Konten dari Pengguna

Seuntai Catatan Menggerakkan Transformasi Digital dari Tepi Ruangan Tak Bersekat

Fathimatuzzuhroh

Fathimatuzzuhroh

ASN Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fathimatuzzuhroh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Ilustrasi AI (Gemini)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi AI (Gemini)

PROLOG: Ritme dalam Ransel yang Berat

Bagi sebagian orang, birokrasi mungkin hanya urusan dokumen statis. Namun bagi saya, 19 tahun mengabdi sebagai Tenaga Harian Lepas (THL) adalah perjalanan yang membentuk cara pandang secara radikal terhadap data, inovasi, dan masa depan daerah. Perjalanan itu yang puncaknya 10 tahun terakhir di Bappeda, melatih saya tepat di jantung siklus perencanaan daerah. Tidak hanya bergulat dengan dokumen perencanaan tapi juga mengelola basis data hingga evaluasi daerah. Ruang kerja kami adalah dapur daerah, tempat malam sering larut tanpa permisi, lembur hingga dini hari menjadi kewajaran, dan akhir pekan tetaplah hari kerja. Dari balik layar monitor situs e-RPJMD dan aplikasi pengendalian dan evaluasi, saya terbiasa melihat daerah dari kacamata setinggi helikopter, tahu persis mana instansi yang berlari kencang dan mana yang terseok di sepuluh besar dari bawah. Hingga pergi ke mana pun perjalanan dinas, sebuah laptop selalu setia mendekam di dalam ransel. Ia bukan sekadar alat kerja, melainkan jangkar pengabdian yang memastikan tanggung jawab tidak pernah terputus dimanapun berada.

Saya dibentuk menjadi aparatur yang mobile, tangkas, dan presisi.

Benturan Idealisme Dan Dinding Realita

Garis takdir membawa saya lulus PPPK. Meski ruh perencana di Bappeda mendarah daging, kaku linieritas background pendidikan saya Sarjana Teknik memaksa untuk melangkah ke luar Bappeda, ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Di tempat baru ini, ritme kerja seolah melambat. Dokumen kertas dan tanda tangan fisik masih menjadi urat nadi utama. Digitalitas begitu sunyi.

Juni 2025, saat hendak meminjam akun SRIKANDI, rekan saya menjawab, "Di sini masih manual, yang punya akun cuman 1 orang di kepegawaian.”

What?! Pikiran saya menjerit seketika. Waktu seolah berhenti di dekade lalu. Rasa tidak percaya membuncah ketika mengetahui akses SRIKANDI hanya dipegang satu orang pelaksana untuk meng-input seluruh naskah dinas.

Ya Rasullullah... batin saya bergolak. Bottleneck ini bukan sekadar ketertinggalan teknologi, melainkan ketidakadilan beban kerja. Jiwa perencana saya berontak. Bagaimana target daerah bisa tercapai jika mikro eksekusinya lumpuh oleh kemalasan digital!? Aplikasi SRIKANDI yang sudah ada sejak tahun 2022 dibiarkan mati “suri”. Alasan klasik seperti "ribet," "susah," hingga "nggak ngerti" menciptakan dinding resistensi tebal.

Dari meja sederhana di sudut ruangan ini, saya memilih menjadi orang paling "berisik" demi perubahan.

OBROLAN JAM ISTIRAHAT: Ketika Musibah Menjadi Amunisi

Juli 2025, tabir masalah sistemik terbuka lewat obrolan ringan saat istirahat. Penomoran SPPD manual memicu tumpang tindih jadwal hingga Inspektorat menemukan kelalaian administratif yang berujung perintah pengembalian dana ke kas negara. Seketika menyalakan ide di kepala: sebuah aplikasi e-Perjadin untuk mengunci celah penomoran SPPD secara otomatis. Temuan itu saya jadikan amunisi terbaik untuk membawa dua Telaahan Staf strategis kepada pimpinan: membangkitkan Sang Srikandi dan melahirkan e-Perjadin.

Akhir Agustus 2025, aksi nyata dimulai. Menolak berlindung di balik kalimat "bukan tugas pokok dan fungsi saya," saya melompati sekat formal dan merangkul rekan kepegawaian mendatangi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan untuk meminta pelatihan singkat tentang naskah dinas, register surat dan disposisi elektronik, sementara saya mendampingi dari belakang sebagai back-up jika suatu waktu admin OPD mengalami kendala teknis. Pelatihan itu sukses membakar semangat tim pelopor untuk keluar dari zona nyaman.

Sepulang pelatihan, saya mematok target SRIKANDI beroperasi penuh pada minggu ketiga September 2025. Berminggu-minggu saya merapikan basis data kepegawaian, membuatkan akun seluruh pegawai, hingga merapikan alur persuratan. Saat tenggat tiba, Sang Srikandi resmi bangkit; persuratan yang tadinya kaku kini mengalir lincah meski tetap terus diawasi.

Tentu saja perubahan budaya kerja tidak instan. Until this day, saya tetap sebagai pengendali mutu persuratan. Demi mengatasi human error karena minimnya pengetahuan tata naskah dinas, saya memotong kompas dari hulu dengan merancang draf baku (template) naskah "wajib" Disperindag. Siasat kecil ini ampuh menekan angka kesalahan teknis secara drastis.

Bersamaan dengan itu, arsitektur e-Perjadin yang terintegrasi menghasilkan SPT siap unggah ke SRIKANDI, rincian biaya, dan rekapitulasi bulanan berhasil dirampungkan tepat waktu, selaras dengan jadwal anggaran SPBE. Dari sudut meja sederhana ini, sepasang pilar transformasi digital instansi kami akhirnya resmi berdiri.

Closing Statement

Kini, sepasang sayap digital itu telah mengepak di lingkungan Disperindag. Baru satu tahun memang, namun ada rasa lega yang hadir karena tata kelola persuratan kami tak lagi kacau. Berkat hidupnya Srikandi, lalu lintas naskah dinas tak lagi terhambat berkas fisik. Sementara risiko tumpang tindih nomor SPPD yang semula menjadi hantu temuan Inspektorat kini telah dikunci rapat oleh sistem otomatis e-Perjadin. Meskipun masih ada beberapa yang berjalan manual, kami tidak berhenti berbenah agar seluruh lini administrasi kelak beralih penuh ke ranah digital.

19 tahun mengabdi sebagai THL telah mengajarkan saya arti sebuah keteguhan. Kini, sebagai seorang PPPK, saya menyadari satu hal dalam perjalanan ini: reformasi birokrasi tidak selalu lahir dari alat kerja yang canggih atau kewenangan struktural yang tinggi. Kadang, ia hanya bermula dari kepedulian seorang pegawai "kelas 2" di balik meja usang dari sudut ruangan tak bersekat, sebuah langkah sunyi untuk merajut perubahan, membawa rumah pengabdiannya melangkah tegap menuju masa depan pelayanan publik yang tangkas, efisien, dan transparan.