Persepsi: Senjata Paling Tajam Abad Ini

Political Communication Strategist
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Farras Fadhilsyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama bertahun-tahun menganalisis fenomena komunikasi dan politik, saya menemukan satu pesan Persepsi tentang kebenaran jauh lebih powerful daripada kebenaran itu sendiri. Karena pada akhirnya, manusia membuat keputusan berdasarkan apa yang mereka percayai benar, bukan berdasarkan kebenaran objektif. Inilah mengapa persepsi adalah senjata paling tajam di dunia pada abad ini.
Bagaimana Narasi Menciptakan Persepsi
Untuk memahami ini, kita perlu melihat bagaimana proses komunikasi bekerja dalam membentuk persepsi publik.
Menurut teori Agenda Setting yang dikemukakan oleh McCombs dan Shaw, media tidak selalu berhasil memberi tahu orang apa yang harus dipikirkan, tetapi media sangat berhasil dalam memberitahu orang tentang apa yang harus dipikirkan. Dengan kata lain, media menentukan agenda apa yang dianggap penting dan apa yang tidak.
Selanjutnya, teori Framing menjelaskan bahwa cara kita menyajikan informasi akan mempengaruhi bagaimana publik memaknainya. Informasi yang sama bisa dipresentasikan dengan frame yang berbeda, dan hal itu akan menghasilkan interpretasi yang sangat berbeda dari publik.
Proses itu berlanjut melalui apa yang disebut Social Amplification of Risk Framework ketika informasi tersebar di media sosial dan diperkuat oleh percakapan publik, maka persepsi tentang risiko atau urgensi akan semakin membesar, tidak peduli apakah risiko itu objektif atau tidak.
Masalah di era digital adalah proses ini berjalan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Narasi bisa menyebar ke jutaan orang dalam hitungan menit. Dan yang lebih berbahaya, narasi palsu menyebar dengan kecepatan yang sama dengan narasi benar.
Paradoks Narasi: Ketika Salah Menjadi Benar
Di sini terletak paradoks yang paling mengganggu saya: Narasi palsu yang beredar luas bisa menutup narasi benar.
Saya sering menggunakan analogi ini karena nila setitik, rusak susu sebelanga Demikian dengan informasi benar yang masuk ke ruang publik yang sudah tercemar narasi palsu. Kebenaran itu sendiri akan kehilangan warna aslinya.
Contoh paling nyata adalah kasus Cambridge Analytica dan Facebook pada pemilu Amerika Serikat 2016. Riset menunjukkan bahwa narasi palsu hoaks tentang calon, tentang kebijakan, tentang lawan tersebar masif melalui media sosial. Yang mengejutkan: akun-akun yang menyebarkan hoaks itu teridentifikasi berasal dari Rusia. Ini bukan sekadar penyebaran informasi salah. Ini adalah peperangan di level persepsi, dimana senjatanya adalah cara kita memahami realitas.
Menurut teori Credibility Theory, kepercayaan publik terhadap sumber informasi dibangun dari dua hal: expertise (keahlian) dan trustworthiness (dapat dipercaya). Namun ketika ruang publik penuh dengan narasi yang saling berkontradiksi, publik akan menjadi bingung tentang siapa yang sebenarnya expert dan siapa yang dapat dipercaya. Dalam kebingungan itu, narasi yang paling emosional, paling sensasional, atau paling sesuai dengan keyakinan yang sudah ada akan lebih mudah diterima tidak peduli apakah itu benar atau salah.
Indonesia: Kondisi yang Lebih Kompleks
Ketika saya menganalisis fenomena serupa di Indonesia, saya menemukan lapisan kompleksitas tambahan. Indonesia memiliki karakteristik unik yang membuat persepsi publik mudah terbentuk dan sulit untuk diperbaiki:
Pertama, penetrasi digital yang tinggi namun literasi digital yang masih rendah. Banyak orang bisa mengakses internet, tapi tidak semua memiliki kemampuan untuk membedakan informasi benar dan salah.
Kedua, trust terhadap institusi yang fluktuatif. Ketika kepercayaan terhadap institusi sudah lemah, maka narasi apapun yang negatif akan lebih mudah diterima. Menurut teori Institutional Trust and Risk Perception, ketika publik tidak percaya pada institusi, mereka akan lebih mudah menginterpretasi tindakan institusi dengan cara yang negatif.
Ketiga, kecepatan penyebaran informasi lebih cepat daripada kemampuan koreksi. Faktanya, hoaks bisa menyebar tiga kali lebih cepat daripada koreksi atas hoaks tersebut. Ini karena hoaks biasanya lebih emosional dan sensasional, sementara koreksi biasanya datar dan membosankan.
Kombinasi ketiga faktor ini menciptakan kondisi yang sangat rawan. Persepsi publik bisa terbentuk dengan cepat, dan ketika persepsi itu sudah terbentuk, ia akan sangat sulit untuk diubah. Hal ini bukan hanya masalah komunikasi belaka ini adalah masalah stabilitas negara.
