Bahasa dan Label Psikologi di Media Sosial: Edukasi atau Simplifikasi?

Mahasiswi Program Studi Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Farisa Julia Vitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu mendengar seseorang berkata, "dia tuh narcissistic banget deh!" atau "aku lagi ke trigger nih"? Atau mungkin kamu sendiri pernah menggunakannya? Istilah-istilah seperti gaslighting, trauma, toxic, boundaries, OCD, dan narcissism yang kini berseliweran bebas di media sosial, percakapan sehari-hari, bahkan caption TikTok berjuta views. Fenomena ini dikenal sebagai therapy-speak atau simple nya, penggunaan bahasa klinis psikologi di luar konteks profesionalnya.
Di satu sisi, tren ini terasa seperti kemajuan, kenapa demikian? karena orang-orang mulai bicara tentang kesehatan mental, stigma mulai terkikis, dan kosakata baru membuka ruang pemahaman diri. Tapi di sisi lain, fenomena ini memunculkan pertanyaan kritis seperti apakah popularisasi istilah klinis ini benar-benar meningkatkan literasi psikologis, atau justru hanya menyederhanakannya saja hingga kehilangan makna aslinya? dan yang lebih penting lagi, apa dampaknya terhadap asesmen psikologis yang sesungguhnya?
Yuk kita bahas lebih lanjut!
Dari Ruang Terapi Berpindah ke Layar Ponsel
Isern-Mas dan Almagro (2025) mendefinisikan therapy-speak sebagai penggunaan bahasa psikoterapi yang tidak tepat dan dangkal, terutama oleh orang-orang yang memiliki privilese sosial, dalam komunikasi sehari-hari. Hal yang di soroti di sini bukan pada kata-kata yang digunakan, melainkan pada cara penggunaannya yang tanpa pemahaman mendalam, dan sering kali tanpa kepedulian nyata terhadap kesehatan mental itu sendiri.
Pertumbuhan fenomena ini sangat pesat di media sosial. Penelitian Manasfi (2024) terhadap 60 video TikTok di bawah tiga tagar #OCD, #narcissism, dan #depression menghasilkan fakta yang mengkhawatirkan, yaitu rata-rata 43,3% video menyajikan informasi yang tidak akurat sesuai definisi klinis dari Mayo Clinic, Harvard Health, ataupun APA Dictionary. Lebih lanjut, yang lebih mengejutkannya, tagar #narcissism memiliki tingkat ketidakakuratan tertinggi, mencapai 63,3% dan hampir 80% videonya bermuatan sentimen negatif. Tidak ada satu pun video bersentimen positif.
Ketika istilah 'OCD' digunakan untuk mendeskripsikan seseorang yang suka rapi, ataupun 'narcissistic' diberikan untuk label pada mantan yang menyebalkan, terjadi pergeseran makna yang jauh lebih berbahaya dari yang kita sadari.
Ketika Kata Kehilangan Makna dan Beratnya
Bayangkan seseorang yang benar-benar hidup dengan OCD klinis, yaitu pikiran obsesif yang menyiksa, ritual kompulsif yang menguras energi dan ketidakmampuan menjalani hari tanpa dibayangi kecemasan yang tidak rasional, kemudian ia mendengar orang berkata, "aku OCD banget, meja kerjaku harus selalu bersih." Persamaan yang tidak tepat ini tidak hanya sensitive, namun secara tidak langsung merampas alat bahasa yang dibutuhkan orang tersebut untuk menjelaskan penderitaannya.
Isern-Mas dan Almagro (2025) menyebutnya sebagai hermeneutical injustice atau ketidakadilan hermeneutis, di mana kondisi ketika pengalaman seseorang jadi sulit dipahami secara utuh karena bahasa yang digunakan justru menyederhanakan masalah psikologis orang yang benar-benar mengalaminya. Saat istilah 'depresi' disamakan dengan 'kesedihan biasa', orang yang mengalami episode depresi mayor menjadi semakin sulit untuk dipahami dan didengar.
Beberapa peneliti menilai bahwa penggunaan therapy-speak yang berlebihan bisa membawa dampak negatif tertentu. Pertama, banyak istilah psikologi jadi kehilangan makna aslinya karena dipakai terlalu sembarangan (erosi makna). Kedua, perilaku yang sebenarnya masih tergolong normal jadi mudah dianggap sebagai gangguan psikologis (patologis berlebihan). Ketiga, semakin banyak orang yang melakukan self-diagnosis secara keliru hanya dari potongan konten media sosial berdurasi singkat.
Dampak Nyata pada Asesmen Psikologi
Ketika seseorang datang ke psikolog dengan membawa 'diagnosa mandiri' dari TikTok dan meyakini ia mengidap ADHD karena sebuah video 30 detik, atau bersikeras pasangannya adalah narsistik karena konten yang ia konsumsi, proses asesmen menjadi jauh lebih kompleks dari yang dibayangkan.
Pertama, ada masalah confirmation bias, klien yang sudah 'mendiagnosa' dirinya sendiri cenderung melaporkan gejala yang sesuai dengan label tersebut, dan mengabaikan informasi yang bertentangan. Kedua, overexposure terhadap therapy-speak membuat klien lebih mudah mengidentifikasi diri dengan kondisi tertentu bahkan ketika kriteria klinis tidak terpenuhi. Fenomena ini disebut sebagai looping effect, yaitu pelabelan diri yang memicu munculnya gejala yang semakin memperkuat label tersebut.
Penelotian Franks dan Caldwell (2023) juga membahasa dalam konteks penulisan ilmiah, bahwa popularisasi jargon dapat menyebabkan pelemahan makna akibat penggunaan berlebihan (semantic bleaching). Seperti contonya, istilah ‘trauma’ yang semula memiliki makna spesifik yang merujuk pada respons psikologis terhadap kejadian yang mengancam jiwa, kini digunakan untuk menggambarkan kejadian apapun yang tidak menyenangkan.
Tantangan kita saat ini bukan hanya memilih antara menggunakan atau tidak menggunakan bahasa psikologis dalam kehidupan sehari-hari, namun bagaimana cara kita menggunakannya dengan tanggung jawab.
Sebelum melabeli seseorang 'narcissistic' atau menyebut diri sendiri 'trauma,' ada baiknya kita bertanya “apakah saya benar-benar memahami apa yang dimaksud istilah klinis tersebut secara benar?” “Apakah penggunaan ini akurat, atau sekadar nyaman dan perasaan saya saja?” “Apakah label ini membantu saya memahami situasi dengan lebih baik, atau justru menutup pemahaman yang sebenarnya?”
"Ketika kita tidak memiliki kata-kata untuk memahami perasaan kita, kita bukan hanya kehilangan cara untuk mengungkapkannya, tetapi juga kehilangan arah dalam memahami hidup kita" – Marc Brackett
Poin penting yang harus kita ambil bukanlah soal hafal istilah-istilah tersebut diluar kepala, melainkan tentang memahami kompleksitas di baliknya. Dan mungkin, itulah yang perlu kita perjuangkan di era media sosial ini, bukan sekedar berbicara tentang kesehatan mental, tetapi benar-benar memahaminya, memahami apa makna sebenarnya dari banyaknya kata yang sering kita dengar selama ini.
________________________________________________
Oleh Farisa Julia Vitri, Dr. Rachmat Mulyono M.Si.,Psikolog
