Mbak, Anak Biologis Belum Tentu Anak Ideologis

Alumni Ilmu Sejarah Universitas Negeri Malang
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Faruq Amrulloh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Kurang ajar kamu, Yanto!” tunjuk perempuan menahan senyum di bibir keriputnya sambil memegang rumput segar.
“Saya cuma ingin Ibu senang,” jawab pemuda paruh baya yang ditunjuk ibu itu.
“Tapi ini pasti idenya Mul, karena yang punya pestisida di kereta cuma kamu, Mul.”
“Bukan, Bu. Ini ide anak Ibu. Katanya kalau susah diatur, ditebas pakai celurit beracun saja,” saut Mul samar-samar karena kuda ini sudah mulai kehilangan kesadaran.
Dalam berisiknya perdebatan para mulut besar, sementara kuda jantan gagah tak lagi menunjukkan kekuatannya, hanya tersungkur dengan mulut berbusa di tanah yang basah pasca diterpa hujan.
Pada awalnya, kejadian kacau balau ini karena ada seekor kuda yang dibawakan atau dikemudikan perempuan tua untuk menarik kereta besar berisi berbagai orang dari tempat tinggal yang berbeda-beda. Tujuannya saja sama, yaitu ke tempat indah di atas bukit. Perjalanannya harus menempuh ujian terjal dalam waktu cukup lama.
Sebenarnya, kuda, kereta, dan penumpang tidak bertemu karena perempuan itu, tapi karena bapaknya. Seorang yang mampu merayu berbagai orang untuk naik kereta yang sama. Bapak itulah yang menyatukan mereka dalam satu harapan yang sama, yaitu bahagia di tempat indah di atas bukit.
Perjalanan menuju bukit kami melewati rawa penuh lumpur bau tak sedap dan gelap karena cahaya matahari tertutup rimbunnya pohon. Saking gelapnya, hingga sempat salah satu kakiku terjebak lumpur namun dibantulah dengan papan kayu oleh kakiku yang tidak terjebak lumpur.
“Tekan kakimu yang tidak terjebak lumpur di kayu ini agar ada daya ungkit,” kata Cak Dar, seorang tukang kayu yang ikut kereta kami.
“Cak, kamu pergi ambilkan rumput segar untuk kuda ini,” saut Mbak Pril.
“Loh, Mbak, bukannya lebih baik kubantu dulu kuda ini?” jawab Cak Dar.
“Sudah, ambilkan dulu. Nanti aku yang bantu,” mendengar itu Cak Dar lalu pergi.
“Ayo, kuda, kita jalan.” Mbak Pril segera menarik tali dan naik kereta meninggalkan Cak Dar yang sudah tak terlihat di tengah rimbunnya pohon.
“Yang nurut, kamu bersama penumpang yang lain itu dititipkan Bapak kepadaku, bukan ke Cak Dar yang tua dan bodoh itu,” menggerutu Mbak Pril selama perjalanan kami.
“Mbak, kok kita pergi? Kami naik kereta ini diajak Kakek Cak Dar, sekarang Cak Dar kok tertinggal. Terus kami bagaimana?” ucap seorang penumpang yang mengambil papan kayu dari kakiku.
“Kamu sama teman-temanmu ikut Cak Dar saja kalau mau, biar terjebak di hutan,” jawab Mbak Pril ketus.
Penumpang lain yang mengangkat kayu menjawab, “Enggih, siap, Ibu. Kami ikut instruksi Ibu saja.” Sambil berbisik pria itu mengatakan kepada temannya, “Kita mau makan apa ikut Cak Dar, wong dia arah aja gak tahu. Mana mungkin bisa dapat rumput untuk kuda ini.”
“Tapi…?” jawab temannya.
“Kamu jangan ngeyel. Kakekku dulu juga tukang kayu, malah lebih pintar dari Cak Dar. Jadi, nurut saja sama aku yang keturunan tukang kayu ini,” jawab penumpang itu sambil mengelus-ngelus jenggotnya.
Sampailah kami pada suatu siang di tepian perkebunan tebu yang terletak di pedesaan tak jauh dari kota. Mbak Pril mengajakku menepi tiba-tiba. Ia turun kemudian memotongkan sebongkah tebu untukku. Namun sebelumnya kutanyakan dulu, milik siapa itu? Mbak Pril hanya tersenyum dan menjawab, “Mbak lo peduli bawahan.” Kemudian sautku, “Apa dengan memberikanku makan seperti ini Mbak pikir aku bahagia?”
