Efek Ganda dari 'Jiwa' yang Bangkit di Sekitar Stasiun MRT

Sebuah kawasan tidak benar-benar hidup hanya karena dipenuhi manusia. Berkat sentuhan ‘jiwa’, kawasan tersebut tidak hanya membuat betah pengunjung, namun dapat menciptakan perputaran ekonomi hingga miliaran rupiah.
Tidak terkecuali bagi kawasan berorientasi transit (TOD) di sekitar stasiun. Inilah efek berganda yang ingin dibangun PT MRT Jakarta (Perseroda) melalui konsep placemaking, untuk membuatnya menjadi ruang publik yang mampu menarik perhatian dan pada akhirnya menggerakkan roda ekonomi di sekitarnya.
Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta, Samuel Ryan Pradipta Pranowo, mengatakan placemaking merupakan sebuah konsep rancangan tata kota dalam pembentukan ruang ketiga.
“Ruang ketiga ini sebetulnya tempat kita sehari-hari setelah rumah dan tempat tujuan kita. Jadi setelah kita dari rumah ke kantor, apa nih ruang ketiga supaya kita bisa mengekspresikan diri,” jelasnya saat MRTJ Fellowship Program 2026, Rabu (9/9).
Melalui ruang ketiga, lanjut dia, sebuah kota bisa memberikan ruang yang nyaman bagi masyarakat, menciptakan ketertarikan secara emosional karena tempat tersebut harus memiliki ciri khas dan identitas tersendiri.
Samuel mencontohkan keberhasilan kawasan TOD Blok M. Perusahaan menghidupkan identitas pusat anak muda perkotaan (urban youth hub) dalam pengembangannya. Dari awalnya sempat sepi, Blok M kemudian kembali bangkit sebagai tempat nongkrong yang tetap inklusif dan terjangkau.
“Jadi suatu tempat itu harus punya suatu makna atau suatu tema dan harus inklusif, bisa untuk siapapun tidak cuma untuk kaum segmen menengah ke atas, namun menengah ke bawah juga. Dia harus inklusif untuk semua masyarakat,” tegasnya.
Kisah sukses tata kota dengan konsep tersebut juga terjadi di Jepang. Samuel menyebutkan, masing-masing kawasan di Tokyo memiliki ciri khasnya masing-masing. Misalnya, Akihabara identik dengan anime dan barang hobi, dan Shinjuku dengan pusat perbelanjaan modern.
“Banyak pelaku placemaking kin bergerak untuk menciptakan kawasan dengan suatu jiwa. Jadi tidak cuma membentuk kawasan, tapi di situ harus punya tema dan daya tarik uniknya,” imbuh Samuel.
Efek Ganda dari Stasiun MRT Jadi Bonus
Berdasarkan studi yang dilakukan Stanford University, MRT Jakarta memperkirakan kegiatan ekonomi kreatif (MICE) di kawasan placemaking dapat menciptakan efek berganda (multiplier effect) sekitar empat hingga lima kali dari nilai ekonomi kegiatan utamanya.
Artinya, jika sebuah kegiatan menghasilkan transaksi Rp 10 miliar, dampaknya terhadap ekonomi kawasan berpotensi mencapai sekitar Rp 40 miliar hingga Rp 50 miliar yang bisa dinikmati Pemerintah Provinsi Jakarta.
“Pemprov DKI yang menilai dampak dari placemaking ini sebetulnya tidak hanya di kegiatannya, kawasannya, tapi dalam satu kawasan itu transaksinya meningkat seberapa besar,” tutur Samuel.
Namun, efeknya tidak selalu sama di setiap tempat. Kawasan dengan aktivitas perdagangan, hotel, pusat perbelanjaan, dan destinasi wisata yang kuat dapat menghasilkan dampak lebih besar. Contohnya kegiatan berskala internasional di sekitar Gelora Bung Karno (GBK).
Pengunjung tidak hanya membeli tiket konser, mereka membutuhkan akomodasi, makan, transportasi, hingga aktivitas lain sebelum dan sesudah acara. Karena itu, satu event dapat menciptakan rantai belanja yang jauh lebih panjang daripada transaksi yang terjadi di dalam venue.
“GBK itu karena levelnya event internasional, bahkan bisa Rp 70-100 miliar di satu event GBK stadion utama. Kalau artisnya luar negeri lebih besar lagi karena satu tiket konsernya itu udah mahal, menginapnya di hotel mewah, pergi ke mall, bahkan bisa sekitar Rp 200 miliar,” ungkap Samuel.
