Algoritma TikTok: Bikin Kreatif atau Bikin Cemas?

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Veteran Yogyakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Fariz Nurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa tahun terakhir, TikTok menjelma menjadi ruang digital favorit generasi Z. Algoritmanya yang pintar membuat setiap pengguna merasa "dimengerti" dengan suguhan konten sesuai minat mereka. Namun, dibalik layar yang penuh dengan hiburan dan kreativitas tersembunyi sisi gelap yaitu meningkatnya kecemasan sosial yang semakin menggerogoti anak muda. Pertanyaanya, apakah algoritma TikTok banyak melahirkan kreativitas atau justru kecemasan?
Indonesia menempati posisi kedua terbesar pengguna TikTok dengan sekitar 109,9 juta orang dan hampir separuhnya adalah generasi Z. Mereka menghabiskan rata-rata 89 menit per hari hanya untuk berselancar di platform ini. Sekilas ini hanya sebuah kebiasaan baru, tetapi jika ditelisik lebih jauh lagi ada konsekuensi psikologis yang serius.
Tekanan Sosial yang Tak Terlihat
TikTok bukan sekadar aplikasi hiburan semata, ia adalah sebuah mesin sosial yang memproduksi tren dan norma baru. Algoritmanya menampilkan konten populer secara terus-menerus yang tanpa sadar menanamkan rasa takut ketinggalan atau Fear of Missing Out (FoMO). Generasi Z merasa harus mengikuti tren agar tetap relevan. Akibatnya mereka sering dilanda kecemasan semisal "apakah saya sudah cukup menarik?" atau"apakah konten saya layak masuk For You Page (FYP)?"
sebuah riset internasional menunjukkan bahwa penggunaan TikTok selama 20 menit saja dapat meningkatkan skor depresi hingga 12% dan kecemasan sebesar 15%. Bayangkan saja dampaknya jika durasi itu berlipat ganda setiap hari. Algoritma yang dirancang untuk membuat pengguna betah justru bisa menjadi sumber tekanan psikologis yang nyata. Tidak heran jika banyak anak muda merasa hampa ketika sehari saja tidak membuka TikTok karena mereka merasa takut melewatkan tren yang sedang ramai.
Budaya Banding-Membandingkan
Selain FoMo, perbandingan sosial menjadi faktor lain yang memperkuat kecemasan. Hidup orang lain di TikTok terlihat begitu sempurna seperti wajah yang cantik, tubuh ideal, pencapaian luar biasa sehingga generasi Z pun terdorong untuk menampilkan versi terbaik dirinya, meski seringkali penuh dengan kepalsuan. Validasi berupa jumlah "like" dan komentar menjadi sebuah tolak ukur harga diri. ketika respons yang diharapkan tak kunjung datang rasa percaya diri itu akan runtuh.
penelitian di Indonesia mencatat banyak remaja yang merasa cemas ketika unggahan mereka sepi interaksi bahkan sampai mengganggu kualitas tidur. Tidak jarang, hal ini menimbulkan komplek inferioritas atau rasa rendah diri dan gangguan citra tubuh. Algoritma yang memperkuat kebiasaan menonton konten serupa membuat remaja kian terjebak dalam standar TikTok yang sempit. Bayangkan seorang pelajar yang setiap hari melihat video bertema "glow uo" atau gaya hidup mewah, ia akan merasa gagal hanya karena kehidupan berbeda dari standar TikTok tersebut.
Kreativitas yang Bisa Menjadi Tekanan
Tentu, tidak adil bila kita hanya melihat satu sisi negatif dari Tik Tok. Bagi banyak anak muda, aplikasi ini adalah ruang berekspresi yang membebaskan. Dari tarian, konten edukatif, hingga peluang bisnis, TikTok menawarkan wadah untuk membangun identitas dan jejaring sosial. Sebagian bahkan merasa lebih percaya diri setelah mendapatkan dukungan di kolom komentar.
Namun masalah muncul ketika kreativitas berubah menjadi keterpaksaan. Fitur endless scroll membuat pengguna sulit berhenti, mirip seperti bermain mesin slot yang adiktif. Pada akhirnya, bukan lagi pengguna yang mengendalikan algoritma melainkan algoritma yang mengendalikan pengguna. Kreativitas yang seharusnya menyenangkan justru berubah menjadi beban.
Kehidupan Nyata yang Mulai Terpinggirkan
Fenomena kecemasan sosial akibat TikTok juga berdampak pada kehidupan nyata. Banyak Gen Z lebih memilih membangun koneksi digital daripada mempererat relasi langsung dengan keluarga atau teman. Interaksi tatap muka perlahan bergeser digantikan oleh obrolan singkat di kolom komentar. Hal ini membuat mereka semakin sulit mengasah keterampilan sosial yang penting seperti empati, komunikasi verbal, dan manajemen emosi. Tak jarang rasa kesepian meningkat meskipun secara online mereka tampak "ramai"
Beberapa psikolog mencatat gejala lain seperti gangguan tidur karena terlalu sering begadang demi scroll video hingga munculnya rasa lelah emosional karena harus mengikuti ritme cepat dunia digital. Dengan kata lain, kecemasan sosial yang dipicu algoritma TikTok tidak berhenti di layar ponsel saja tetapi merembes ke rutinitas harian mereka.
Lalu Apa yang Bisa Dilakukan?
Solusi tidak bisa hanya mengandalkan individu. Literasi digital harus diperkuat agar Gen Z memahami cara kerja algoritma sekaligus dampaknya terhadap psikologis. Beberapa pakar menyarankan agar pendidikan literasi digital dimasukkan ke sekolah, sehingga remaja menjadi lebih kritis saat menggunakan media sosial. Selain itu, fitur pengingat waktu (screen time reminder) perlu diaktifkan agar pengguna bisa mengontrol durasi mereka sendiri.
Disisi lain orangtua, pendidik, dan komunitas juga harus hadir sebagai pendamping. Mereka perlu memberi teladan penggunaan teknologi yang sehat. TikTok sendiri sebagai platform global juga punya tanggung jawab moral untuk tidak hanya mengejar atensi saja tetapi juga membantu menjaga kesehatan mental penggunanya. Mengurangi dorongan algoritma yang terlalu agresif bisa menjadi langkah awal yang baik. Jika tidak, generasi muda akan semakin sulit membedakan antara dunia nyata dan dunia digital.
Menutup Layar, Membuka Kesadaran
Algoritma TikTok ibarat pedang bermata dua. Ia bisa menjadi panggung kreativitas, tapi juga jebakan kecemasan. Generasi Z tidak boleh menjadi konsumen pasif yang digiring oleh algoritma, melainkan harus berani mengambil kendali atas pengalaman digital mereka.
Menutup layar sejenak, berbincang dengan orang terdekat atau menikmati dunia nyata dengan tenang bisa menjadi sebuah cara sederhana untuk melawan algoritma. Karena pada akhirnya, teknologi seharusnya melayani manusia bukan manusia yang diperbudak oleh teknologi.
