Kutub Utara Bergeser, Haruskah Kita Khawatir?

Mahasiswa Komunikasi Marketing Universitas Bina Nusantara
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Farrel Aditya Arifin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tanpa kita sadari, Bumi selalu mengalami pergerakan dan pengubahan pada aspek-aspeknya. Baik yang bisa kita lihat maupun yang tidak. Salah satu aspek tak terlihat milik Bumi yang bisa dikatakan sering mengalami perubahan adalah medan magnetnya. Belakangan ini, ada penemuan yang berkaitan dengan medan magnet Bumi dan kutubnya. Apakah kamu tahu tentang penemuan itu?
Medan magnet Bumi sedang bergeser tidak seperti biasanya. Hal itu, menurut beberapa peneliti, mengakibatkan kutub utara magnetis Bumi (bukan Kutub Utara geografis, daerah berselimut es yang berada di bagian paling utara Bumi) kini melaju dengan kecepatan yang tak terduga. Pergerakan kutub utara tersebut bukanlah hal yang baru, namun akselerasinya kini membuat peneliti berusaha mencari apa dampaknya bagi kita semua Bumi.
Seperti yang kita ketahui, medan magnet Bumi diciptakan oleh perputaran arus nikel dan besi cair dalam inti luar Bumi. Perputaran arus ini lalu menyebabkan adanya arus listrik yang kemudian menghasilkan medan magnet Bumi dengan kutub magnetis utara dan selatan layaknya sebuah batang magnet pada umumnya. Medan magnet tersebut telah lama berfungsi sebagai tameng untuk Bumi, melindungi planet biru tersebut dari radiasi luar angkasa, serta menjadi pembantu navigasi bagi manusia dan hewan.
Kedinamisan arus yang berlangsung dalam inti luar Bumi menyebabkan kutub utara magnetis untuk sewaktu-waktu berpindah posisi. Hal tersebut sudah diobservasi oleh peneliti sejak pertama kalinya kutub utara magnetis berhasil dilacak pada tahun 1831 oleh James Clark Ross. Bahkan, diperkirakan bahwa 780.000 tahun yang lalu, Bumi pernah mengalami fenomena di mana kutub utara dan selatan medan magnet Bumi bertukar posisi dan melemahkan daya magnet dari Bumi. Namun, kini kutub utara medan magnet Bumi sedang bergeser dengan sangat cepat tanpa alasan yang pasti, yakni 55 km per tahun dari utara Kanada menuju Siberia. Hal tersebut meyakinkan peneliti bahwa sebuah pertukaran posisi kutub medan magnet mungkin akan terjadi lagi.
Bisa jadi penelitian tentang medan magnet dan akibat dari pergerakannya akan terdengar asing serta mengkhawatirkan untuk orang awam. Lantas, apa kata peneliti-peneliti dunia?
Dilansir dari sebuah artikel yang diterbitkan oleh Live Science, ketika Bumi terakhir mengalami sebuah pertukaran kutub medan magnet, daya magnet Bumi menurun secara signifikan lalu kembali meningkat pada angka yang normal ketika kutub medan magnet sudah stabil, dalam proses yang diperkirakan memakan waktu sekitar 1.000 sampai 10.000 tahun. Menurut Monika Korte, seorang direktur sains dari Niemegk Geomagnetic Observatory yang berlokasi di Jerman, sebuah pertukaran kutub medan magnet memang memakan waktu yang sangat lama dan medan magnet akan kembali normal ketika fenomena itu sudah selesai, namun periode di antara pergeseran dan stabilisasi dapat mengancam keselamatan kehidupan di Bumi.
Dalam artikel dari Live Science tersebut, Profesor Geofisika University of Rochester John Tarduno mengatakan bahwa lontaran massa korona – sebuah semburan plasma dari bagian paling luar matahari, atau korona matahari – dapat sewaktu-waktu menghantam Bumi dan menyebabkan beberapa masalah seperti merusak kinerja barang elektronik di Bumi serta menyebarkan daya radiasi yang berbahaya bagi makhluk hidup. Dampak lontaran massa korona yang berbahaya biasanya terbendung oleh adanya lapisan ozon yang melindungi Bumi berkat daya medan magnet Bumi. Namun, jika lapisan ozon menipis karena melemahnya daya medan magnet yang disebabkan oleh pertukaran kutub medan magnet, konsekuensi dari lontaran massa korona akan lebih parah. Dari tidak berfungsinya barang elektronik di seluruh permukaan Bumi sampai risiko radiasi dari sinar ultraviolet yang lebih berbahaya.
