Konten dari Pengguna

Dari Media Sosial ke Ruang Publik: Ketika Anak Muda Belajar Politik

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fariza Syifa Khairunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Media sosial menjadi salah satu ruang bagi anak muda untuk memperoleh informasi mengenai berbagai persoalan publik. Sumber: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Media sosial menjadi salah satu ruang bagi anak muda untuk memperoleh informasi mengenai berbagai persoalan publik. Sumber: Unsplash

Media sosial membuat anak muda semakin dekat dengan informasi politik, tetapi juga menuntut kemampuan untuk memahami dan menyaring informasi yang beredar.

Setiap membuka media sosial, kita dapat menemukan berbagai informasi mengenai politik. Ada yang membahas kebijakan pemerintah, pernyataan pejabat, kondisi ekonomi, hingga persoalan sosial yang sedang menjadi perhatian masyarakat. Informasi tersebut dapat ditemukan melalui berbagai platform digital, baik dalam bentuk video, gambar, maupun tulisan.

Sebagai mahasiswa, saya sendiri cukup sering menemukan informasi politik ketika menggunakan media sosial. Awalnya mungkin hanya ingin melihat hiburan atau mencari informasi lain, tetapi pembahasan mengenai politik dapat muncul di antara berbagai unggahan yang kita lihat. Dari situ, saya menyadari bahwa media sosial sekarang tidak hanya menjadi tempat untuk berkomunikasi dan mencari hiburan, tetapi juga menjadi salah satu ruang bagi anak muda untuk mengenal berbagai persoalan publik.

Kondisi ini menjadi semakin penting jika melihat jumlah anak muda dalam Pemilu 2024. Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU), pemilih dari generasi milenial dan Generasi Z mencapai 58,38 persen dari keseluruhan pemilih di Indonesia. Jumlah tersebut terdiri atas 67.909.820 pemilih milenial atau 33,44 persen dan 50.645.669 pemilih Generasi Z atau 24,94 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa anak muda memiliki posisi yang cukup besar dalam kehidupan demokrasi Indonesia. Karena itu, keterlibatan anak muda dalam memahami persoalan politik tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang sepele.

Politik Semakin Dekat dengan Kehidupan Anak Muda

Perkembangan teknologi membuat cara masyarakat memperoleh informasi mengalami perubahan. Jika dahulu berita politik lebih banyak diperoleh melalui televisi, radio, surat kabar, atau situs berita, sekarang informasi tersebut dapat ditemukan melalui media sosial.

Bahkan, seseorang tidak harus secara khusus mencari berita politik untuk menemukannya. Informasi mengenai politik dapat muncul ketika seseorang sedang menggunakan media sosial untuk mencari hiburan, mengikuti akun tertentu, atau membaca berbagai informasi yang sedang ramai dibicarakan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa batas antara ruang hiburan dan ruang informasi semakin tipis. Sebuah video yang awalnya dibuat untuk memberikan informasi singkat dapat mengajak seseorang untuk mengetahui persoalan yang lebih luas.

Penelitian mengenai pola bermedia Generasi Z dalam mencari informasi politik juga menunjukkan bahwa media sosial menjadi salah satu tempat utama bagi generasi tersebut untuk memperoleh informasi politik. Penelitian yang diterbitkan dalam Electoral Governance tersebut melibatkan 802 responden Generasi Z dan menemukan bahwa akses terhadap informasi politik sering terjadi secara tidak langsung atau insidental.

Menurut saya, keadaan tersebut memiliki sisi positif. Politik yang sebelumnya mungkin dianggap sebagai pembahasan yang serius dan jauh dari kehidupan anak muda kini menjadi lebih mudah ditemui. Anak muda juga memiliki kesempatan untuk mengetahui kebijakan pemerintah, mengikuti persoalan masyarakat, serta menyampaikan pendapatnya melalui ruang digital.

Namun, kemudahan tersebut juga memiliki tantangan.

Ketika Informasi Datang Terlalu Cepat

Media sosial memungkinkan informasi tersebar dengan sangat cepat. Dalam waktu singkat, sebuah pernyataan atau peristiwa dapat diketahui oleh banyak orang. Masalahnya, kecepatan penyebaran informasi tidak selalu diikuti dengan pemahaman yang cukup.

Kita terkadang lebih tertarik membaca judul atau melihat potongan video daripada mencari informasi secara lengkap. Sebuah pernyataan dapat terlihat berbeda ketika hanya diambil sebagian tanpa melihat konteks pembicaraan secara keseluruhan.

