Sentuhan MRT yang Hidupkan Kembali Jiwa Blok M

Selera orang bisa saja berganti, namun pusat gravitasi anak muda Jakarta tidak berubah dari masa ke masa. Blok M, sebuah kawasan strategis di Jakarta Selatan, hingga kini masih tetap relevan buat lintas generasi.
Kawula muda yang dulu memenuhi kawasan Blok M kini beranjak dewasa, melahirkan generasi milenial, Gen Z, atau bahkan Alfa. Dengan tren dan gaya hidup yang berbeda, anak-anak tersebut ternyata betah beraktivitas di tempat nongkrong yang sama dengan orang tuanya.
Helmy (53) melihat Blok M sebagai tempat nongkrong yang asyik pada tempo 1990-an. Khususnya pada akhir pekan, anak-anak muda berkumpul dari malam sampai menjelang pagi, terutama di Jalan Melawai Raya.
“Di sana ya pada kumpul-kumpul aja sesama anak muda dan tak lupa makan nasi atau mi goreng tek-tek abang-abang gerobak pinggir jalan,” kenangnya.
Menurutnya, Blok M relatif sangat mudah diakses baik dari arah Jakarta Pusat, Timur, Barat, dan Selatan. Selain itu, hampir semua kebutuhan gaya hidup anak muda tersedia di Blok M. Seperti pakaian yang hits pada masa itu, kaset musik, hingga kuliner.
Meski sempat sepi beberapa saat, namun Helmy menilai Blok M berhasil bangkit dan kembali digandrungi para remaja dan dewasa muda, termasuk buah hatinya sendiri. Ia juga kerap menyambangi Blok M untuk bernostalgia. Biasanya, ia berkunjung ke Jalan Melawai dan mencari kopi yang enak.
“Saya juga masih sering walaupun sudah enggak muda lagi. Kawasan Blok M sempat agak sepi alias mati beberapa saat tapi geliatnya sekarang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Sekarang Blok M tambah lengkap dan komplit,” jelas Helmy.
Sejarawan Reyhan Biadillah mengatakan, tumpah ruahnya anak-anak muda memadati Blok M sebagai tempat nongkrong yang tak lekang oleh waktu, tidak bisa dilepaskan dari peran transportasi umum yang terintegrasi.
Reyhan menjelaskan, pembangunan Blok M secara umum diproyeksikan seperti kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Mulai dibangun sejak tahun 1948, kawasan Blok M awalnya hanya merupakan pemukiman elite.
Baru setelah ada pembangunan Pasar Raya Blok M dan pusat perbelanjaan modern seperti Blok M Plaza dan mal bawah tanah sekitar tahun 1970-1980, kawasan tersebut menjelma sebagai sentra kebudayaan populer paling nge-hits pada zamannya.
“Maka seperti magnet, perputaran ekonomi di seputaran Blok M berputar kencang. Terlebih ada kemudahan transportasi umum yang mengarah ke Blok M pada tahun 80 hingga kini,” katanya saat dihubungi kumparan.
Reyhan melanjutkan, sudah banyak transportasi umum yang tersedia di Blok M pada tahun 1980-an, misalnya Metromini, bus Kopaja, bahkan bus-bus besar Perum PPD hingga Mayasari yang rutenya menjangkau Jakarta Utara dan Tangerang.
“Transportasi umum itu sangat penting untuk lalu lintas pergerakan manusianya. Boleh dibilang Blok M ya salah satu pusat keramaian kota Jakarta yang cukup dekat, layak, serta murah untuk ukuran anak muda,” tuturnya.
Jiwa Baru yang Bangkit di Blok M
Ada masa ketika Blok M nyaris kehilangan pamornya. Kawasan yang menjadi magnet anak muda Jakarta itu perlahan sepi, dan sejumlah ruang publiknya tak lagi menjadi tujuan masyarakat.
Kini, puluhan ribu orang kembali mendatangi Blok M setiap hari, bahkan magnetnya semakin kuat. Perubahan itu tidak datang hanya dari satu proyek fisik. PT MRT Jakarta (Perseroda) mencoba mengembangkan Blok M sebagai salah satu proyek kawasan berorientasi transit (TOD).
Dengan pendekatan konsep placemaking, MRT Jakarta menciptakan Blok M menjadi kawasan yang memiliki identitas, menarik untuk dikunjungi, sekaligus terhubung dengan transportasi publik.
