Ketika Bass Menyatukan: Sound Horeg dari Kerumunan Berubah Menjadi Kelompok

"empathy begins with understanding others" - Mahasiswa Psikologi UB
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Farra Tri Adistyarani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah ratusan orang yang awalnya tidak saling mengenal. Namun, ketika bass mulai berdentum, semua bergerak mengikuti irama yang sama. Dalam beberapa saat, batas antara ‘aku’ dan ‘mereka’ seolah menjadi tipis.
Mengapa orang berkumpul untuk menikmati sound horeg? Apa alasan dibaliknya? Yuk kita bahas!

Pernahkah kalian melihat kerumunan orang yang berkumpul di sound horeg? Mereka yang awalnya tidak saling mengenal, datang dari tempat yang berbeda, bahkan memiliki alasan yang berbeda pula untuk datang. Ketika musik mulai dimainkan dan bass mulai menggelegar, suasana perlahan berubah. Orang-orang mulai bergerak mengikuti irama, berjoget, dan menikmati euforia bersama. Dari sekumpulan orang yang awalnya tidak saling terikat, perlahan muncul perasaan seolah-olah mereka sedang berada dalam satu ruang yang sama.
Fenomena sound horeg bukan hanya sebagai bentuk hiburan, tetapi juga fenomena psikologis. Perasaan euforia didalamnya tercipta dari sentimen dan perasaan kolektif. Ketika seseorang melihat orang lain ikut berjoget dapat membuat dirinya ikut merasakan emosi yang sama pula. Euforia yang awalnya dirasakan oleh beberapa orang kemudian dapat menyebar ke orang lain melalui interaksi dan suasana kelompok. Seseorang yang awalnya hanya menikmati pertunjukan saja, dapat memunculkan dorongan untuk ikut berpartisipasi.
Kalau mereka ikut berjoget, kenapa aku tidak?
Inilah gambaran dari konformitas. Konformitas ialah kecenderungan seseorang untuk menyesuaikan dirinya dengan perilaku orang-orang disekitarnya. Konformitas membuat suasana semakin hidup. Semakin banyak orang yang ikut berjoget dan bersorak, maka semakin kuat pula perilaku tersebut dianggap sebagai hal yang wajar dan normal. Orang yang awalnya hanya menonton akhirnya larut dalam suasana. Bukan hanya selalu terpaksa, tetapi karena manusia merupakan makhluk sosial yang sensitif terhadap perilaku dan respons orang lain.
Akan tetapi, sound horeg tidak lepas dari keresahan warga. Sound horeg menjadi hiburan bagi masyarakat, juga sekaligus menjadi sumber keresahan. Di sisi lain, bagi sebagian masyarakat, sound horeg bukanlah menjadi hiburan. Suara yang sangat keras dapat menimbulkan ketidaknyamanan pendengaran, mereaksi gangguan kardiovaskular, hingga gangguan kognitif. Dalam hal ini, menimbulkan pernyataan bahwa pengalaman yang sama tidak selalu menghasilkan respons yang sama bagi setiap orang. Perbedaan tersebut justru menunjukkan bahwa sebuah kerumunan dapat berkembang menjadi kelompok dengan identitas dan perasaan yang sama.
Yang awalnya hanya sekumpulan orang yang berkerumun, dapat berubah menjadi kelompok yang memiliki pengalaman dan perasaan yang sama. Terkadang yang menyatukan sebuah kelompok bukan karena mereka sudah mengenal sejak awal, tetapi karena mereka pernah merasakan hal yang sama. Dalam fenomena sound horeg, sesuatu tersebut dimulai dari dentuman bass yang kuat.
