Konten dari Pengguna

Scroll Culture: Budaya Generasi Z yang Kian Hari Melekat Kuat

Farin Alfarizi Hasbi

Farin Alfarizi Hasbi

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Farin Alfarizi Hasbi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi gen z. Foto: Odua Images/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gen z. Foto: Odua Images/Shutterstock

Dunia digital telah membuat banyaknya perubahan sosial secara global. Gaya berkomunikasi masyarakat pun juga ikut berubah. Yang dulunya harus membeli surat kabar, majalah atau menonton televisi dan mendengar radio untuk mendapatkan informasi. Akan tetapi, sejak era digital tidak perlu lagi demikian. Dengan adanya internet dan digitalisasi membuat semua hal menjadi serba instan.

Kini Indonesia bahkan disebut sebagai The Social Media Capital of the World. Generasi Z khususnya yang bisa dikategorikan sebagai Net Generation melahirkan nilai dan kebiasaan baru. Generasi ini mereka walau dekat teknologi serta internet tapi mereka tetap peduli dengan hak asasi manusia, lingkungan, keadilan dan terkadang politik. Seringkali mereka ingin dan ikut untuk terjun sebagai relawan.

Orang muda yang sudah dekat dengan teknologi dan internet ini menggunakan media sosial memiliki kecenderungan budaya menggulir atau scroll culture. Media sosial telah benar-benar membuat perubahan dalam berkomunikasi dan mencari informasi. Sebut saja Instagram, lihat fitur reels, kita scroll.

Buka aplikasi TikTok yang berbasis media sosial video ini juga menggunakan scrolling down untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak dan beragam. Tak hanya aplikasi ini saja, tapi banyak aplikasi lainnya untuk berpindah dan mengonsumsi sebuah informasi menggunakan guliran jari jempol atau telunjuk dari atas ke bawah (scroll).

Pengguna media sosial yang dikatakan “digital native”, yakni Generasi Z (kadang disebut IGen, Net Generation) memiliki kecenderungan memanfaatkan dan memadukan antara bekerja, bermain, berinteraksi sosial dan hidup di rumah. Digital Natives, dituju untuk generasi ini karena hidup dan besar dengan internet serta media sosial. Secara naluriah pun, mereka tidak memerlukan buku manual atau video tutorial yang kompleks untuk menguasai teknologi.

Daripada telepon (konvensional), generasi ini lebih suka berkomunikasi menggunakan internet dan media sosial karena multitasking. Misalnya sambil melaksanakan rapat melalui aplikasi Zoom, mereka masih bisa membuka dan scrolling TikTok untuk membuka video lucu atau mencari berita di internet untuk asupan informasinya.

Setiap orang saat menonton, membaca dan mengonsumsi konten serta kemudian memberikan komentar di laman unggahan media sosial akun orang lain (influencer, kreator konten atau portal berita) dapat dikatakan terjadinya proses komunikasi dan juga peran sebagai komunikator ataupun komunikan mengalir dinamis serta bergantian. Informasi yang didapatkan juga semakin banyak dan tak terkendala jarak maupun waktu. Maka, komunikasi dan interaksi di berbagai platform media sosial menjadikan masyarakat menjadi ‘satu.’

Maksud ‘satu’ di sini ialah seperti yang pernah dinyatakan oleh McLuhan dalam bukunya "The Global Village: Transformations in World Life and Media in the 21st Century (Communication and Society)" bersama Bruce Powers bahwa hidup dengan kemajuan teknologi digital ini hidup dalam suatu ‘desa global’ atau Global Village. Pernyataan McLuhan ini tentu bukan tanpa sebab, melainkan merujuk pada media komunikasi baru yang modern dan mampu menghubungkan dengan tiap individu di sudut mana pun. Dunia yang menerima kemajuan teknologi digital tadi.

