Konten dari Pengguna

Dampak Kebijakan AS terhadap Produksi Panel Surya Global 2025 dan Indonesia

Mochammad Farros Fatchur Roji

Mochammad Farros Fatchur Roji

IT Engineer at Solar Nusantara - Learner & Writer

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mochammad Farros Fatchur Roji tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada tahun 2025, Amerika Serikat memberlakukan kenaikan tarif impor untuk produk panel surya dari negara-negara Asia Tenggara, termasuk Malaysia, Vietnam, Kamboja, dan Thailand. Tujuannya adalah untuk melindungi industri energi surya domestik AS dan mengurangi praktik perdagangan tidak adil. Namun, kebijakan ini memicu ketegangan perdagangan dengan China, yang memiliki investasi manufaktur panel surya di negara-negara tersebut.

Sumber Gambar: Canva Pro "Nuclear power plant with energy solar panels" by MartinLisner
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Gambar: Canva Pro "Nuclear power plant with energy solar panels" by MartinLisner

Dampak Kebijakan AS terhadap Industri Panel Surya Global

Kenaikan tarif impor AS mempengaruhi berbagai aspek industri panel surya

  • Kenaikan Biaya Produksi: Proyek energi surya di AS mengalami peningkatan biaya sekitar 30%, yang dapat memperlambat adopsi energi terbarukan. ​

  • Perubahan Strategi Perusahaan: Produsen panel surya global, termasuk Jinko Solar dan Trina Solar, menyesuaikan strategi produksi dan distribusi mereka untuk mengatasi dampak tarif baru. ​

  • Peluang bagi Produsen Non-China: Produsen dari negara-negara non-China, seperti Indonesia, melihat peluang untuk memasok panel surya ke pasar AS, mengingat ketergantungan AS pada impor dari Asia Tenggara.

Perkembangan Industri Panel Surya di Indonesia

Indonesia memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat posisinya dalam industri panel surya:

  • Peningkatan Investasi: Perusahaan AS, seperti SEG Solar, berinvestasi besar di Indonesia, membangun pabrik panel surya dengan kapasitas produksi yang signifikan.​

  • Proyek PLTS Atap: Pemerintah menargetkan pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap sebesar 3.600 MW secara bertahap hingga tahun 2025, didukung oleh insentif dan regulasi yang mendukung. ​

  • Peningkatan TKDN: Upaya meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk panel surya didorong melalui kebijakan pemerintah, dengan target mencapai 90% pada tahun 2025.

Kesimpulan

Kebijakan AS yang lebih proteksionis terhadap produk panel surya membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam industri energi terbarukan global. Dengan investasi asing yang meningkat, proyek PLTS yang penuh harapan, dan fokus pada peningkatan TKDN, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pemain utama dalam produksi panel surya di Asia Tenggara.

Sumber

https://sonushub.id/b/pengaruh-kebijakan-amerika-serikat-terhadap-produksi-panel-surya-global-di-2025-dan-implikasinya-bagi-indonesia

https://internasional.kontan.co.id/news/as-tetapkan-tarif-baru-produk-panel-surya-impor-dari-4-negara-asia-tenggara-ini

https://www.reuters.com/business/energy/roaring-us-solar-market-hit-by-higher-import-costs-2024-12-05

https://www.reuters.com/business/energy/us-sets-preliminary-new-duties-solar-imports-southeast-asia-2024-10-01

https://www.reuters.com/business/energy/new-us-solar-tariffs-southeast-asia-raise-prices-cut-profit-margins-2024-12-02

https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/indonesia-kaya-energi-surya-pemanfaatan-listrik-tenaga-surya-oleh-masyarakat-tidak-boleh-ditunda