Kumparan Logo

Setahun Terakhir, Penjualan Harian Pertamax Green 95 Melesat 446 Persen

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Pertamax Green 95. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pertamax Green 95. Foto: Dok. Istimewa

PT Pertamina (Persero) mencatat penjualan Pertamax Green 95, campuran bensin dengan 5 persen etanol atau bioetanol (E5), melonjak hingga 267 persen, dengan rata-rata penjualan harian melesat 446 persen dalam setahun terakhir.

Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo, mengatakan perusahaan telah menjual Pertamax Green 95 sejak pertengahan 2023, dan saat ini sudah ada 190 SPBU yang menyalurkan produk BBM nonsubsidi tersebut.

"Kita bisa melihat sejak tahun awal tahun 2025 sampai dengan Agustus 2026 tren penjualan ini mengalami peningkatan 267 persen. Bahkan kalau kita melihat dari sisi penjualan rata-rata harian tren kenaikannya lebih tinggi yaitu mencapai 446 persen," ujarnya saat rapat Komisi XII DPR, di Jakarta, Selasa (8/9).

Secara rinci, pada Januari 2025 rata-rata penjualan harian Pertamax Green 95 tercatat 17 kiloliter (KL) per hari, sementara pada Agustus 2026 sudah mencapai 134 KL per hari.

Secara year to date (ytd), rata-rata penjualan harian pada 2025 sebesar 24 KL, naik menjadi 132 KL pada 2026, atau tumbuh 446 persen.

"Rata-rata sales penjualan Pertamax Green ini adalah 132 KL per hari. Ini meningkat cukup signifikan karena kalau kita melihat di awal tahun Januari itu masih sekitar 17 KL per hari," ucapnya.

Dirut Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, saat cek SPBU di Sulawesi jelang Nataru. Foto: Pertamina Patra Niaga

Ia menambahkan, tren penjualan tersebut turut diimbangi dengan perluasan sebaran outlet Pertamax Green, meski saat ini masih terkonsentrasi di Pulau Jawa lantaran Pertamina masih berkoordinasi dengan Kementerian ESDM terkait sourcing atau penyedia bioetanol.

Sebarannya mencakup 28 SPBU di Banten, 40 SPBU di DKI Jakarta, 53 SPBU di Jawa Barat, 16 SPBU di Jawa Tengah, 6 SPBU di Yogyakarta, dan 47 SPBU di Jawa Timur.

Di luar capaian penjualan, Mars Ega mengungkapkan masih ada sejumlah tantangan dalam penyaluran bioetanol maupun biodiesel, terlebih implementasi B50 saat ini pasokannya sudah menjangkau wilayah dari Sabang sampai Merauke. Salah satu kendalanya, terdapat 17 terminal BBM Pertamina Patra Niaga yang berada di alur sungai rawan pendangkalan.

"Tentunya ini kita harus bersama-sama nanti memberikan solusi agar layanan kepada masyarakat," ungkapnya.

"Pertamina Patra Niaga tidak bisa sendirian untuk menjaga agar alur-alur sungai di terminal-terminal BBM ini dapat kita kendalikan atau setidaknya jangan sampai mengganggu pasokan BBM termasuk pasokan FAME di wilayah-wilayah tersebut," lanjutnya.

Ilustrasi Pertamax Green 95. Foto: Dok. Istimewa

Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi menyebut kapasitas produksi bioetanol nasional saat ini baru mencapai 70.500 KL.

Eniya mengakui kapasitas produksi tersebut belum cukup untuk memenuhi kebutuhan jika kebijakan bioetanol diwajibkan atau dimandatorikan mulai 2027, baik pada kadar 5 persen (E5) maupun 10 persen (E10).