Kumparan Logo

ESDM: Data Center Harus Pertimbangkan Pasokan Listrik dan Air yang Besar

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wamen ESDM Yuliot Tanjung di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (25/5/2026). Foto: Abid Raihan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wamen ESDM Yuliot Tanjung di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (25/5/2026). Foto: Abid Raihan/kumparan

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyoroti bahwa proyek data center membutuhkan pasokan listrik dan air yang sangat besar.

Saat ini, Indonesia tengah mengembangkan beberapa data center, misalnya di Nongsa Digital Park Batam maupun di atas Waduk Jatiluhur meskipun proyeknya tengah diterminasi sementara.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyarankan agar masifnya pembangunan data center di dalam negeri perlu memperhatikan keberlanjutan sumber daya energi maupun air.

“Data center itu, kan, membutuhkan dua, itu listrik besar dan juga ketersediaan air. Jadi kita juga ada yang melihat itu pengembangan data center itu sesuai dengan potensi listrik dan ketersediaan air,” katanya di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (2/10).

Proyek data center BDX di Waduk Jatiluhur dihentikan sementara hingga seluruh perizinan rampung. Permintaan itu disampaikan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi proyek pada 28 Juli 2026.

Dalam dialog dengan pihak BDX dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purwakarta, Dedi mempertanyakan kelengkapan izin pembangunan gedung yang direncanakan memiliki lima lantai tersebut. Saat menanyakan status izin bangunan, pihak BDX menyebut proses perizinan masih berjalan.

"Kalau on process jangan dulu dimulai dong Pak. Nah apa yang menjadi problem Bapak lambat?" ujar Dedi dalam video yang diterima kumparan, Jumat (2/10).

Ilustradi data center. Foto: Gorodenkoff/Shutterstock

Sebelumnya, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pembangunan jaringan transmisi listrik hijau sepanjang 47.758 kilometer hingga 10 tahun ke depan bisa mendukung pengembangan digitalisasi, terutama data center dan kecerdasan buatan.

"Data center ini adalah industri yang momentumnya 3-4 tahun ke depan. Seluruh negara sedang berlomba-lomba," ungkapnya saat Investor Trust Seminar Nasional Green Economy 2045, Selasa (29/9).

Airlangga menjelaskan, kapasitas data center yang sudah terbangun di Indonesia sebesar 800 megawatt (MW) atau 0,8 GW. Dalam waktu dekat, kata dia, akan ada tambahan sekitar 1,5 GW.

"Kali ini kita kapasitasnya sekitar 800 megawatt, dan ini dalam waktu dekat saya belum tahu yang dimonitor di BKPM berapa, tetapi diperkirakan setara dengan 1,5 gigawatt dalam waktu dekat," jelas Airlangga.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha, mengatakan bahwa Indonesia sangat cocok menjadi pusat data center karena sumber daya yang andal dan berkelanjutan.

Sumber daya tersebut tidak hanya dari sisi ketersediaan listrik hijau, namun juga air. Air sangat penting untuk keberlangsungan operasional data center sebagai sistem pendinginan (cooling-down system).

"Amerika menyetop, Singapura menyetop, karena mereka tidak mempunyai supply yang reliable. Kita membutuhkan reliability di dalam suplai data center. Beberapa negara mengatakan karena kebutuhan cooling system yang digunakan oleh data center menimbulkan water balance-nya terpengaruh," ungkap Satya.