Konten dari Pengguna

Peran Obat Methylprednisolone Terhadap Penyakit Multiple Sclerosis

farisfauzi307

farisfauzi307

saya seorang mahasiswa aktif di universitas Islam negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari farisfauzi307 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Methylprednisolone adalah obat yang dapat mengobati berbagai kondisi penyakit seperti reaksi alergi, artritis (radang sendi), eksarsebasi asma, terapi pemeliharaan asma jangka panjang, dan eksaserbasi akut multiple clerosis yang telah di setujuin penggunaannya oleh Food and Drug Administration (FDA). Sebagai kortikosteroid sistemik, methylprednisolone memiliki sifat antiinflamasi (obat yang dapat mengurangi peradangan pada tubuh) dan imunosupresif (obat yang dapat digunakan untuk menekan aktivitas sistem kekebalan tubuh), yang efektif untuk mengobati gangguan endokrin, inflamasi, imunologi, hematologic, dan pernafasan (Ocejo, A., Correa,R. 2024).

Struktur kimia methylprednisolone sumber: National Center for Biotechnology Information. 2025
zoom-in-whitePerbesar
Struktur kimia methylprednisolone sumber: National Center for Biotechnology Information. 2025

Dalam methylprednisolon mengandung lebih dari 97,0% dan juga kurang dari 103,0% C22H30O5 (struktur kimia methylprednisolone). Pemerian dari methylprednisolone adalah Serbuk hablur, tidak berbau, rasa pahit. Dapat melebur pada suhu 240oc disertai penguraian. Dan kelarutannya ialah Praktis ia tidak larut larut dalam air, dan agak sukar larut dalam etanol, dalam dioksan dan dalam methanol, serta sukar larut dalam aseton dan dalam juga kloroform, dan methylprednisolone sangat sukar larut terhadap eter. Cara pemyimpanannya adalah dengan wadah harus tertutup rapat dan tidak boleh terkena cahaya (FI. Edisi IV. 2024).

Methylprednisolone dan turunannya, methylprednisole asetat suksinat dan juga methylprednisolone natrium, merupakan glukokortikoid sintetik menengah. Obat ini diserap sebagai agen antiinflamasi dan imunosupreif. Sebagai antiinflamasi, methylprednisolone 5 kali lebih poten daripada hidrokortison (kortisol) dengan aktivitas mineralokortikoid yang minimal (Langhoff, E., Ladefoged, J. 1983).

Methylprednisolone adalah glukokortikoid sintetis yang digunakan untuk mencapai penekanan peradangan yang cepat. Obat ini sedikit lebih paten dari prednisolone, sehinnga sedikit lebih kecil kemungkinannya terjadi retensi natrium dan air. Obat ini juga dapat pembentukan pembentukan, pelesan, dan aktivitas mediator inflamasi endogen termasuk sitokin, prostaglandin, kinin, histamin, enzim lisosom, dan juga sistem komplemen. Methylprednisolone juga memodifikasi respon imun. Kerjanya dimediasi melalui reseptor glukokortikoid (Brian, L., Furman. 2019).

Dalam bentuk tablet methylprednisolone terseredia pada ukuran 2mg, 4mg, 8mg, 16mg, dan 32mg. formulasi suspensi suntik pada konsentrasi 20mg/ml, 40mg/ml, dan 80mg/ml.dan sedian bubuk untuk injeksi pada dosis 40mg, 125mg, 500mg, 1000mg, 2000mg.

Efek samping glukokortikoid dari hormonalnya, yang dapat mengakibatkan syndrome cushing iatrogenik. Wajah menjadi mebulat, bengkak, timbunan lemak, dan pletotik (wajah bulan). Jadi lemak terdistribusi ulang dari ekstremitas ke badan, belakang leher. Rambut halus juga tumbuh lebih cepat di area wajah, paha, badan. Jerawat dapat muncul, insomnia, serta peningkatan nafsu makan. Dengan penggunaan methylprednisolone secara bersamaan, katabolisme protein berlanjut, mengalihkan asam amino untuk memproduksi glukosa, sehingga dapat meningkatkan kebutuhan insulin dan dapat mengakibatkan bertambahnya bb (berat badan). Miopati (penyakit yang dapat meganggu fungsi otot dan dapat melemahnya otot) serta penyusutan otot terjadi, begitu juga dengan penipisan kulit yang dapat terjadi (Stanbury, R., Graham, E. 1998).

