RI Siapkan Perpres, Targetkan Ratifikasi I-EU CEPA Rampung Oktober 2026

Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menargetkan proses ratifikasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) segera ditandatangani pada Oktober 2026.
Airlangga menyelenggarakan pertemuan dengan para Duta Besar negara Uni Eropa (UE) untuk Indonesia, Jumat (21/8), untuk membahas perkembangan ratifikasi, sekaligus persiapan implementasi I-EU CEPA dengan pelaku industri.
"Dokumentasi dalam versi bahasa Inggris sudah segera diselesaikan dan ditargetkan di bulan Oktober, mudah-mudahan ini bisa ditandatangani, dan sesudah tanda tangan akan dibawa ke parlemen EU untuk mendapatkan ratifikasi," ujar Airlangga saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Jumat (21/8).
Airlangga menyebut aturan I-EU CEPA telah dibahas bersama Menteri Perdagangan Budi Santoso maupun DPR. Dia menyebut aturan tersebut akan dituangkan dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres).
Dikebutnya ratifikasi tersebut menyusul rencana Komisioner Eropa untuk Perdagangan dan Keamanan Ekonomi UE, Maroš Šefčovič, bersama presiden negara-negara UE datang ke Indonesia pada Oktober atau November.
"Kemungkinan Indonesia akan menggunakan mekanisme Perpres karena sudah didiskusikan dengan DPR sehingga implementasinya akan lebih cepat," tutur Airlangga.
Airlangga menyatakan I-EU CEPA akan diimplementasikan setelah proses ratifikasi dari kedua negara rampung. Indonesia juga akan menyiapkan aturan turunan atau implementing agreement berupa Peraturan Pemerintah (PP).
Dia menuturkan I-EU CEPA diharapkan bisa berlaku sebelum fasilitas perdagangan unilateral dari Uni Eropa, Generalised Scheme of Preferences (GSP), berupa pemotongan atau penghapusan bea masuk dari produk negara berkembang berakhir pada akhir tahun ini.
Melalui I-EU CEPA, pemerintah Indonesia berharap akses pasar ke Uni Eropa semakin luas setelah 90 persen dari pos tarif perdagangan antar kedua negara bisa langsung menjadi 0 persen.
Airlangga menyebut sektor prioritasnya yakni energi terbarukan, industri digital, keamanan siber, agrikultur, manufaktur, mineral kritis, hingga ekosistem baterai kendaraan listrik.
"Hubungan ekonomi Indonesia-Eropa itu sudah mulai dari abad ke-15, dari eksportir rempah-rempah Indonesia ke Eropa dan tentu sekarang sudah waktunya kita membuat kerja sama yang lebih setara dan kedua-duanya untuk memanfaatkan kesejahteraan daripada masyarakat EU dan Indonesia," kata Airlangga.
Sementara itu Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Denis Chaibi, mengatakan acara tersebut menjadi kesempatan dan komitmen yang besar bagi kedua belah pihak untuk segera menandatangani ratifikasi I-EU CEPA untuk menggencarkan investasi.
Selain itu, Denis juga mengungkapkan bahwa Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) telah mengajukan satuan tugas (satgas) alias task force agar kerja sama pelaku industri bisa terlibat tidak hanya secara teknis, namun juga secara bilateral antar pemerintahan.
"Perjumpaan seperti ini memungkinkan negara-negara EU untuk berinteraksi dengan menteri agar kita bisa menyiapkan implementasi CEPA dan mengembalikan potensi untuk investasi seperti yang Anda sebutkan. Kami sangat senang Apindo mengajukan task force bersama agar bisnis terlibat dalam persiapan CEPA tidak hanya secara teknis, tetapi juga secara bilateral dengan Menteri," jelasnya.
