Konten dari Pengguna

Tren Frugal Living: Hidup Hemat Tanpa Harus Merasa Kekurangan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Farhat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Dihasilkan menggunakan AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Dihasilkan menggunakan AI

Jakarta — Menjalani hidup dengan lebih hemat kini bukan lagi sekadar soal mengurangi pengeluaran. Di tengah berbagai pilihan konsumsi yang semakin mudah dijangkau, muncul gaya hidup yang mengajak seseorang untuk lebih sadar dalam menggunakan uang: frugal living.

Istilah frugal living semakin sering diperbincangkan, terutama di kalangan anak muda. Konsep ini menawarkan pendekatan sederhana: bukan berhenti menikmati hidup, melainkan belajar menentukan mana yang benar-benar penting dan sesuai dengan kemampuan finansial.

Dengan kata lain, hidup hemat tidak harus identik dengan hidup serba kekurangan.

Apa Itu Frugal Living?

Frugal living merupakan gaya hidup yang menekankan penggunaan uang secara bijak dan efisien. Seseorang yang menerapkannya berusaha menghindari pengeluaran yang tidak diperlukan dan lebih mempertimbangkan manfaat jangka panjang dari setiap keputusan finansial.

Frugal living juga berbeda dengan sekadar berhemat.

Berhemat terkadang dilakukan untuk mencapai target tertentu, misalnya mengurangi pengeluaran selama beberapa bulan. Sementara itu, frugal living lebih merupakan kebiasaan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Mulai dari memasak di rumah, membawa bekal, membandingkan harga sebelum membeli sesuatu, hingga memanfaatkan barang yang masih layak digunakan merupakan beberapa contoh sederhana.

Yang terpenting bukan seberapa sedikit uang yang dikeluarkan, tetapi apakah pengeluaran tersebut memberikan manfaat yang sepadan.

Bukan Berarti Harus Menghilangkan Semua Keinginan

Salah satu kesalahpahaman tentang frugal living adalah anggapan bahwa gaya hidup ini mengharuskan seseorang menghilangkan seluruh keinginan.

Padahal, konsep tersebut lebih menekankan pada prioritas.

Misalnya, seseorang tetap bisa pergi makan bersama teman, membeli pakaian, menikmati liburan, atau menikmati kopi favorit. Bedanya, keputusan tersebut dilakukan setelah mempertimbangkan kondisi keuangan dan kebutuhan lainnya.

Prinsipnya sederhana: mengeluarkan uang untuk sesuatu yang memang dianggap bernilai, sekaligus mengurangi pengeluaran yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Dengan pola tersebut, seseorang tidak harus merasa bersalah setiap kali menggunakan uang untuk bersenang-senang.

Mengapa Frugal Living Menarik?

Kemudahan transaksi digital membuat aktivitas konsumsi semakin praktis. Hanya dengan beberapa sentuhan di layar, seseorang bisa membeli makanan, pakaian, kebutuhan rumah tangga hingga berbagai barang yang sebelumnya tidak direncanakan.

Promosi, diskon, gratis ongkir, dan berbagai penawaran lainnya juga dapat membuat seseorang terdorong melakukan pembelian secara spontan.

Di sinilah frugal living menjadi relevan.

Gaya hidup ini mendorong seseorang untuk berhenti sejenak sebelum membeli sesuatu dan bertanya: Apakah saya benar-benar membutuhkannya? Apakah barang ini akan sering digunakan? Apakah pembelian ini sesuai dengan kondisi keuangan saya?

Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu seseorang menjadi lebih sadar terhadap pola konsumsinya.

Memulai dari Pengeluaran Kecil

Menerapkan frugal living tidak harus dimulai dengan perubahan besar.

Langkah pertama bisa dilakukan dengan mencatat pengeluaran sehari-hari. Dari catatan tersebut, seseorang dapat melihat ke mana sebagian besar uangnya pergi.

Pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali terkadang justru memberikan dampak cukup besar terhadap kondisi keuangan.

Contohnya, terlalu sering membeli makanan melalui layanan pesan antar, berlangganan berbagai layanan digital yang jarang digunakan, atau membeli barang karena tergoda promo.

Bukan berarti semua pengeluaran tersebut harus dihentikan. Namun, dengan mengetahui polanya, seseorang bisa menentukan mana yang perlu dipertahankan dan mana yang bisa dikurangi.

