Empati yang Hilang di Balik Jas Putih dan Kolom Komentar

Mahasiswa Unpam Jurusan Sistem Informasi
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Fariszal Amri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rumah sakit seharusnya menjadi tempat pertama yang dicari ketika seseorang sedang berjuang melawan rasa sakit. Di sanalah pasien berharap mendapat pertolongan, ketenangan, dan secercah harapan untuk sembuh. Namun, apa jadinya ketika seseorang yang sedang sakit justru harus menghadapi dua kenyataan yang sama menyakitkannya: menunggu pelayanan dalam waktu yang sangat lama, lalu dihujani komentar yang merendahkan ketika berani menyampaikan keluhannya?
Kasus yang ramai diperbincangkan dari RSUD Tasikmalaya menjadi tamparan keras bagi kita semua. Seorang pasien mengungkapkan kekecewaannya setelah menunggu berjam-jam untuk mendapatkan pelayanan. Alih-alih mendapatkan simpati, unggahannya justru dipenuhi komentar yang mencederai rasa kemanusiaan. Yang lebih mengejutkan, sebagian komentar tersebut diduga berasal dari oknum tenaga kesehatan yang seharusnya menjunjung tinggi nilai empati dalam profesinya.
Tentu tidak adil menyamaratakan seluruh dokter maupun tenaga kesehatan. Masih sangat banyak dokter, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya yang setiap hari bekerja dengan penuh dedikasi, bahkan mengorbankan waktu, tenaga, dan keluarga demi menyelamatkan nyawa pasien. Mereka layak mendapatkan penghormatan setinggi-tingginya. Justru karena itulah, tindakan segelintir oknum yang menunjukkan sikap tidak berempati menjadi begitu disayangkan, karena dapat mencoreng kepercayaan masyarakat terhadap profesi yang begitu mulia.
Sejak hari pertama mengenakan jas putih, setiap tenaga kesehatan mengucapkan sumpah profesi yang menempatkan keselamatan, martabat, dan kemanusiaan pasien sebagai prioritas. Profesi ini bukan hanya tentang ilmu pengetahuan dan keterampilan medis, tetapi juga tentang kemampuan untuk memahami penderitaan orang lain. Seorang pasien yang mengeluh belum tentu sedang mencari perhatian. Bisa jadi ia hanya ingin didengar karena sedang berada pada titik paling rapuh dalam hidupnya.
Media sosial memang memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk berpendapat. Namun kebebasan itu tidak pernah menjadi alasan untuk menghilangkan rasa hormat kepada sesama manusia. Di balik setiap akun terdapat seseorang dengan luka, ketakutan, dan beban yang tidak selalu terlihat. Sebuah komentar yang dianggap candaan oleh penulisnya bisa menjadi beban yang sangat berat bagi orang yang sedang sakit, lemah, atau putus asa.
Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa kritik terhadap pelayanan publik bukanlah bentuk kebencian terhadap profesi tertentu. Justru kritik adalah bagian dari kontrol masyarakat agar pelayanan kesehatan terus berkembang menjadi lebih baik. Menanggapi kritik dengan penghinaan tidak akan menyelesaikan masalah. Yang dibutuhkan adalah evaluasi, komunikasi yang baik, dan kesediaan untuk mendengarkan.
Kita juga perlu berhati-hati dalam menyimpulkan sebuah peristiwa. Hingga saat ini, penyebab meninggalnya pasien tersebut merupakan ranah penyelidikan dan penjelasan resmi dari pihak yang berwenang. Karena itu, opini ini tidak dimaksudkan untuk mengaitkan secara langsung hujatan di media sosial dengan penyebab kematiannya. Namun, satu hal yang tidak dapat dibantah adalah bahwa komentar-komentar yang merendahkan seseorang yang sedang sakit merupakan tindakan yang bertentangan dengan nilai empati dan etika, siapa pun pelakunya.
Jas putih adalah simbol ilmu, pengabdian, dan kemanusiaan. Jangan biarkan simbol itu kehilangan maknanya hanya karena ulah segelintir oknum yang lupa bahwa di balik setiap rekam medis, ada seorang manusia yang ingin diperlakukan dengan hormat. Dan jangan pula biarkan kolom komentar menjadi tempat di mana empati dikalahkan oleh ego, karena kemajuan dunia kesehatan tidak hanya diukur dari kecanggihan alat medis, tetapi juga dari kemampuan kita untuk tetap memanusiakan manusia.
