Mall Di Malang Banyak Bayar Karena Bukan Tempat Belanja Tapi Tempat Wisata

Alumni Ilmu Sejarah Universitas Negeri Malang
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Faruq Amrulloh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tujuan ketika mengunjungi kota malang kebanyakan bagi orang luar malang adalah tempat wisata yang sekarang sedang viral, salah satunya wisata kayu tangan, tapi untuk beberapa orang luar malang terutama yang memiliki hobi belanja lebih memilih pergi ke mall atau tempat perbelanjaan besar di kota malang
Berbeda dengan tempat perbelanjaan di kota lain, seperti misalnya saja kota yang paling dekat dengan malang yaitu Surabaya. kondisi mall di surabaya berbeda dengan kota malang dimana mall di surabaya adalah murni tempat perbelanjaan. Perbedaan paling mencolok lainnya seperti keutamaan dari beberapa mall yang ada Surabaya adalah kelengkapan barang yang sedang tren.
selain kelengkapan barang yang dijual ketika pertama masuk mall Kota Malang pasti akan mengalami Culture shock. Salah satu Culture shock untuk orang yang pertama kali ke mall kota malang adalah sulitnya mencari tempat parkir. selain itu juga sempat ada yang mempertanyakan kenapa toilet mall Kota malang harus berbayar. Bagi orang yang lama menetap di kota malang atau bahkan warga malang adalah normal karena mall bukanlah tempat perbelanjaan tapi tempat wisata.
Bukan sebagai tempat belanja tapi tempat wisata
Bagi yang sudah lama tinggal di kota malang pasti tahu bahwa fasilitas kebanyakan mall kota malang berbayar. Bukan hanya itu tempat parkir juga pasti sulit ditemukan karena kebanyakan sudah dipenuhi kendaraan-kendaraan dari luar kota malang.
Padatnya tempat parkir akan berbeda jika kita sudah masuk mall. Kondisi yang berbeda terjadi di dalam mall selain store yang menyediakan makanan akan terlihat sepi pengunjung. Sebagian besar pengunjung hanya akan memadati store makanan. Sementara untuk store pakaian maupun barang lain yang sedang trend di masyarakat luar kota malang akan terlihat sepi pengunjung apalagi membeli barang tersebut
Kebanyakan orang yang datang bukan untuk berbelanja barang seperti pakaian atau elektronik tapi untuk membeli makanan dan hanya sekedar jalan memutari mall
Ya hanya jalan tanpa membeli terutama barang-barang yang harganya diluar jangkauan kantong pegawai UMR dan mahasiswa perantauan. Karena tujuan utamanya ya cuma wisata mata atau jalan-jalan saja
Kondisi wisata kota malang kurang ramah untuk warga lokal
Mega dan lengkapnya pusat perbelanjaan atau mall kota malang tidak berbanding lurus dengan keterjangkauannya bagi warga malang. Kebanyakan warga malang adalah karyawan dan buruh, UMR nya saja sebagai acuan penghasilan terbilang rendah untuk kota besar.
Selain barang mall harganya diluar jangkauan UMR warga malang, retribusi masuk tempat wisata atau barang yang dijual di tempat wisata malang raya juga sulit dijangkau warga malang.
Mungkin ada tempat wisata murah meriah tapi itu juga fasilitasnya kurang memadai seperti beberapa tempat wisata milik pemerintah kota dan pemerintah kabupaten. Badan usaha milik daerah ini selayaknya badan usaha milik daerah lain di indonesia tidak terawat dan terkesan mangkrak.
Tempat wisata di kabupaten malang sebagian besar memang sedang mencoba menarik wisatawan tapi jarak yang jauh juga menyebabkan biaya akomodasi ke lokasi tidak terjangkau warga malang. Solusi paling murah dan dekat bagi warga kota malang terutama adalah wisata mata dan jalan-jalan di mall
Jumlah mall besar terbatas bagi warga malang
Mall besar dan lengkap yang hanya tersedia di kota malang terutama pada wilayah pusat perkotaan dekat dengan kantor pemerintahan. Hal itu menyebabkan akses yang jauh bagi sebagian besar warga malang namun tidak ada pilihan lain yang terdekat selain mall di kota malang.
Dengan semakin padatnya penduduk kota malang tidak di imbangi dengan pembangunan mall dan lahan yang terbatas. ditambah lagi semakin bertambahnya mahasiswa yang menempuh perguruan tinggi menjadikan mall kota malang semakin padat
Tidak ada pilihan selain mall untuk wisata keluarga karyawan dan buruh
Di Kota malang ada beberapa wisata milik pemerintah tapi hanya terbatas pada wisata pemandian dan taman, sementara wisata yang memiliki alat bermain untuk anak dan kekinian sudah tidak ada lagi. kalau untuk tempat bermain anak mungkin ada di alun-alun atau taman kota tapi fasilitasnya lebih ke ruang terbuka hijau. kelengkapan taman-taman tersebut juga kebanyakan untuk anak pada usia tertentu
Pemerintah kota sempat berupaya mensosialisasikan wisata pertokoan kayu tangan tapi dengan pengelolaan ruko di kayu tangan diambil alih vendor besar berimbas pada barang yang dijual juga diluar nalar warga malang, nalar saja tidak masuk apalagi kantong, mungkin di awal kayu tangan diramaikan mahasiswa perantauan tapi lambat laun mahasiswa yang datang juga berkurang dan kebanyakan pasti hanya ngopi.
Kesimpulan
Kurangnya tempat wisata di kota malang yang terjangkau bagi warganya membuat mall menjadi tempat murah meriah wisata warga malang. mall yang menjadi tempat wisata berimbas kepada pembelian di mall yang tidak berbanding lurus dengan biaya pengelolaan makan pihak pengelola pasti sulit untuk mendapatkan vendor penyewa dengan harga tinggi.
pengelola pastinya akan menurunkan biaya sewa tapi operasional tetap akan besar maka salah satu solusinya adalah memungut biaya dari hal lain salah satunya toilet.
selain masalah toilet yang berbayar justru yang sering dipermasalahkan warga malang bukan itu tapi karena lahan parkir yang sangat kurang.
