Konten dari Pengguna

Budaya Ketertiban Diam Jepang Pada Chinmoku

Farras Sasmita

Farras Sasmita

Saya Mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Studi Kejepangan.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Farras Sasmita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Shutterstock.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Shutterstock.com

Budaya salah satunya di Jepang, yaitu Chinmoku (沈黙) atau disebut dalam Bahasa Indonesia diam/kebisuan. Definisinya merupakan suatu komunikasi dalam budaya Jepang tetapi secara pendiam. Bisa dikatakan tidak banyak berkomunikasi maupun bersosialisasi antara satu sama dengan lainnya.

Dikarenakan, makhluk sosial di negara Jepang dalam berkomunikasi memiliki salah satu peribahasa yang menjadi sumber bencana yang mengakibatkan bencana antar perkelahian, mental fisik, dan lain-lain yang berakibat negatif. Peribahasa bisa disebut dalam Bahasa Jepang adalah “kuchi wa wazawai no moto” yang bisa di ketahui orang Jepang harus berhati-hati dalam berucap atau mengeluarkan kata-kata.

Budaya Jepang dalam suatu berkomunikasi satu sama lain secara pendiam atau disebut Chinmoku, sebagaimana menggambarkan bahwa mulut adalah alat pengucap yang dikatakan yang dapat menimbulkan perasaan yang didapatkan saat menahan emosi dan lidah saat berbicara.

Chinmoku dikatakan tidak hanya sekedar pandangan komunikatif secara diam saja, tetapi bisa bermakna dan bisa tidak berkata apa-apa dalam suatu pengertian dalam pemikiran seseorang yang dimaknai pemikiran sendiri tersebut. Tetapi, tidak semua Masyarakat memandang sama. Bergantung dari penilaian budaya yang berbeda dan menentukan bagaimana keheningan di interpretasikan.

Sehingga komunikasi Jepang Chinmoku, memiliki ciri-ciri khas yang berbeda, bahwa nilai-nilai dasar budaya ditentukan pada suatu pengertian dari seseorang dalam mengerti fungsi komunikasi Chinmoku antar masyarakat tersebut.

Suatu komunikasi Jepang, Chinmoku bisa dilihat situasi pada sosialisasi dalam suatu percakapan panjang sama seperti dengan rapat. Hal seperti itu biasa dalam situasi saat menjalankan bisnis pekerjaan, perencanaan pendidikan sekolah, dan berbagai lainnya yang sehari-hari menjalankan percakapan. Diam dalam suatu komunikasi di Jepang, merupakan jauh lebih umum dan durasinya lebih lama dibandingkan di negara-negara Barat.

Alasannya sikap diam begitu lazim dalam komunikasi orang Jepang dapat diklasifikasikan menjadi kategori utama yaitu saling pengertian yang tersirat. Dan juga, menunjukkan bahwa orang dapat berkomunikasi satu sama lain melalui telepati. Singkatnya, apa yang penting dan benar di Jepang sering kali muncul dalam diam, bukan dalam ekspresi verbal.

Sumber: Shutterstock.com

Faktor pada Chinmoku dijelaskan, bahwa dari suatu keheningan maupun diam mewarnai bentuk komunikasi sebagai Upaya untuk menjaga keharmonisan kelompok dan kehidupan sosial di Jepang. Dimana Diam alias Chinmoku dapat menghasilkan makna dalam berkomunikasi sehari-hari, yang terdapat tidak hanya sikap negatif dalam pemahaman masyarakat setempat, tetapi juga sikap positif bagi Masyarakat yang mengetahui keberagaman sikap diam yang dikenali pada orang tersebut.

Sumber: shutterstock.com

Sisi pada sikap positif dalam Chinmoku komunikasi Jepang, dihasilkan suasana komunikasi yang tenang dan dapat menjaga keharmonisan dengan baik. Ditambah dapat menghindari konflik ataupun menyakiti perasaan seseorang jika tidak menyadari apa yang dikatakan membuat terjatuh dalam kerusakan mental fisik.

Sehingga lebih terhindari dari permasalahan, dan menjadi lebih baiknya jika bertindak untuk berkomunikasi kalau ditanya seseorang maupun secara private dari suatu perkumpulan banyak orang yang ikut mendengar atau disebut rapat. Walaupun Chinmoku adanya menghasilkan suatu positif dari pandangan seseorang, tetapi pada kebalikan bahwa suatu yang hanya diam saja menimbulkan suatu sikap negatif saja.

Dikarenakan sikap Chinmoku dalam berkomunikasi, bukanlah suatu yang bisa diajak untuk bisa berkoordinasi/kerjasama maupun mengajak berkenalan dalam suatu kelompok kerja ataupun pendidikan. Dibuktikan saja, hanya berdiam diri hingga suatu acara ataupun rapat hanya merasakan suatu ketidak kerjasama dalam saling membantu untuk berpikir dalam bersosialisasi ataupun berkomunikasi dalam rangkaian komunikasi dengan banyak orang tersebut.

Sumber: shutterstock.com

Bisa dikatakan kalau Chinmoku merupakan suatu alasan pada diri seseorang untuk berdiam diri, bahwa bisa dikatakan Tindakan secara contohan. Bahwa ada seseorang tidak tahu apa yang disampaikan, tidak bisa mengikuti alur percakapan dengan jelas/baik, dan bingung tentang apa yang harus dikatakan dalam suatu percakapan yang diucapkan pada otak pola pemikiran tersebut.