Di sinilah kemampuan literasi digital menjadi penting. Berdasarkan Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025 yang diterbitkan Kementerian Komunikasi dan Digital, masih terdapat 30,3 persen responden yang belum mampu memastikan kredibilitas sumber informasi digital dan 28,8 persen yang belum dapat memverifikasi kebenaran informasi yang diperoleh secara daring.

Data tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan teknologi tidak selalu berarti seseorang mampu menilai informasi yang ditemukan di dalamnya. Kita mungkin sudah terbiasa menggunakan media sosial, mesin pencari, dan berbagai aplikasi digital, tetapi tetap perlu meningkatkan kemampuan untuk memeriksa kebenaran informasi.

Menurut saya, hal sederhana yang dapat dilakukan adalah tidak langsung percaya ketika menemukan informasi politik. Kita dapat mencari sumber asli, membaca informasi dari beberapa media, serta melihat informasi dari lembaga resmi yang berkaitan dengan persoalan tersebut.

Dengan cara itu, kita tidak hanya menjadi pengguna media sosial yang menerima informasi, tetapi juga menjadi pengguna yang mampu mempertanyakan informasi.

Menjadi Kritis Tidak Harus Berarti Menolak

Menurut saya, menjadi anak muda yang peduli terhadap politik tidak berarti harus memahami semua istilah politik atau mengikuti seluruh perkembangan pemerintahan.

Tidak semua orang juga harus mempunyai pandangan politik yang sama. Perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang membentuk pendapat tersebut.

Sikap kritis bukan berarti selalu menolak pendapat orang lain. Sikap kritis dapat dimulai dengan kebiasaan sederhana, seperti bertanya dari mana sebuah informasi berasal, siapa yang menyampaikannya, dan apakah terdapat sumber lain yang dapat menguatkan informasi tersebut.

Sebagai mahasiswa, kebiasaan tersebut menurut saya cukup penting. Lingkungan kampus menjadi salah satu ruang untuk berdiskusi mengenai berbagai persoalan masyarakat. Namun, diskusi yang baik tentu membutuhkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Jangan sampai sebuah pendapat terbentuk hanya karena sebuah informasi memiliki banyak tanda suka atau dibagikan oleh banyak orang. Banyaknya orang yang melihat suatu informasi tidak otomatis membuat informasi tersebut benar.

Media Sosial sebagai Ruang Belajar Politik

Media sosial tidak selalu harus dipandang sebagai sumber masalah dalam pembicaraan politik. Di sisi lain, media sosial juga dapat menjadi ruang bagi anak muda untuk belajar mengenai berbagai persoalan publik.

Melalui media sosial, anak muda dapat mengetahui perkembangan kebijakan, mengikuti pembahasan mengenai persoalan masyarakat, berdiskusi dengan orang lain, dan menyampaikan pendapat. Bahkan, berbagai lembaga pemerintah dan penyelenggara pemilu juga memanfaatkan media digital untuk memberikan informasi kepada masyarakat. KPU, misalnya, telah menggunakan media sosial sebagai salah satu sarana sosialisasi dan pendidikan bagi pemilih muda.

Artinya, media sosial dapat menjadi pintu masuk bagi anak muda untuk mengenal politik. Namun, pemanfaatannya tetap membutuhkan tanggung jawab dari penggunanya.

Menurut saya, tantangannya sekarang bukan sekadar membuat anak muda tertarik terhadap politik. Informasi politik sudah cukup dekat dengan kehidupan mereka. Tantangannya adalah bagaimana anak muda dapat membedakan informasi, pendapat, dan informasi yang belum terbukti kebenarannya.

Hal tersebut dapat dimulai dari kebiasaan yang sederhana. Membaca sebelum berkomentar, memeriksa sebelum membagikan, dan mencari tahu sebelum mempercayai.

Pada akhirnya, kepedulian terhadap politik tidak harus selalu diwujudkan melalui hal-hal besar. Mengikuti perkembangan kebijakan, memahami persoalan di sekitar, menggunakan hak pilih, serta mampu menyaring informasi juga merupakan bagian dari kehidupan sebagai warga negara.

Media sosial telah membuat politik semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, menurut saya, yang perlu kita lakukan bukan menjauh dari informasi politik, melainkan belajar menggunakannya dengan lebih bijak.

Sebab, dalam ruang digital yang dipenuhi berbagai informasi, menjadi orang yang cepat mengetahui suatu berita memang penting. Namun, menjadi orang yang mau memeriksa dan memahami berita tersebut sebelum mempercayainya jauh lebih penting.