Konten dari Pengguna

Mengapa Kita Kadang Bisa Menebak Apa yang Akan Terjadi pada Seseorang?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hanif Farrell Harshendra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi intuisi dan kepekaan sosial, dibuat oleh AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi intuisi dan kepekaan sosial, dibuat oleh AI.

Ada semacam pengalaman yang sering muncul tanpa diundang. Semacam firasat, atau mungkin lebih tepat disebut kepekaan, yang tiba-tiba hadir soal seseorang. Bukan cuma sekali dua kali saya mengalaminya. Entah kebetulan atau bukan, pengalaman itu cukup sering terjadi sehingga sulit saya abaikan. Kadang firasat itu soal perasaan orang yang belum diungkapkan, kadang soal arah suatu hubungan yang belum kelihatan tanda-tandanya, dan anehnya, tebakan itu hampir selalu mendekati kenyataan.

Awalnya saya kira ini cuma perasaan berlebihan. Semacam overthinking yang kebetulan pas. Tapi lama-lama saya mulai curiga jangan-jangan ada penjelasan yang lebih masuk akal di baliknya, bukan sekadar kebetulan belaka.

Ternyata, dunia psikologi sudah lama menaruh perhatian pada fenomena semacam ini. Salah satu konsep yang paling dekat dengan pengalaman semacam itu adalah thin slicing, istilah yang dipopulerkan lewat riset psikolog Nalini Ambady. Intinya begini, otak manusia rupanya punya kemampuan menangkap informasi dalam hitungan detik, dari ekspresi wajah yang lewat sekilas, nada bicara yang berubah tipis, sampai cara seseorang berjalan atau memilih kata. Potongan-potongan kecil itu lantas dirangkai jadi kesimpulan, dan herannya kesimpulan itu sering kali lebih tajam ketimbang hasil analisis panjang lebar yang penuh pertimbangan.

Saya jadi ingat beberapa kali bertemu orang baru, dan tanpa sempat berpikir panjang, semacam ada sinyal yang muncul begitu saja di kepala. Orang ini kelihatannya jujur. Orang itu sepertinya menyimpan sesuatu. Hubungan mereka berdua kayaknya nggak akan bertahan lama. Dan entah kenapa, firasat semacam itu jarang meleset jauh.

Selain thin slicing, ada juga bidang kajian bernama interpersonal accuracy yang secara khusus membahas soal ini. Bidang ini meneliti seberapa tajam seseorang bisa membaca emosi dan niat orang lain lewat sinyal-sinyal sosial yang halus, yang bahkan kadang tidak disadari oleh orang yang mengirim sinyal itu sendiri. Ada individu yang memang punya kepekaan di atas rata-rata dalam hal ini. Bukan berarti selalu benar seratus persen, tapi kemampuannya jelas bukan sekadar untung-untungan.

Saya pribadi mulai berpikir, jangan-jangan selama ini saya diam-diam melatih kepekaan itu tanpa sadar. Mungkin karena kebiasaan mengamati orang, atau mungkin karena pernah dikecewakan dan otak belajar mendeteksi pola-pola kecil sebagai bentuk perlindungan diri.

Ada satu teori lagi yang menurut saya paling pas menjelaskan kenapa firasat semacam ini terasa begitu meyakinkan. Psikolog Daniel Kahneman menyebutnya dual process theory, dengan dua sistem berpikir yang bekerja dalam otak manusia. Sistem pertama cepat, otomatis, nyaris tanpa usaha. Sistem kedua lambat, penuh pertimbangan, butuh energi sadar untuk dijalankan. Firasat yang muncul tiba-tiba itu, kata Kahneman, biasanya hasil kerja sistem pertama. Rasanya memang seperti bisikan dari entah mana. Padahal sebenarnya itu buah dari ribuan pengalaman kecil yang sudah tersimpan lama, lalu dipadatkan jadi satu kesimpulan instan begitu situasi yang mirip muncul lagi.

Kalau dipikir-pikir ulang, semua tebakan yang selama ini saya anggap sebagai kebetulan barangkali bukan kebetulan sama sekali. Itu kerja diam-diam dari otak yang terus-menerus mengumpulkan data, dari raut muka orang lain, dari jeda saat membalas pesan, dari nada suara yang naik turun tanpa disadari pemiliknya. Semua terekam, tersimpan, lalu suatu saat keluar begitu saja sebagai perasaan kuat tentang apa yang bakal terjadi.

Buat saya, ini jadi pengingat bahwa intuisi bukan sesuatu yang pantas diremehkan begitu saja. Tapi juga bukan berarti harus dipercaya buta tanpa filter. Firasat bisa jadi alat bantu yang berharga dalam membaca situasi sosial sehari-hari, entah dalam pertemanan, pekerjaan, atau hubungan yang lebih dekat secara personal. Meski begitu, ia tetap bukan ramalan yang pasti benar. Ia lebih mirip pola yang terbentuk dari pengalaman panjang, bukan kekuatan gaib atau semacamnya.

Dan justru di titik itulah menurut saya letak menariknya. Otak manusia ternyata jauh lebih canggih dari yang kita kira, mampu membaca dunia sosial lewat detail-detail sekecil apa pun, yang bahkan tidak pernah kita sadari sedang diperhatikan.