Kenyataanya, bahwa sekitar pandangan Masyarakat hanya memandang dengan secara kesalahpahaman saja. Memang tidak ada yang mengerti “mengapa” hanya berdiam saja dan tidak mau bertindak untuk berkomunikasi. Hal ini pada orang Jepang, tidak dapat mengekspresikan atau berbicara sepenuhnya tentang apa yang dirasakan atau dipikirkan, ditambah keterbatasan ini dapat membuat adanya suatu kebencian ataupun pengabaian yang membuat suasana terasa dingin.

Di Jepang dalam dunia sosialisasi menjadi suatu kedisiplinan dalam menjaga suatu komunikasi yaitu secara diam. Dalam suatu kediaman Jepang tidak hanya dalam publik, melainkan bisa suatu interaksi secara private. Dikatakan dalam suatu private secara pemahamannya adalah mengekspresikan dengan tatapan perasaan kosong ataupun diam antar pacar berduaan, berkeluarga, teman kenalan, dan lainnya yang berhubungan selain dari banyaknya orang.

Karena pada sifat diam Chinmoku, merupakan penghindaran dari suatu interaksi satu sama lain walaupun sama dengan berhubungan secara private, kecuali berinteraksi dalam berkomunikasi berkaitan kepentingan pribadi maupun suatu pertanyaan yang ditanya oleh seseorang yang ingin ditanyakan. Tetapi, bisa sebaliknya menyebabkan suatu negatif walaupun diam diri saja yang menyebabkan ekspresi tidak menunjukan saling membantu, melainkan kesalahpahaman mengenai diri seseorang.

Disimpulkan bahwa diam juga berarti pembangkangan dan ketidakpedulian dalam kehidupan orang Jepang. Sosialisasi dalam Jepang menganggap diam tidak hanya menimbulkan suatu hal krisis yang bersifat mengabaikan seseorang saja, tetapi kediaman sebagai cara untuk menghindari ekspresi langsung atau yang berpotensi menyusahkan dapat berfungsi baik secara positif maupun negatif.

Suatu Keyakinan bahwa setiap masyarakat memiliki sifat Chinmoku, karena dalam suatu memiliki kekurangan dalam bersosialisasi maupun berinteraksi satu sama lain yang menyebabkan pandangan masyarakat lainnya berpikir kesalahpahaman dari sudut pandang Chinmoku tersebut.

Masyarakat yang memiliki sifat Chinmoku pasti akan merasakan berat dalam dirinya yang hanya terus-menerus berdiam dalam menghindari berbagai sosialisasi komunitas kecuali hal kepentingan. Mengatakan diri seseorang bahwa kepastiannya lebih memilih diam daripada menyakiti perasaan orang lain. Dimana Chinoku komunitas menghindar dari pendekatan hubungan interpersonal dalam masyarakat secara keseluruhan, yang berakibat keuntungannya, menghindari dari perselisihan dan pertengkaran yang membuat perasaan seseorang tidak begitu terganggu.

Sehingga tidak membuat diri sendiri merasa ikut campur dalam permasalahannya. Kerugiannya, merasakan diri sendiri tidak terbantu dalam membantu sesama manusia dari kesusahan. Akibatnya, merasakan ketidakberanian dan penakut ataupun pengecut sebagai diri masyarakat sendiri. Karena penjelasan lebih jelas dan mengertinya bahwa seseorang tidak langsung mengetahui suatu perasaan yang bisa dimengerti dari pandangan komunitas secara diam saja pada Chinmoku tersebut.

Pada suatu kesimpulan dari budaya komunikasi Jepang, Chinmoku. Salah satu budidaya psikologi Jepang pada suatu sifat manusia yang hanya berdiam diri dalam menjaga kenyamanan diri sendiri maupun sosialisasi orang lain bicara tersebut. Chinmoku mendapat penilaian yang memiliki kelebihan dan kekurangan sebagaimana ketergantungan pendapatan masyarakat dalam Jepang maupun masyarakat luar. Dipastikan, bahwa suatu Chinmoku secara kepastian membuat secara emosional dari kelakuan masyarakat di depan orang lain kurang baik.

Tetapi bermanfaat dalam melatih menjaga ketertiban masyarakat dalam berdiam semenjak saat melakukan suatu keseriusan dan dapat dinilai suatu tatapan yang begitu serius dalam kedisiplinan di depan masyarakat Jepang. Sebagaimana beranggapan paling tertib dan menghargai lingkungan antara sosialisasi komunikasi seseorang. Karena hal itu justru menjaga perasaan orang lain dibandingkan dengan melukai hati orang lain dengan perkataan yang lebih jujur.

DAFTAR PUSTAKA

The Japanese Mind: Communication. Toki.tokyo. 11 Agustus 2021. Web. Diakses 20 September 2022, dari https://www.toki.tokyo/blogt/2016/9/15/the-japanese-mind-communication.

Silence in Japanese Business Culture and Communication. Commicseo-global.com. (Tanpa Tahun). Web. Diakses 20 September 2022, dari https://www.commisceo-global.com/blog/silence-in-japanese-business-culture-and-communication.