Sebuah artikel yang diterbitkan oleh jurnal Science mengatakan bahwa sebuah pergeseran sementara kutub medan magnet Bumi secara langsung memunahkan Homo neanderthalensis, spesies kerabat manusia, sekitar 42.000 tahun yang lalu. Namun, menurut Korte, tidak ada hubungan antara bergesernya kutub medan magnet Bumi dan punahnya suatu spesies. “Bahkan jika daya magnet Bumi menjadi sangat lemah, kita akan tetap terlindungi oleh atmosfer. Serupa dengan bagaimana kita tidak bisa melihat dan merasakan medan magnet Bumi, kemungkinan besar kita tidak akan merasakan adanya sebuah pertukaran posisi kutub”, ungkapnya.
Korte lalu menambahkan bahwa dugaan pertukaran posisi kutub medan magnet Bumi dapat menyebabkan kepunahan massal dan bencana alam yang dahsyat hanyalah imajinasi dan hasil berandai-andai.
Lalu, perlukah kita di Indonesia khawatir? Apakah ada ahli dari Indonesia yang angkat bicara tentang hal itu?
Guru Besar Teknik Geofisika Institut Teknologi Bandung Prof. Dr. Satria Bijaksana pernah angkat bicara tentang pergeseran medan magnet serta dampaknya bagi Indonesia pada sebuah diskusi yang digelar oleh KK Geofisika Global, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB dengan tema “Bagaimana Medan Magnetik Bumi Berubah dan Dampak Perubahan bagi Manusia”, Rabu (16/1/2019), di Gedung Aula ITB, Jawa Barat.
Dikutip dari laman berita ITB, Prof. Satria berbicara dari segi navigasi dan penentuan arah. “Hal itu (pergeseran kutub magnetik) menjadikan 2 konsen dari penelitian tersebut, yaitu dari sisi ke praktisan, peta-peta navigasi yang dibuat harus segera diperbarui, dan mereka harus memikirkan penyebab perubahan magnetik itu,” ungkapnya.
Sistem navigasi yang digunakan oleh peta dan kompas memang perlu diubah setiap lima tahun sekali. Namun, dengan bergesernya medan magnet Bumi dengan cepat, diperlukan sebuah perubahan sistem navigasi yang lebih cepat untuk menyesuaikan dengan medan magnet Bumi.
Guru Besar ITB itu lalu menambahkan bahwa masyarakat di Indonesia tidak perlu mengkhawatirkan dampak dari bergesernya kutub magnetik. “Variasi mengenai medan magnetik bumi memang perlu untuk diketahui namun tidak perlu terlalu dikhawatirkan, sebab Indonesia yang terletak jauh dari kutub magnetik relatif tidak terdampak,” ungkapnya dikutip dari laman berita ITB. “Variasi mengenai medan magnetik bumi memang perlu untuk diketahui namun tidak perlu terlalu dikhawatirkan, sebab Indonesia yang terletak jauh dari kutub magnetik relatif tidak terdampak,” tambah Prof. Satria.
Sepertinya, medan magnet Bumi merupakan sesuatu yang bermanfaat secara fundamental bagi beberapa makhluk hidup seperti ikan salmon yang menggunakan medan magnet Bumi untuk bernavigasi saat dalam proses migrasi untuk berkembang biak. Mungkin saja jika medan magnet Bumi tidak berfungsi sebagai pelindung planet tersebut seperti sekarang, bencana katastropik yang sangat berbahaya bagi penghuni Bumi akan sulit untuk ditanggulangi.
Apakah pernah ada kejadian seperti itu? Ternyata pernah, lho! Medan magnet Bumi menjadi pertahanan utama Bumi ketika terjadi fenomena-fenomena semburan proton dari matahari seperti kejadian Peristiwa Carrington 1859 di mana sebuah badai plasma yang dahsyat menghantam geosfer Bumi dan mematikan sistem telegraf di seluruh dunia. Peristiwa tersebut dan sejenisnya dapat dikurangi dampaknya oleh medan magnet Bumi. Sangat menyeramkan bila hal serupa terjadi lagi dan magnet Bumi berada dalam keadaan lemah, bukan?
Meski ciri-cirinya dapat diobservasikan, peneliti belum bisa memastikan kapan akan terjadi sebuah pertukaran posisi kutub magnetik Bumi karena sifatnya yang tidak periodik dan sulit diprediksi. Hingga saat ini, belum dapat dipastikan apa yang membuat kutub utara bergerak dengan begitu cepat. Jadi, bagaimana menurut kamu? Apakah menurut kamu fenomena ini patut untuk dikhawatirkan atau anomali yang lebih baik diabaikan?
