Kumparan Logo

Bahlil dan Purbaya Sepakat Batasi Subsidi Pertalite

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan keterangan pers penemuan gas raksasa oleh Eni di Kutai, Kalimantan Timur, di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (20/4/2026). Foto: Kementerian ESDM
zoom-in-whitePerbesar
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan keterangan pers penemuan gas raksasa oleh Eni di Kutai, Kalimantan Timur, di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (20/4/2026). Foto: Kementerian ESDM

Pemerintah mengangkat kembali rencana pembatasan konsumen BBM bersubsidi Pertalite. Masyarakat mampu yang termasuk dalam desil 9-10 berpotensi tidak boleh membeli BBM tersebut.

Hal tersebut merupakan hasil rapat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa hari ini, Selasa (11/8).

Purbaya mengatakan pembatasan konsumsi Pertalite itu akan dilakukan bertahap dalam beberapa bulan ke depan, meskipun tidak menjelaskan dengan pasti karena masih dalam proses pembahasan.

"Tadi kita membahas kemungkinan implementasi pembatasan subsidi Pertalite untuk yang tingkat atas, mungkin yang kuartil 9-10, supaya nanti, bukan sekarang, ya, beberapa bulan kemudian kita bisa kurangin secara bertahap," ungkapnya kepada awak media di kantor Kemenkeu, Selasa (11/8).

Purbaya mengatakan bahwa sistem yang dikembangkan PT Pertamina (Persero), badan usaha yang menyalurkan BBM Pertalite, sudah cukup bagus dan siap diimplementasikan.

"Kita sudah menguji sistem, Pertamina punya sistem, saya sudah melihat sistemnya. Mereka bisa saja yang di desil 9-10 enggak bisa beli yang bersubsidi. Dia mesti bayar harga Pertamax atau yang lain," imbuhnya.

Petugas mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite untuk kendaraan roda dua pada salah satu SPBU di Jakarta, Senin (18/11/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Hanya saja, Purbaya belum bisa membeberkan berapa banyak potensi penurunan konsumen maupun subsidi yang digelontorkan setelah pembatasan konsumsi Pertalite tersebut.

Pasalnya, harga minyak mentah global masih berfluktuasi di kisaran USD 80-100 per barel. Hal ini yang akan berdampak pada ketidakpastian realisasi penyaluran subsidi energi pada tahun ini.

"Konsumsi mungkin tetap akan sama, cuma subsidi akan berkurang karena sebagian terpaksa beli yang tidak bersubsidi kan. Kita lihat nanti seperti apa, kita sedang pelajari sistemnya yang jelas saya sudah lihat sistemnya bisa dijalankan mobil per mobil atau desil per desil, yang jelas kita incar adalah yang atas aja supaya mereka beli sesuai dengan kemampuan mereka," tegas Purbaya.

Sementara itu, Bahlil mengatakan rapat tersebut membahas perubahan pola subsidi energi agar lebih tepat sasaran. Sebab, selama ini masih banyak masyarakat mampu yang menggunakan kendaraan mewah tapi masih mengkonsumsi Pertalite.

"Selama ini, kan, kita tahu teman-teman, sebagian subsidi tidak tepat sasaran. Masa orang kaya harus kita subsidi, contoh Pertalite, desil 9, desil 10 masih dapat subsidi. Nah ini yang kita mulai bahas sistemnya segala macam," tutur Bahlil.

Bahlil menegaskan kebijakan ini demi menekan angka subsidi energi yang terus membengkak, apalagi di tengah kenaikan harga minyak mentah global. Hanya saja, dia menekankan harga BBM subsidi tidak akan ada kenaikan.

"Nanti, kan, ada jenis kendaraan. Jangan pakai BMW, pakai Mercy, masa pakai minyak subsidi. Itu yang dimaksudkan oleh Pak Menteri tadi. Yang kedua, saya sama Pak Menteri bersepakat bahwa harga ICP dunia yang tidak menentu sampai dengan sekarang, kami punya komitmen atas dasar perintah Bapak Presiden bahwa harga BBM subsidi tidak akan naik," tegas Bahlil.