Efek ekonomi tersebut pada akhirnya tidak hanya dinikmati oleh bisnis besar. MRT Jakarta menyebut jumlah UMKM yang menjadi tenant di berbagai ruang yang dikelolanya telah mendekati 500. Kehadiran mereka menjadi bagian dari konsep kawasan yang inklusif, di mana pelaku usaha kecil dapat hidup berdampingan dengan brand yang lebih besar.
Rencana MRT Mendatang
Tidak cukup sampai di Blok M, MRT Jakarta mencanangkan lebih banyak ruang ketiga yang hadir dalam cakupan 800 meter sekitar stasiun, seiring dengan perpanjangan rute MRT baik itu lintas Utara-Selatan maupun Timur-Barat.
Samuel mencontohkan, perusahaan sudah mendesain konsep placemaking di Kota Tua dengan menggabungkan ciri khas warisan sejarah kolonial, pecinan, dan futuristik dari sentra elektronik Glodok.
“Kita sudah memetakan karakteristik stasiun di saat membuat jalur baru. TOD kami, kan, cakupannya 800 meter, itu sebetulnya sudah terpetakan masing-masing daerah itu karakteristiknya apa,” ungkapnya.
Hanya saja, kepastian lokasi stasiun untuk jalur Timur-Barat masih dalam pembahasan dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub), seiring dengan proses konstruksi yang juga tengah berjalan pada lintas Utara-Selatan Fase 2A maupun 2B.
Samuel mengungkapkan titik temu dengan jalur Timur-Barat akan terjadi di Stasiun Thamrin. Dengan begitu, dia menyebut konsep placemaking di stasiun tersebut akan sangat unik.
“Thamrin ini cukup unik, karena ini stasiun sentralnya MRT, jadi nanti Timur-Barat, Utara-Selatan, crossing-nya di situ, dan ini campuran budaya karena mungkin orang Jaksel ketemu orang Jakarta Utara, nanti Jakbar dan Jaktim mulai ketemu nih di tengah,” jelasnya.
Selain menyesuaikan identitas lokasi, konsep placemaking juga harus tetap relevan dengan tren dan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, identitas tersebut harus senantiasa diperbaharui.
Samuel mengatakan sebuah tren bisa berubah dalam kurun waktu 5-10 tahun. Bahkan, untuk negara-negara maju dengan anggaran belanja besar, perubahan konsep bisa lebih cepat dan hal ini berdampak pada perubahan gaya hidup masyarakat setempat.
“Biasanya tren lebih cepat terdeteksi di luar, karena di luar negeri pembiayaannya itu lebih cepat, untuk mengeluarkan anggaran untuk mengembangkan konsep baru biasanya mereka nggak terlalu perhitungan,” tutur Samuel.
Naiknya Kualitas Hidup
MRT Jakarta pun melihat terdapat peningkatan adopsi transportasi publik di Jakarta yang cukup pesat dalam 3 tahun terakhir. Saat ini, hampir seperempat penduduk Jakarta menggunakan transportasi publik.
“Adopsi transportasi publik di Jakarta saat ini sudah hampir 24 persen, cukup menggembirakan karena dalam 3 tahun terakhir itu dari 16 persen naik ke 24 persen, sudah hampir seperempat penduduk,” ungkap Samuel.
Seiring dengan hal tersebut, Samuel melihat adanya peningkatan kualitas hidup masyarakat. Selain berkurangnya kemacetan, perusahaan melihat transportasi publik bisa menghemat biaya.
“Meningkatnya kualitas hidup sebenarnya berawal dari transportasi, karena transportasi menghemat waktu, uang untuk spending yang lain bersama keluarga dan lain-lain, itu juga bisa menggerakan perekonomian,” ujarnya.
Peningkatan kualitas hidup tersebut akan terus dijaga melalui pengembangan ruang ketiga yang inklusif. Samuel menekankan bahwa kawasan TOD harus bisa dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat.
“Itu memang akan selalu dijaga oleh MRT, bahwa kami adalah placemaking yang inklusif. Prinsip utamanya di MRT juga bahwa semua segmen harus diakomodasi, no one left behind,” tandas Samuel.
Sebuah stasiun pada akhirnya bukan hanya tempat orang turun dan berganti moda. Ia bisa menjadi pintu menuju sebuah kawasan, dan jika dirancang dengan tepat, menjadi pintu bagi kehidupan baru di dalamnya.
Mungkin inilah wajah MRT Jakarta yang ingin dibangun ke depan, bukan sekadar rel yang menghubungkan kota, melainkan ekosistem yang membuat kota kembali punya alasan untuk hidup.
