Kunci Mengatasi Sampah Bandung

Dosen Administrasi Publik, Universitas Padjadajaran. Saya fokus mendalami mengenai organisasi publik, reformasi administrasi serta otonomi daerah dan desa.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Farida Nuraeni Yusuf tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh: Farida Nuraeni Yusuf
Dosen Administrasi Publik, Universitas Padjadjaran
Bandung kembali dihadapkan pada persoalan klasik: sampah. Sejak krisis TPA Sarimukti pada 2023, masyarakat semakin menyadari bahwa persoalan sampah bukan sekadar urusan truk pengangkut atau tempat pembuangan akhir.
Ketika kapasitas TPA terbatas, paradigma lama yang hanya mengandalkan sistem "kumpul-angkut-buang" terbukti tidak lagi memadai. Kota Bandung membutuhkan inovasi yang lebih mendasar, yaitu inovasi yang mampu mengubah perilaku masyarakat dan memperkuat kolaborasi antaraktor.
Selama beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kota Bandung telah memperkenalkan berbagai inovasi pengelolaan sampah. Salah satunya adalah Program Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan), yang mendorong masyarakat mengurangi sampah sejak dari rumah melalui pemilahan dan pemanfaatan kembali. Program ini sesungguhnya telah menggeser orientasi kebijakan dari pengelolaan di hilir menuju pengelolaan di hulu, sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular.
Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan inovasi tersebut belum merata. Tantangan terbesar justru bukan pada ketersediaan teknologi atau regulasi, melainkan pada perubahan perilaku masyarakat. Masih banyak rumah tangga yang belum melakukan pemilahan sampah secara konsisten. Infrastruktur pendukung di beberapa wilayah juga belum memadai, sementara koordinasi antaraktor sering kali belum berjalan optimal.
Padahal, pengalaman berbagai kota di dunia menunjukkan bahwa pengelolaan sampah yang berhasil selalu bertumpu pada partisipasi masyarakat. Pemerintah berperan sebagai fasilitator, dunia usaha menjadi mitra inovasi, komunitas menjadi motor perubahan sosial, dan warga menjadi aktor utama dalam pengurangan sampah dari sumbernya.
Di sinilah pentingnya melihat persoalan sampah sebagai persoalan perilaku (behavior), bukan semata-mata persoalan teknis. Selama ini kebijakan sering berfokus pada pembangunan fasilitas, pengadaan armada, atau peningkatan kapasitas TPA. Semua itu memang penting, tetapi tidak akan cukup apabila perilaku masyarakat tetap sama.
Perubahan perilaku membutuhkan strategi yang berbeda. Edukasi harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya melalui kampanye sesaat. Insentif perlu diberikan kepada masyarakat yang konsisten memilah sampah. Komunitas lokal harus diperkuat sebagai agen perubahan. Bahkan, teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk membangun sistem pelaporan, pemantauan, maupun pemberian penghargaan kepada warga yang aktif mengelola sampah.
Selain itu, inovasi tidak boleh berhenti pada level program pemerintah. Bandung memiliki modal sosial yang sangat besar. Kehadiran bank sampah, komunitas lingkungan, perguruan tinggi, hingga pelaku usaha dapat menjadi ekosistem inovasi yang saling melengkapi. Ketika seluruh aktor bergerak bersama, pengelolaan sampah tidak lagi menjadi beban pemerintah semata, melainkan menjadi gerakan kolektif warga kota.
Sebagai akademisi yang meneliti tata kelola persampahan, saya melihat bahwa masa depan pengelolaan sampah Kota Bandung terletak pada kemampuan membangun behavioral waste governance, yaitu tata kelola yang menempatkan perubahan perilaku sebagai inti kebijakan. Bagaimana mengintegrasikan kolaborasi pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan komunitas dalam menciptakan budaya baru mengelola sampah secara bertanggung jawab.
Bandung sebenarnya telah memiliki fondasi yang baik melalui berbagai inovasi yang telah dijalankan. Tantangan berikutnya adalah memastikan inovasi tersebut berkelanjutan, tidak bergantung pada pergantian kepemimpinan, serta mampu menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat.
Pada akhirnya, kota yang bersih bukanlah kota yang memiliki truk sampah paling banyak, melainkan kota yang warganya mampu mengurangi sampah sejak dari rumah. Inovasi sejati bukan hanya menciptakan teknologi baru, tetapi juga menciptakan kebiasaan baru. Dan ketika perilaku masyarakat berubah, maka persoalan sampah bukan lagi menjadi krisis, melainkan peluang untuk membangun kota yang lebih berkelanjutan.
