Artificial Intelligence (AI) untuk Mahasiswa: Asisten Belajar atau Jalan Pintas?

Mahasiswa Teknik Informatika di Universitas Pamulang yang juga bekerja sebagai programmer, dengan minat pada pengembangan web, backend, dan teknologi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari MUHAMMAD FARSYA SURYA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Memahami penggunaan Artificial Intelligence sebagai alat bantu belajar bagi mahasiswa di era digital.

Beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berkembang begitu cepat. Kehadirannya tidak lagi hanya ditemukan dalam film atau teknologi canggih, tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya adalah penggunaan AI oleh mahasiswa untuk membantu proses belajar.
Dengan beberapa kalimat yang ditulis melalui sebuah chatbot Artificial Intelligence (AI), mahasiswa dapat meminta penjelasan mengenai materi kuliah, mencari contoh soal, membuat rangkuman, memperbaiki tulisan, bahkan berdiskusi mengenai suatu topik. Hal yang dahulu mungkin membutuhkan waktu berjam-jam untuk mencari dari berbagai sumber, sekarang dapat dilakukan dalam hitungan menit.
Fenomena ini bukan sekadar dugaan. Digital Education Council dalam Global AI Student Survey 2024 yang melibatkan 3.839 mahasiswa dari 16 negara menemukan bahwa 86 persen mahasiswa telah menggunakan AI dalam kegiatan belajar mereka, dengan 54 persen menggunakannya setidaknya setiap minggu. Angka tersebut menunjukkan bahwa AI sudah menjadi bagian dari kehidupan akademik banyak mahasiswa.
Namun, muncul sebuah pertanyaan: "apakah AI benar-benar menjadi asisten belajar bagi mahasiswa, atau justru menjadi jalan pintas untuk menyelesaikan tugas?"
AI sebagai Asisten Belajar
Pada dasarnya, teknologi dibuat untuk membantu manusia. Begitu pula dengan AI. Jika digunakan dengan tepat, AI dapat menjadi salah satu alat yang membantu mahasiswa memahami materi perkuliahan.
Misalnya, ketika seorang mahasiswa tidak memahami suatu konsep dalam pemrograman, ia dapat meminta AI menjelaskan konsep tersebut menggunakan bahasa yang lebih sederhana. Mahasiswa juga dapat meminta contoh penerapan konsep tersebut sehingga tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengetahui bagaimana konsep itu digunakan.
Hal yang sama dapat diterapkan pada mata kuliah lain. Mahasiswa dapat menggunakan AI untuk melakukan brainstorming, mencari sudut pandang lain mengenai suatu permasalahan, membuat contoh pertanyaan diskusi, atau meminta penjelasan ulang ketika materi dari dosen belum sepenuhnya dipahami.
Menariknya, penggunaan AI untuk belajar ternyata tidak hanya dilakukan untuk mencari jawaban. Survei Student Generative AI Survey 2025 dari Higher Education Policy Institute (HEPI) terhadap 1.041 mahasiswa sarjana di Inggris menunjukkan bahwa penggunaan AI untuk membantu penilaian akademik meningkat dari 53 persen pada 2024 menjadi 88 persen pada 2025. Penggunaan yang paling umum antara lain untuk menjelaskan konsep, merangkum artikel, dan mencari ide penelitian.
Menurut saya, bagian paling menarik dari AI bukan sekadar kemampuannya memberikan jawaban, tetapi kemampuannya menjadi teman berdiskusi. Mahasiswa dapat mengajukan pertanyaan lanjutan tanpa harus merasa malu karena belum memahami suatu materi.
Dalam kondisi seperti ini, AI berfungsi layaknya asisten belajar. Ia membantu mahasiswa menemukan jalan ketika mengalami kesulitan dalam memahami suatu materi.
Ketika AI Menjadi Jalan Pintas
Masalah muncul ketika mahasiswa tidak lagi menggunakan AI untuk membantu memahami materi, tetapi menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI.
Contohnya cukup sederhana. Seorang mahasiswa mendapatkan tugas membuat esai. Alih-alih membaca materi, mencari referensi, kemudian menyusun pendapat sendiri, mahasiswa tersebut langsung meminta AI membuatkan esai lengkap. Setelah mendapatkan jawaban, tulisan tersebut langsung disalin dan dikumpulkan.
Secara praktis, tugas memang selesai. Namun, apakah mahasiswa tersebut benar-benar belajar?
Di sinilah perbedaan antara menggunakan AI sebagai alat bantu dan menggunakan AI sebagai jalan pintas menjadi penting.
Data HEPI juga menunjukkan adanya sisi lain dari penggunaan AI. Dalam survei 2025, sebanyak 18 persen mahasiswa yang diteliti mengaku memasukkan teks yang dihasilkan AI secara langsung dalam pekerjaan mereka. Pada saat yang sama, 51 persen mahasiswa menyebut bahwa salah satu hal yang membuat mereka enggan menggunakan AI adalah kekhawatiran mendapatkan hasil yang salah atau informasi yang dibuat-buat.
Artinya, persoalannya bukan hanya apakah mahasiswa menggunakan AI, tetapi bagaimana mereka menggunakan dan memeriksa hasilnya.
AI dapat memberikan jawaban yang terlihat meyakinkan, tetapi bukan berarti setiap jawaban yang diberikan selalu benar. AI juga dapat menghasilkan informasi yang keliru, tidak lengkap, atau tidak sesuai dengan konteks pertanyaan. Karena itu, mahasiswa tetap perlu membaca, memeriksa, membandingkan sumber, dan menggunakan pemikirannya sendiri.
