Konten dari Pengguna

Presiden & Netizen: Mendengar, Memimpin, Mengubah

Farras Fadhilsyah

Farras Fadhilsyah

Political Communication Strategist

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Farras Fadhilsyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Instagram @sekretariat.kabinet
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Instagram @sekretariat.kabinet

Presiden Indonesia menunjukkan gaya komunikasi yang responsif terhadap keluhan Masyarakat dan hal ini menjadi salah satu modal politik yang jarang dibahas secara mendalam dalam konteks ekonomi makro.

Komunikasi Politik dalam Era Responsif

Dalam kajian komunikasi politik modern, responsive governance menjadi indikator utama dari pemerintahan yang dianggap demokratis dan efektif. Menurut Manuel Castells (2009), legitimasi kekuasaan di era jaringan ditentukan oleh kecepatan dan transparansi komunikasi pemimpin dengan rakyat. Pemimpin yang mampu menangkap keluhan publik dan mengubahnya menjadi kebijakan, akan memperkuat trust capital modal kepercayaan yang jauh lebih bernilai dari sekadar modal elektoral.

Respons cepat juga mencerminkan issue management strategy, di mana pemerintah secara aktif mengidentifikasi, memonitor, dan menanggapi isu sebelum menjadi krisis (Regester & Larkin, 2005). Strategi ini tidak hanya mencegah gejolak sosial, tetapi juga menunjukkan tata kelola yang solid di mata investor.

Strategi Komunikasi Presiden sebagai Penentu Citra

Kepemimpinan Presiden Indonesia Prabowo Subianto saat ini menunjukkan praktik komunikasi politik yang direct, quick-response, dan publik-sentris. Setidaknya ada beberapa contoh konkret:

1. Kasus Pagar Laut Jakarta Utara – Setelah muncul keluhan nelayan tentang keberadaan pagar laut yang mengganggu akses melaut, Presiden langsung memerintahkan pembongkaran. Ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga simbol bahwa suara marjinal didengar.

2. Pencabutan Izin Pulau di Raja Ampat – Setelah sorotan publik dan media terhadap penguasaan pulau oleh pihak swasta, izin tersebut dicabut secara langsung. Langkah ini memperkuat posisi Indonesia dalam konservasi lingkungan, isu yang sangat sensitif di dunia internasional.

3. Pembatalan Kenaikan PPN Tengah Malam

Dalam sebuah langkah yang tidak biasa, Presiden membatalkan rencana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 11% menjadi 12% hanya beberapa jam sebelum pemberlakuan kebijakan tersebut, tepat pada tengah malam. Keputusan ini muncul setelah gelombang kritik publik melalui media sosial dan pelaku usaha. Langkah itu dinilai sebagai bentuk kepemimpinan yang adaptif dan mendengarkan masyarakat luas secara real time. Hal ini juga menciptakan kesan positif di pasar yang khawatir terhadap perlambatan konsumsi domestik.

Langkah-langkah ini kemudian menjadi bahan pemberitaan media global, dari Reuters hingga Bloomberg, yang pada akhirnya membangun citra Indonesia sebagai negara dengan pemimpin yang berpihak pada keadilan dan keberlanjutan.

Dampak terhadap Investasi dan Ekonomi Makro

Citra kepemimpinan yang cepat merespons dan berpihak pada keadilan berdampak pada sovereign trust rating, yang menjadi acuan utama bagi investor global. Moody’s, Fitch, dan S&P Global mencatat bahwa stabilitas politik dan kecepatan respons terhadap krisis sosial menjadi faktor penguat outlook ekonomi Indonesia.

World Bank dan IMF bahkan dalam beberapa laporan tahunannya menekankan pentingnya predictable and responsive governance sebagai indikator iklim investasi yang sehat.

Komunikasi Sebagai Alat Kekuasaan dan Pembangun Ekonomi

Strategi komunikasi Presiden bukanlah sekadar pencitraan. Ini adalah bentuk nyata dari narrative control dan crisis containment, yang berdampak langsung pada persepsi publik dan pelaku usaha. Dalam banyak negara, respons lambat seringkali menjadi awal dari krisis kepercayaan. Namun di Indonesia, respons cepat menjadi sinyal kekuatan.

Saya percaya bahwa ke depan, strategi komunikasi yang responsif dan berpihak seperti ini perlu menjadi standar dalam birokrasi nasional, tidak berhenti di level Presiden. Karena dari komunikasi yang tepat, kebijakan yang adil bisa lahir. Dan dari sana, ekonomi tumbuh tidak hanya karena angka, tetapi karena kepercayaan.