Sebuah dilema: Kenapa Negara Kaya Sumber Daya Alam Sering Kali Miskin?

Hanya mahasiswa biasa dari Jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Suka baca berita. Belajar banyak hal baru dan berbagi apa yang saya tahu.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muhammad Fariz Afiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan Anda menemukan ladang emas di halaman rumah. Logikanya, Anda pasti langsung kaya raya. Tapi di tingkat negara, menemukan cadangan minyak, gas, atau tambang yang sangat besar justru sering membawa masalah ekonomi.
Banyak ahli ekonomi menyebut kondisi ini sebagai Kutukan Sumber Daya Alam atau dikenal sebagai Dutch disease. Ini adalah situasi di mana negara yang punya banyak kekayaan alam malah ekonominya lambat tumbuh dan rakyatnya lebih banyak yang miskin, dibandingkan dengan negara yang tidak punya kekayaan alam sama sekali.
Dutch Disease
Cerita ini bermula di Belanda pada tahun 1959. Saat itu, mereka menemukan cadangan gas alam yang luar biasa besar di laut. Semua orang berharap penemuan ini akan membuat Belanda semakin makmur. Tapi, yang terjadi malah sebaliknya.
Ketika Belanda mulai menjual gas itu ke negara lain, uang dari luar negeri mengalir deras masuk ke negara mereka. Efeknya, nilai mata uang Belanda naik drastis. Bagi warga yang ingin jalan-jalan atau belanja ke luar negeri, ini sangat menguntungkan. Tapi bagi pabrik sepatu, pabrik mesin, atau petani di Belanda, ini adalah bencana. Barang jualan mereka tiba-tiba menjadi sangat mahal saat dibeli oleh orang luar negeri sehingga tidak laku.
Perlahan, banyak pabrik tutup dan pekerja kehilangan pekerjaan. Semua uang dan pekerja pindah ke bisnis gas alam yang sedang naik daun. Kejadian lumpuhnya pabrik dan pertanian akibat rezeki nomplok dari alam ini kemudian dikenal di seluruh dunia dengan sebutan Penyakit Belanda.
Uang Kaget yang Bikin Malas Berinovasi
Penyakit Belanda hanya salah satu alasan. Masalah yang jauh lebih parah justru terjadi pada cara negara dan kekayaan alam tersebut diatur.
Kalau sebuah negara mengandalkan pabrik atau teknologi, pemerintah mau tidak mau harus membangun sekolah dan pendidikan yang bagus untuk warganya. Pemerintah juga butuh uang pajak dari rakyat untuk menjalankan negara. Ada hubungan saling butuh yang sehat antara pemerintah dan rakyat.
Semuanya berubah saat pemerintah bisa mendapat triliunan rupiah hanya dengan menggali tanah. Ketergantungan pada kecerdasan warganya menjadi hilang. Pendidikan dan teknologi sering dilupakan karena negara merasa sudah punya banyak uang.
Lebih parahnya lagi, aliran uang yang sangat besar dari tambang sering memicu korupsi. Uang itu biasanya hanya berputar di kalangan tokoh elit politik dan pengusaha besar, tanpa pernah sampai ke tangan rakyat biasa.
Nasib Ekonomi Negara yang Digantung Harga Komoditas
Negara yang hanya mengandalkan satu atau dua hasil bumi sama seperti menaruh semua telur di satu keranjang. Harga minyak atau batu bara di pasar dunia selalu naik turun.
Saat harga sedang mahal, negara merasa punya uang tidak terbatas dan mulai membangun proyek besar-besaran. Tapi saat harga dunia tiba-tiba anjlok, proyek itu berhenti, utang menumpuk, dan negara jatuh ke krisis keuangan. Contoh nyata bisa dilihat di Nauru. Pada tahun 1970-an, negara kepulauan kecil ini memiliki pendapatan per kapita tertinggi di dunia dari penambangan fosfat. Namun, pemerintah Nauru gagal melakukan diversifikasi ekonomi dan salah mengelola investasi. Ketika cadangan fosfat menipis pada akhir 1990-an, pendapatan negara terhenti total. Kini, ekonomi Nauru sangat bergantung pada bantuan dari negara lain.
Adakah Negara yang Berhasil?
Kekayaan alam sebenarnya bukan sebuah kutukan pasti. Norwegia membuktikan bahwa negara bisa selamat dari ancaman ini.
Saat menemukan banyak minyak, Norwegia tidak langsung memakai semua keuntungannya untuk belanja di dalam negeri. Pemerintahnya mengubah uang minyak itu menjadi dana tabungan raksasa yang diputar di luar negeri. Tabungan ini dijaga ketat untuk anak cucu mereka nanti. Cara disiplin ini mencegah mata uang mereka naik secara tidak wajar dan menjaga pabrik serta bisnis lain di dalam negerinya tetap hidup.
Pada akhirnya, kondisi ini memberi pelajaran penting bagi kita semua. Kekayaan sejati sebuah negara bukan dari apa yang dikeruk dari dalam tanah, melainkan dari kecerdasan manusia dan kejujuran para pemimpinnya. Tanpa dua hal itu, harta karun alam hanya akan menjadi kekayaan sementara yang menipu.
