang, menikmati apa yang sudah ada juga menjadi bagian penting dari kehidupan.

Memulai dari Satu Kebiasaan

Tidak perlu mengubah seluruh rutinitas untuk mencoba slow living.

Perubahan dapat dimulai dari satu kebiasaan kecil.

Misalnya, menyediakan 30 menit setiap hari tanpa media sosial. Menghindari pekerjaan ketika sedang menikmati waktu bersama keluarga. Menyisihkan waktu untuk hobi. Atau sekadar mengurangi agenda yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Yang perlu diperhatikan adalah memilih perubahan yang realistis.

Slow living justru akan kehilangan maknanya jika diterapkan sebagai target baru yang membuat seseorang merasa harus sempurna.

Tidak ada aturan bahwa seseorang harus selalu santai atau menjalani hidup tanpa kesibukan.

Menemukan Ritme yang Sesuai

Pada akhirnya, slow living bukan perlombaan untuk menjadi orang yang paling santai.

Setiap orang memiliki ritme kehidupan masing-masing. Ada masa ketika seseorang harus bekerja lebih keras, ada pula waktu ketika tubuh dan pikiran membutuhkan istirahat.

Yang terpenting adalah mengetahui kapan harus bergerak dan kapan perlu berhenti sejenak.

Di tengah kehidupan yang terus mendorong manusia untuk bergerak lebih cepat, mungkin memperlambat langkah sesekali bukanlah sebuah kemunduran.

Justru, dengan memberikan waktu untuk berhenti, seseorang dapat kembali melihat apa yang sebenarnya penting dalam hidupnya.

Sebab, hidup yang bahagia belum tentu hidup yang paling cepat. Bisa jadi, kebahagiaan justru muncul ketika kita cukup hadir untuk menikmati perjalanan yang sedang dijalani.