Bedakan Kebutuhan dan Keinginan

Salah satu prinsip penting dalam frugal living adalah membedakan kebutuhan dengan keinginan.

Kebutuhan merupakan sesuatu yang memang diperlukan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Sementara keinginan biasanya berkaitan dengan sesuatu yang ingin dimiliki atau dinikmati, tetapi tidak selalu harus dipenuhi segera.

Keduanya sama-sama boleh dipenuhi.

Persoalannya adalah ketika keinginan terus dianggap sebagai kebutuhan hingga membuat pengeluaran melebihi kemampuan.

Karena itu, sebelum membeli sesuatu, memberikan jeda beberapa waktu dapat menjadi kebiasaan yang bermanfaat. Tidak semua barang yang terlihat menarik harus langsung dibeli.

Hemat Bukan Berarti Murah

Frugal living juga tidak selalu berarti memilih barang dengan harga paling murah.

Terkadang, membeli barang dengan harga sedikit lebih mahal tetapi memiliki kualitas dan daya tahan lebih baik justru dapat menghemat pengeluaran dalam jangka panjang.

Misalnya, membeli pakaian berkualitas yang dapat digunakan selama bertahun-tahun bisa lebih masuk akal dibandingkan membeli banyak pakaian murah yang cepat rusak dan jarang digunakan.

Hal yang sama berlaku untuk berbagai kebutuhan lainnya.

Karena itu, pertimbangan dalam frugal living bukan hanya “berapa harganya?”, tetapi juga “seberapa besar manfaat yang saya dapatkan dari uang yang dikeluarkan?”

Tetap Menyisihkan Uang untuk Menikmati Hidup

Hidup hemat tidak seharusnya membuat seseorang merasa terus-menerus menahan diri.

Justru, memiliki anggaran khusus untuk hiburan atau kesenangan dapat membantu gaya hidup hemat terasa lebih realistis dan berkelanjutan.

Misalnya, seseorang bisa menentukan sejumlah dana setiap bulan untuk makan di luar, menonton film, membeli buku, melakukan hobi, atau bepergian.

Dengan begitu, menikmati hidup tetap menjadi bagian dari perencanaan keuangan, bukan sesuatu yang dilakukan secara impulsif.

Frugal Living dan Gaya Hidup Berkelanjutan

Menariknya, frugal living juga dapat memiliki dampak di luar persoalan keuangan.

Kebiasaan membeli barang sesuai kebutuhan, menggunakan kembali barang yang masih layak, memperbaiki barang sebelum menggantinya, dan mengurangi konsumsi berlebihan dapat membantu mengurangi jumlah barang yang terbuang.

Dengan demikian, gaya hidup hemat dapat berjalan beriringan dengan pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Meski begitu, seseorang tidak perlu menerapkan semua prinsip sekaligus. Setiap orang memiliki kondisi ekonomi, kebutuhan, dan prioritas yang berbeda.

Tidak Perlu Membandingkan Gaya Hidup

Pada akhirnya, frugal living bukan kompetisi mengenai siapa yang bisa mengeluarkan uang paling sedikit.

Kondisi finansial setiap orang berbeda. Penghasilan, tanggungan, tempat tinggal, kebutuhan pekerjaan, hingga tujuan hidup dapat memengaruhi cara seseorang mengatur pengeluaran.

Karena itu, tidak perlu memaksakan standar hemat orang lain ke dalam kehidupan sendiri.

Yang lebih penting adalah memiliki kendali atas uang yang dimiliki dan memastikan pengeluaran sejalan dengan prioritas.

Frugal living bukan tentang mengorbankan seluruh kenyamanan demi menghemat uang. Gaya hidup ini lebih kepada membangun hubungan yang lebih sadar dengan uang—mengetahui kapan harus mengeluarkan, kapan harus menahan diri, dan untuk apa uang tersebut digunakan.

Pada akhirnya, hidup hemat bukan berarti hidup dengan lebih sedikit kebahagiaan.

Justru, dengan mengurangi pengeluaran yang tidak penting, seseorang bisa memiliki lebih banyak ruang untuk mengalokasikan uang pada hal-hal yang benar-benar berarti.