Belajar Pengobatan Tradisional dari Surabaya hingga kancah internasional

seorang guru yang terus belajar Mahasiswa S2 Pendidikan Matematika UNISMA Pengajar di MA AL-UMM
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari faridahnufa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mahasiswi UNAIR Perluas Pengetahuan tradisi lokal sampai mancanegara

SURABAYA — Dhia Jinan, mahasiswi Program Studi Pengobatan Tradisional Universitas Airlangga (UNAIR) asal Malang, menyadari bahwa tradisi dan kekayaa budaya Indonesia tidak cukup jika hanya disimpan dalam lingkup daerah sendiri tetapi juga perlu membuka wawasan agar pelestarian budaya makin kuat. Sebagai mahasiswi pengobat tradisional, Dhia terus mengembangkan wawasan di bidang kesehatan tradisional melalui forum internasional, program akademik di Taiwan, pengabdian masyarakat, dan praktik lapangan.
Pada Desember 2025 hingga Januari 2026, Dhia mengikuti Global Youth Innovation Summit yang diselenggarakan Pemuda Mendunia di Malaysia dan Singapura. Dalam forum tersebut, ia menyampaikan gagasan aplikasi berbasis gerakan pemuda dan jejaring komunitas untuk melestarikan pangan tradisional Indonesia melalui pendekatan yang menarik bagi generasi muda. Mei–Juni 2026, ia melaksanakan pengabdian masyarakat secara mandiri di Klinik Wellness Universitas Airlangga melalui kegiatan akupunktur dan pijat. Pengalamannya berlanjut pada Juni–Juli 2026 melalui Taiwan Summer Program in Traditional Chinese Medicine di National Yang Ming Chiao Tung University, Taiwan.
Dalam program tersebut, Dhia mempelajari teori meridian dan akupunktur, pengobatan herbal Tiongkok, metode diagnosis, tuina, nutrisi, serta pendekatan berbasis bukti ilmiah. Ia juga mengikuti pengamatan klinis di Taipei Veterans General Hospital dan mengunjungi National Research Institute of Chinese Medicine untuk mengenal praktik pelayanan, penelitian, dan edukasi kesehatan masyarakat. Program ini turut memperkenalkan hubungan pengobatan tradisional dengan inovasi teknologi, termasuk kecerdasan buatan dan teknologi berbantuan komputer untuk pemeriksaan nadi. Melalui diskusi dan presentasi bersama peserta dari berbagai latar belakang, Dhia memperoleh pengalaman cross-cultural exchange yang memperluas perspektifnya mengenai hubungan antara tradisi, budaya, penelitian, dan perkembangan kesehatan.
Menurut Dhia, pertukaran lintas budaya penting untuk mendorong masyarakat saling mengenal dan menghargai sistem pengobatan dari berbagai negara. Pengetahuan tersebut dapat dipelajari secara terbuka dan kritis, sekaligus menjadi bahan refleksi untuk mengembangkan potensi pengobatan tradisional Indonesia tanpa mengabaikan karakteristik budaya dan bukti ilmiah.
Pada September–Oktober 2026, Dhia melanjutkan pembelajaran melalui praktik kerja lapangan di RS Universitas Airlangga, Tirta Ayu SPA di Bojonegoro, dan sebuah puskesmas di Surabaya. Pengalaman tersebut memperluas pemahamannya mengenai beragam konteks pelayanan dan penerapan pengetahuan kesehatan tradisional di Indonesia.
Melalui pendidikan, pengabdian masyarakat, dan pengalaman internasional, Dhia terus mendalami potensi kesehatan berbasis tradisi. Baginya, pelestarian pengobatan tradisional Indonesia perlu berjalan beriringan dengan penelitian, inovasi, dan kolaborasi lintas budaya agar warisan pengetahuan lokal dapat terus dikembangkan secara bertanggung jawab.