Perubahan dimulai dari revitalisasi Taman Christina Martha Tiahahu alias Taman Literasi. Taman yang sudah berdiri sejak 1948 itu dipoles dari awalnya terbengkalai dan penuh rumput liar, menjadi ruang publik yang nyaman pada tahun 2022.
Kemudian pada tahun 2025, revitalisasi dilanjutkan dengan pengembangan kawasan yang mencakup Terminal Blok M, Plaza 1 dan Plaza 2, serta area basement, menjadi Blok M Hub.
Division Head Business Planning and Expansion Division PT MRT Jakarta (Perseroda), Samuel Ryan Pradipta Pranowo, mengatakan revitalisasi tersebut berhasil meningkatkan pengunjung harian hingga lebih dari 100 kali lipat.
“Trafik Blok M yang dulu sehari cuma 400 orang waktu masih tamannya bentuknya Bronx banget, sudah hampir mati kawasannya. Sekarang per hari itu sudah 40 ribu orang di hari kerja, weekend itu 60-70 ribu tanpa event, kalau ada event itu sempat sampai 80-90 ribu,” ungkapnya saat Kelas MRTJ Fellowship Program 2026, Rabu (9/9).
MRT Jakarta, lanjut Samuel, menggunakan pendekatan Urban Youth Hub sebagai ‘jiwa’ pengembangan kawasan TOD Blok M. Namun, konsep itu tidak hanya memuaskan hasrat anak generasi sekarang, tapi juga ‘kawula muda’ zaman dahulu yang ingin bernostalgia.
“Orang-orang yang dulu mungkin angkatan ayah ibu kita, dulu suka ke Blok M zaman SMA-nya, zaman sekolahnya, itu bisa nostalgia kembali ke Blok M. Jadi menikmati tidak cuma anak-anak mudanya, tapi juga sampai generasi yang lebih tua-nya,” tutur Samuel.
Hal ini membuat kawasan Blok M tetap inklusif, tidak hanya untuk anak muda, tapi juga orang tua yang ingin mengenang masa mudanya. Pun tidak hanya bagi pengguna kendaraan pribadi, namun bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat melalui transportasi umum.
“Inklusif itu sebetulnya yang membuat Blok M hidup, karena MRT mengakomodasi middle class, bahkan middle to low juga. Dan prinsip ini akan dibawa ke semua placemaking-nya MRT,” ujarnya.
Revitalisasi yang Masih Setengah Jalan
Kendati sudah ada begitu banyak perubahan yang dirasakan, MRT Jakarta belum berhenti mencanangkan revitalisasi lanjutan di kawasan Blok M. Samuel mengatakan, perusahaan mencoba mengadaptasi kawasan metro di negara lain, seperti Jepang, Hong Kong, hingga Taiwan.
“Walaupun itu baru setengah jalan ya, Blok M akan dibuat jauh lebih rapi dan lebih bagus lagi. Jadi kami sebetulnya baru setengah jalan untuk revitalisasi Blok M,” tegas Samuel.
Setelah melewati revitalisasi Taman Literasi dan pengembangan Blok M Hub, MRT Jakarta akan melanjutkan revitalisasi Blok M secara vertikal untuk mengintegrasikan kawasan perkantoran dan hunian dengan transportasi umum, setidaknya mulai tahun 2027.
“Kalau sekarang Blok M itu cuma di bawah tanah sama di ground level jalan raya, nanti akan ada area untuk kantor, hunian apartemen. Jadi nanti kawasannya akan diperbesar, tapi ke atas, bertingkat,” tuturnya.
Selain itu, Samuel melanjutkan bahwa revitalisasi lanjutan akan mencakup Terminal Bus Blok M untuk meningkatkan kenyamanan pengguna bus antarkota maupun dalam kota.
“Termasuk terminal Blok M untuk Transjakarta pun nanti akan direvitalisasi lebih nyaman. Jadi jalur busnya lebih banyak, terus ada tempat tunggu bus enggak kena panas, enggak kena hujan. Harusnya itu akan jadi jauh lebih nyaman,” tandas Samuel.
Dari sebuah simpul transportasi, Blok M diarahkan menjadi simpul kehidupan urban. Mempertahankan keramaian ini butuh lebih dari sekadar menjaga infrastruktur, bahwa ketika generasi berganti, identitas kawasan pun harus mampu beradaptasi.
Karena itu, revitalisasi Blok M menjadi pekerjaan yang terus berjalan. MRT Jakarta memastikan kawasan ini tetap mudah diakses, nyaman, inklusif, dan relevan bagi generasi berikutnya.
