Pertamina Sebut Harga BBM Nonsubsidi-Avtur RI Lebih Murah dari Negara Tetangga

PT Pertamina (Persero) menyatakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi maupun avtur di Indonesia termasuk yang paling murah dibandingkan negara-negara tetangga.
Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis Pertamina Patra Niaga, Joko Pranoto, mengatakan harga BBM nonsubsidi cenderung stabil pada 2025 hingga awal 2026, namun melesat signifikan sejak Maret 2026. Khusus untuk Pertamax dan Pertamax Green 95, kenaikan terjadi sejak Juni 2026.
"Jadi kenaikan harga BBM nonsubsidi dan avtur ini memang mayoritas dipengaruhi karena faktor geopolitik sejak 28 Februari 2026," ujar Joko saat Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di Jakarta, Senin (5/10).
Meski demikian, pada Oktober 2026, seluruh produk Pertamina tidak mengalami kenaikan dan masih sama dengan harga September 2026. Di wilayah Jakarta, Pertamax Turbo (RON 98) dibanderol Rp 19.600 per liter, Pertamax Green 95 Rp 19.150 per liter, dan Pertamax Rp 15.950 per liter.
Sedangkan produk diesel, Dexlite seharga Rp 23.700 per liter dan Pertamina Dex Rp 25.200 per liter. Adapun BBM subsidi juga belum berubah yakni Pertalite Rp 10.000 per liter dan Bio Solar Rp 6.800 per liter.
Menurut Joko, harga BBM dan avtur tersebut masih sangat kompetitif dibandingkan negara tetangga baik di Asia Tenggara, Australia, maupun negara Asia terdekat seperti India dan Pakistan. Bahkan, harga avtur Indonesia disebut yang termurah di Asia Tenggara.
"Walaupun kita masih berusaha untuk menekan, tidak benar-benar menyesuaikan dengan harga market di dunia, dan ini terlihat kalau komparasinya memang overall relatif kita masih lebih murah daripada negara sekitar," ungkap Joko.
Kendati begitu, Joko mengingatkan harga bahan bakar di Indonesia masih dikenakan pajak, sehingga ketika harga naik, besaran pajaknya pun ikut meningkat.
Hal ini berbeda dengan sejumlah negara seperti Thailand, Vietnam, Kamboja, dan Laos yang memberikan insentif pengurangan pajak dan cukai, bahkan Brunei membebaskan PPN untuk bahan bakar. Malaysia memberlakukan pajak berbeda di setiap produk BBM, sementara Singapura dan Australia sepenuhnya melepas harga BBM ke mekanisme pasar sehingga harganya cenderung paling mahal.
"Makanya terlihat bagaimana negara-negara yang lain itu mengontrol kenaikan harga walaupun ujungnya juga masih relatif tinggi dengan mekanisme tax reduction," tutur Joko.
Berdasarkan catatan Pertamina pada September 2026, sejumlah negara mematok harga bensin RON 97 atau 98 lebih tinggi dari Indonesia, yakni Brunei Darussalam Rp 21.873 per liter, Malaysia Rp 21.927 per liter, Thailand Rp 26.424 per liter, dan Filipina Rp 27.301 per liter.
Untuk avtur, Pertamina Patra Niaga mematok harga Rp 20.190 per liter. Angka ini lebih rendah dibandingkan Vietnam sebesar Rp 20.619 per liter, Australia Rp 28.950 per liter, Thailand Rp 33.377 per liter, Singapura Rp 44.202 per liter, dan Malaysia Rp 46.006 per liter.