Ilustrasi dampak buruk medsos bagi anak. Foto: myboys.me/Shutterstock

Muncullah pertanyaan dari fenomena desa global yang dinyatakan oleh McLuhan, bagaimana etika dan kualitas informasi dari konten yang tak terbatas oleh pengguna media sosial serta internet yang secara terus-menerus menggulir layar mereka? Filsafat komunikasi dapat membantu kita melihat bagaimana hal ini terjadi.

Scroll Culture atau budaya menggulir ini juga sudah mengubah gaya komunikasi manusia di internet. Pesan-pesan harus singkat, menarik, dan seringkali disertai dengan gambar atau video untuk menarik perhatian. Hal ini mempengaruhi cara individu, organisasi, dan institusi berkomunikasi dan berinteraksi dalam dunia digital.

Dari fenomena ini, yang dikhawatirkan adalah informasi yang tidak lagi jujur dan penuh kepalsuan. Etika komunikasi tentunya diperlukan di sini. Sangat sering sekali budaya menggulir berhadapan dengan tantangan disinformasi.. Etika komunikasi menekankan pentingnya berkontribusi pada penyebaran informasi yang benar, serta menghindari penyebaran informasi palsu yang dapat merugikan individu atau masyarakat.

Memang betul tren terkini mengharuskan banyak kreator konten atau orang yang aktif di internet menggunakan pesan singkat dan padat, mudah dicerna serta menarik. Namun, kualitas informasi dan bagaimana informasi ini didapatkan juga patut dipertanyakan. Keuntungannya memang informasi tersebar dengan cepat dan fluktuatif, dalam hitungan detik berbagai jenis konten dan informasi bisa ditangkap oleh konsumen.

Algoritma dari media sosial juga membuat personalisasi yang membuat konten akan muncul disesuaikan dengan apa yang kita suka, dilihat lebih lama, berkomentar lebih banyak. Hal ini juga berkaitan dengan filter bubble/echo chamber. Maksud filter bubble/echo chamber adalah pembentukan ruang atau isolasi topik dan isu tertentu terhadap konten yang akan muncul di internet dan media sosial yang individu miliki.

Filter Bubble ataupun Echo Chamber mungkin menguntungkan bagi pemilik aplikasi dan internet untuk membuat orang tinggal lebih lama di halaman gawai miliknya. Tapi tidak dengan pengetahuan yang individu miliki. Mereka terancam mempunyai dan mendapatkan informasi yang terisolasi, itu-itu saja dan menjadikannya dangkal dalam berpikir.

Keterampilan dari Generasi Z (terkhususnya) maupun generasi sebelumnya harus dilatih. Kemampuan analisis mana informasi yang tepat dan tidak. Dalam lingkungan yang bergerak cepat dan penuh dengan informasi, kita seringkali harus mengandalkan kemampuan kritis dan sumber daya yang valid untuk memverifikasi informasi. Penting untuk mengembangkan keterampilan literasi media dan sumber daya yang dapat membantu kita memeriksa kebenaran informasi.

Selain itu, memahami pesan lebih cermat dan juga mengeksplorasi suatu topik lebih dalam juga diperlukan. Terkadang, informasi yang terlalu disederhanakan atau diisolasi dalam format singkat mungkin tidak mencerminkan kompleksitas yang sesungguhnya dari suatu topik. Dengan begitu, memengaruhi dapat menghasilkan pemahaman yang lebih dangkal tentang topik tertentu. Hal ini membatasi keragaman pendapat dan informasi yang individu terima, memengaruhi cara kita memandang dunia, dan mungkin mereduksi pemahaman kita tentang realitas yang lebih luas dan sesungguhnya.

Dengan filsafat komunikasi dan melalui cara berpikir cabang filsafat seperti epistemologi (asal usul pengetahuan) dan axiologi (nilai, etika dan moralitas) membantu manusia melihat dan menyoroti tantangan yang dihadapi dalam budaya menggulir (scroll culture) dan pentingnya pengembangan literasi digital, keterampilan kritis, serta kebijakan yang mendukung penggunaan yang bertanggung jawab dan sehat dari platform media sosial maupun konten digital.