Jika semua hal diserahkan kepada AI, mahasiswa mungkin mendapatkan jawaban dengan cepat, tetapi kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir.
Kemampuan Berpikir Tetap Penting
Menurut saya, perkembangan AI justru membuat kemampuan berpikir manusia menjadi semakin penting.
Dahulu, mahasiswa mungkin menghabiskan banyak waktu untuk mencari informasi. Sekarang, informasi dapat diperoleh dengan jauh lebih cepat melalui AI. Artinya, tantangan mahasiswa bukan lagi hanya bagaimana menemukan informasi, tetapi bagaimana menentukan apakah informasi tersebut benar dan bagaimana menggunakannya.
Mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk bertanya dengan baik, menganalisis jawaban, memeriksa fakta, dan mengambil kesimpulan berdasarkan pemahamannya sendiri.
Dalam bidang teknologi, misalnya, AI dapat membantu seorang mahasiswa membuat kode program. Namun, jika mahasiswa tersebut tidak memahami kode yang dibuat AI, ia akan kesulitan ketika terjadi error atau ketika program tersebut harus dikembangkan lebih lanjut.
Hal tersebut menunjukkan bahwa AI dapat mempercepat proses belajar, tetapi tidak dapat menggantikan proses memahami.
Bukan Berarti Mahasiswa Harus Menjauhi AI
Menurut saya, solusi terhadap permasalahan ini bukan dengan melarang mahasiswa menggunakan AI.
AI sudah menjadi bagian dari perkembangan teknologi dan kemungkinan akan semakin banyak digunakan dalam berbagai bidang. Karena itu, mahasiswa justru perlu belajar bagaimana menggunakan AI secara bertanggung jawab.
Mahasiswa dapat memulai dengan menjadikan AI sebagai tempat bertanya setelah mencoba memahami materi terlebih dahulu. Jika masih mengalami kesulitan, AI dapat digunakan untuk memberikan penjelasan tambahan.
Jawaban yang diberikan AI juga sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai kebenaran. Mahasiswa dapat membandingkannya dengan buku, jurnal, materi dari dosen, atau sumber terpercaya lainnya.
Untuk tugas, AI juga dapat digunakan untuk membantu mencari ide atau memperbaiki struktur tulisan. Namun, isi dan pendapat utama tetap sebaiknya berasal dari pemahaman mahasiswa sendiri.
Dengan cara tersebut, AI tidak mengambil alih proses belajar, tetapi justru mendukung proses tersebut.
AI dan Masa Depan Mahasiswa
Perkembangan AI kemungkinan akan terus mengubah cara manusia belajar dan bekerja. Beberapa pekerjaan mungkin berubah, sementara pekerjaan baru juga dapat muncul karena perkembangan teknologi tersebut.
Perkembangan penggunaan AI di kalangan mahasiswa juga terus meningkat. Dalam Student Generative AI Survey 2026 dari HEPI, yang melibatkan 1.054 mahasiswa sarjana penuh waktu di Inggris, 95 persen mahasiswa melaporkan menggunakan AI setidaknya dalam salah satu kegiatan mereka, sementara 94 persen menggunakannya untuk membantu pekerjaan yang dinilai dalam perkuliahan.
Data tersebut tidak berarti semua mahasiswa menggunakan AI untuk melakukan kecurangan. Justru, laporan yang sama menunjukkan bahwa AI digunakan dalam berbagai aktivitas seperti menjelaskan konsep, merangkum artikel, mencari ide penelitian, dan membantu menyusun pemikiran.
Namun, angka tersebut menunjukkan bahwa perdebatan mengenai apakah mahasiswa boleh menggunakan AI perlahan bergeser menjadi pertanyaan yang lebih penting: bagaimana AI seharusnya digunakan dalam proses pendidikan?
Bagi mahasiswa, kondisi ini menjadi alasan untuk tidak hanya belajar menggunakan teknologi, tetapi juga memahami bagaimana teknologi tersebut bekerja dan apa dampaknya terhadap kehidupan manusia.
Menurut saya, mahasiswa yang mampu menggunakan AI secara bijak akan lebih siap menghadapi perubahan tersebut. Namun, kemampuan menggunakan AI saja tidak cukup.
Kreativitas, komunikasi, kemampuan berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah, dan pemahaman terhadap bidang yang dipelajari tetap diperlukan.
AI dapat membantu menghasilkan sebuah jawaban, tetapi manusia tetap perlu menentukan pertanyaan yang tepat, menilai jawaban tersebut, dan memutuskan apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Jadi, Asisten Belajar atau Jalan Pintas?
Pada akhirnya, AI bisa menjadi keduanya.
AI dapat menjadi asisten belajar ketika digunakan untuk membantu memahami materi, mencari ide, berdiskusi, dan memperluas pengetahuan. Namun, AI juga dapat menjadi jalan pintas ketika mahasiswa hanya menggunakannya untuk mendapatkan jawaban tanpa memahami proses di baliknya.
Menurut saya, persoalannya bukan terletak pada ada atau tidaknya AI dalam proses pendidikan. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana mahasiswa menggunakannya.
Kita tidak mungkin menghentikan perkembangan teknologi hanya karena takut teknologi tersebut disalahgunakan. Yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kemampuan manusia dalam menggunakan teknologi tersebut secara bijak.
Sebagai mahasiswa, menggunakan AI bukan sesuatu yang harus dianggap sebagai hal buruk. Justru, AI dapat menjadi salah satu alat yang sangat membantu dalam proses belajar. Namun, jangan sampai kemudahan yang diberikan AI membuat kita berhenti berpikir.
AI seharusnya membantu mahasiswa belajar lebih baik, bukan belajar menggantikan mahasiswa.