“Kenapa tanya begitu?” saut Mbak Pril.
“Bukankah seharusnya kuda hanya menarik kereta dan makan ketika lapar tanpa peduli apa yang ia makan, karena makan hanya untuk menambah tenaganya menarik kereta.”
“Mbak, apa lupa dulu Bapak menamaiku Mer karena melihat ada Pak Mar yang bekerja ikhlas demi keluarga tapi juga tetap memperhatikan asal penghasilan untuk keluarganya? Kok sekarang memberiku makanan ngawur gini?” Mbak hanya diam dan terus memaksaku makan tebu itu. Aku hentakkan kaki depan dan menjauhkan kepala dari tangan Mbak Pril.
“Dasar kuda pembangkang!” bentak Mbak.
“Mbak dulu bilang aku tuli, sekarang bilang aku pembangkang. Lalu apa lagi? Mau bilang aku bodoh?”
“Mbak itu yang bodoh,” sahutku.
“Kuda gila!” teriak Mbak, lalu dihentikan salah seorang penumpang keretaku.
“Kamu jangan ikut campur,” saut Mbak Pril. “Kalau kamu ikut campur, kita berhenti di sini saja. Perjalanan lanjut sampai aku mau jalan lagi.”
“Kalau begitu biar aku yang bawa kudanya. Lagian kamu gak punya pengalaman mengendalikan kuda. Belajar saja belum selesai ditinggal mati Bapakmu,” saut Pak Mul.
Mbak Pril semakin marah, berteriak membentak orang itu. “Kamu mau mengambil alih delmanku? Langkahi dulu mayatku.”
Dengan kondisi seperti itu, kuputuskan mendekat ke orang itu agar aku dielus. Mungkin saja dia mau naik ke punggungku saja tanpa kereta, biar kereta ini dibawa Mbak Pril, itu pun kalau Mbak Pril mau. Mengetahui maksudku itu, Mbak mulai merayuku.
“Kuda pintar, Mbak memang tidak pandai tapi kamu kan pintar. Mbak janji, nanti kalau dalam perjalanan kamu punya arah sendiri, Mbak tinggal ikut saja. Mbak tidak akan memaksa lagi.”
Turunlah dari kereta anak Mbak Pril lalu berteriak, “Aku saja, Ibu, yang menggantikan untuk mengemudikan kuda.”
Dengan tegas Mbak menjawab, “Jangan, Nak. Kamu masih kecil. Nanti kamu diperintah sama penumpang lain.”
Lalu Pak Mul yang mengelusku mencoba untuk menarik anak Mbak Pril yang kemudian dicegah ibunya sambil berkata, “Kamu jangan sok dekat dengan anakku.”
Mbak Pril kemudian memanggil Yanto, yang selama ini Mbak percaya untuk membersihkan kereta dan memandikan kuda selama dalam perjalanan. Penumpang itu kemudian berlari-lari dengan membawa celurit dari dalam kereta. Mbak Pril kemudian memotong dengan celurit tumpukan jerami segar di tepi sungai dekat perkebunan tebu tempat kami berada.
Selanjutnya, dengan wajah manis Mbak menyuapiku rumput-rumput yang baru dipotongnya. Sambil makan, menggerutu kutanyakan pada Mbak, “Kenapa baru sekarang Mbak memberiku rumput segar buah kerja keras Mbak sendiri?”
Dengan ketus pula Mbak menjawab, “Aku peduli karo seng cilik kok.”
Disusul saut Pak Mul dengan ekspresi kaget kepada Mbak, “Rumputnya tercampur karat dari celurit loh, Mbak!”
Kemudian wajah laki-laki itu berubah panik. Tanpa kusadari, mulut mengunyahku mulai sepah, kepala pusing, dan timbul rasa mual. Saut-saut kudengar Mbak marah-marah dan menunjuk Pak Mul dan berkata, “Ini bukan karat celurit! Ini pestisida menempel di sisi-sisi celurit! Kamu kurang ajar menghianati kami!”
Badanku mulai lemas, namun terpikir dalam benakku, ternyata Mbak begitu jahat meracuniku, tapi tetap saja menuduh Pak Mul. Ternyata pesan Bapak dulu benar: jangan pernah percaya Mbak sepenuhnya.
Tunggu… terpikir sebentar, kupikirkan pelan-pelan, ternyata anak biologis belum tentu anak ideologis.