Studi Kasus MSCI dan BEI
Beberapa waktu lalu, saya melihat contoh yang sangat menarik tentang bagaimana kejujuran bisa mengalahkan narasi buruk. Ketika MSCI membuat keputusan terhadap pasar modal Indonesia, narasi negatif segera tersebar. Spekulasi tentang apa yang salah bermunculan di media sosial dan media finansial. Panik mulai terjadi.
Namun respons BEI dan OJK terhadap situasi ini patut diperhatikan. Mereka tidak melakukan apa yang biasanya dilakukan oleh institusi dalam situasi krisis mereka tidak meluncurkan campaign counter-narasi yang agresif untuk "membela" keputusan atau institusi mereka.
Sebaliknya, mereka cepat mengadakan konferensi pers dan mengakui adanya kelemahan dalam sistem mereka, kemudian berkomitmen untuk evaluasi. Ini adalah respons yang terlihat sederhana, tapi sebenarnya sangat powerful.
Menurut teori Situational Crisis Communication Theory (SCCT) yang dikembangkan oleh Timothy Coombs, salah satu respons krisis yang paling efektif adalah full apology pengakuan penuh atas kesalahan disertai dengan komitmen untuk perbaikan. Respons ini lebih efektif daripada denial atau defensiveness dalam memulihkan kredibilitas institusi.
Mengapa? Karena pengakuan atas kesalahan menunjukkan bahwa institusi itu jujur dan peduli kepada stakeholder mereka. Dalam teori Image Restoration Theory, ketika institusi mengakui kesalahan dan menunjukkan tindakan nyata untuk memperbaiki, mereka sebenarnya sedang memulihkan kepercayaan publik.
Kontras ini dengan institusi yang memilih defensive mode membantah, membuat excuse, atau meluncurkan counter-narasi. Respons seperti itu justru akan memperkuat persepsi negatif, karena publik akan menganggap institusi itu tidak jujur dan tidak peduli.
Mengapa Empati Mengalahkan Narasi
Inilah yang menurut penulis paling penting untuk dipahami: Cara terbaik untuk melawan narasi buruk bukanlah dengan membuat narasi yang lebih baik, melainkan dengan menunjukkan empati dan kejujuran.
Ini adalah paradoks yang banyak diabaikan oleh para praktisi komunikasi. Insting pertama ketika dihadapkan dengan narasi buruk adalah untuk melawan dengan narasi yang "lebih baik". Tapi logika ini ternyata tidak bekerja dengan baik di era digital.
Menurut teori Psychological Reactance, ketika publik merasa sedang "diserang" oleh narasi counter, mereka akan cenderung untuk lebih memperkuat keyakinan awal mereka. Dengan kata lain, membuat counter-narasi yang agresif justru akan memperkuat persepsi negatif, bukan mengubahnya.
Namun ketika institusi menunjukkan empati dengan mengakui kesalahan, mendengarkan concern publik, dan berkomitmen untuk memperbaiki maka terjadi apa yang disebut emotional contagion. Publik akan merespons empati dengan empati balik. Ini adalah prinsip reciprocity dalam psikologi sosial.
Selain itu, ada teori Situational Transparency yang menjelaskan bahwa ketika institusi terbuka dan transparan tentang masalah yang mereka hadapi, maka publik akan lebih mudah memahami konteks dan akan lebih toleran terhadap kesalahan. Transparansi memutus siklus spekulasi dan asumsi negatif.
Kebijakan yang Lahir dari Empati
Menurut penulis, ada satu hal yang sering diabaikan: Komunikasi yang penuh empati sebenarnya adalah fondasi dari kebijakan yang baik.
Mengapa? Karena empati memaksa pembuat kebijakan untuk benar-benar memahami kebutuhan dan kekhawatiran dari mereka yang akan terkena dampak kebijakan itu. Ketika BEI dan OJK berkomitmen untuk evaluasi, itu bukan sekadar "lip service" itu adalah pengakuan bahwa ada sesuatu dalam sistem mereka yang perlu diperbaiki dari perspektif pasar dan investor.
Sebaliknya, kebijakan yang lahir dari defensive mindset atau dari keinginan untuk "menang" dalam perang narasi akan seringkali menghasilkan kebijakan yang tidak responsive dan tidak sustainable. Mereka mungkin berhasil memenangkan narasi dalam jangka pendek, namun mereka kehilangan kepercayaan dalam jangka panjang.
Ketika saya memulai perjalanan saya mencoba memahami komunikasi, saya kira ini adalah tentang teknik
bagaimana cara menyampaikan pesan, bagaimana cara membuat statement yang powerful, bagaimana cara manage media.
Namun setelah bertahun-tahun, saya menyadari bahwa komunikasi itu jauh lebih kompleks. Ia adalah perpaduan antara strategi dan etika, antara kekuasaan dan empati, antara mencoba mengontrol narasi dan melepaskan kontrol demi kepentingan yang lebih besar. Itulah kompleksitas komunikasi modern yang menurut penulis harus kita pahami bersama.