Methylprednisolone dapat di berikan secara oral bersamaan dengan makanan atau susu untuk dapat mengurangi efek samping gastrointestinal (sistem pencernaan tubuh, yang terdiri dari organ-organ seperti usus halus, usus besar, anus, mulut, rektum, dan kerongkongan). Metilprednisolon juga dapat diberikan secara intramuscular atau juga intravena. Ketika diberikan secara intramuscular, methylprednisolone tidak boleh disuntikkan ke otot deltoid, karena dapat menyebabkan penyusutan jaringan lemak di bawah kulit. Penyuntikan ke dalam dermis (lapisan kulit yang terletak di bawah epidermis dan di atas hypodermis) atau area dengan bukti infeksi lokal akut harus dihindari. Pemberian intravena (metilprednisolon suksinat) tergantung pada dosis dan juga tingkat keparahan kondisi pasien. Metilprednisolon paling sering diberikan selama 15 sampai dengan 60 menit dengan infus intermiten. Dosis besar harus diberikan minimal selama 30 menit. Hipotensi, aritmia, dan kematian mendadak telah dilaporkan ketika dosis metilprednisolon 250 mg atau lebih diberikan dalam waktu kurang dari 30 menit. Jadi pemberian obat methylprednisolone ini tidak boleh berlebihan, harus dengan intruksi dokter, karna jika berlebihan bias menyebabkan kematian. (Ditzian-Kadanoff, R., Ellman, M, H. 1987).

Multiple sclerosis adalah kelainan yang dimediasi autoimun yang dapat memengaruhi sistem saraf pusat yang sering menyebabkan ketidak mampuan fisik atau kognitif yang parah serta masalah neurologis pada orang dewasa. (Compston, A., Coles,A. 2008). Menurut (Khan, F., etal. 2008;Holloma, J, P., etal. 2013) multiple sclerosis jika dilihat perdasarkan perbandingan, laki-laki lebih sedikit terkena dibandingkan perempuan dengan perbandingan 1:2,5 dan pravelansinya berdasarkan wilayah geografis, berkisar antara 120 per 100.000.

Penyakit multiple sclerosis juga dapat di sebabkan oleh faktor keturunan. Studi menunjukan bahwa resiko multiple sclerosis pada anggota keluarga pasien bergantung pada jumlah informasi genetik yang mereka bagi (48-50). Dengan demikian, tingkat resiko pada kembar monozigot yang memiiki 100% kesamaan genetik adalah sekitar 25%. Pada semua individu yang memiliki 50% kesamaan genetic seperti kembar dizigot dan kerabat tingkat pertama, resiko ini adalag 2-5% (Oksenberg, J, R., etal. 2008;Willer, C, J. 2003).

Sel imun dan stikonnya yang terlibat dalam pathogenesis multiple sclerosis. sumber: Ghasema, N., etal 2016.

Penyakit multiple sclerosis biasanya di obati menggunakan obat methylprednisolone dengan dosis tinggi selama periode 3-5 hari. Pengobatan ivMP dosis tinggi selama 5 hari yang di berikan kepada pasien penderita penyakit multiple sclerosis efektif dalam mengurangi jumlah total lesi MRI peningkat kotras dan dalam mempertahankan efek ini setidaknya selama 60 hari. (Oliveri, R, L., etal. 1998). Lebih lanjut, telah di postulatkan bahwa satu denyut methylprednisolone dosis tinggi mengurangi kejadian 2 tahun konversi menjadi multiple sclerosis pasti lebih dari 50%. (Beck, R, W., etal. 1992).

Jadi kesimpulannya adalah methylprednisolone tidak hanya menyembuhkan penyakit peradangan dan alergi tetapi, juga dapat menyembuhkan penyakit multiple sclerosis dengan metode jangka panjang dan harus dengan pengawasan dokter.

Daftar Pustaka

Brian, L., Furman. (2019). Methylprednisolone. Biomedical Sciences. ScienceDirect. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/B9780128012383978024?via%3Dihub

Compston, A., Coles,A. (2008). Multiple sclerosis. Lamcet. 1502-1517. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18970977/

Ditzian-Kadanoff, R., Ellman, M, H. (1987). How safe is it? High dose intravenous methylprednisolone. IMJ, lllinois medical journal. 172(6). 432-434. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/2892818/

Ghasema, N., Razavi, S., Nikzad, E. (2016). Multiple Sclerosis: Pathogenesis, Symptoms, Diagnoses and Cell-Based Therapy. Cell Journal. 21;19 (1). 1-10. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5241505/

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Farmakope Indonesia (Edisi IV). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Langhoff, E., Ladefoged, J. (1983). Relative immunosuppressive potency of various corticosteroids measured in vitro. Eur J clin Pharmacol. 25 (4). 459-462. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/6653640/

National Center for Biotechnology Information (2025). PubChem Compound Summary for CID,Methylprednisolone.https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/Methylprednisolone

Ocejo, A., Correa,R. (2024). Methylprednisolone. StatPearls. National Library of Medicine. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK544340/

Oksenberg, J, R. (2008). The genetics of multiple sclerosis: SNPs to pathways to pathogenesis. Nat Rev Genet. 9(7). 516-526. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18542080/

Oliveri, R, L., etal. (1998). Randomized trial comparing two different high doses of methylprednisolone in MS: a clinical and MRI study. Neurology. 50(6). 1833-1836. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/9633736/

Stanbury, R., Graham, E. (1998). Systemic corticosteroid therapy—side effects and their management. British journal of ophthalmology. 82(6). 704–708 https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC1722622/

Willer C, J, Dyment D, A, Risch N, J, Sadovnick A, D, Ebers G, C. (2003). Twin concordance and sibling recurrence rates in multiple sclerosis. Proc Natl Acad Sci USA. 100(22). 12877-12882. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/14569025/