Konten dari Pengguna

Peninggalan Laskar Hizbullah Malang

Faruq Amrulloh

Faruq Amrulloh

Alumni Ilmu Sejarah Universitas Negeri Malang

·waktu baca 21 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faruq Amrulloh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh : Faruq Amrulloh

Sumber : dokumentasi penulis ketika berkunjung ke Masjid Al Mukarromah Kasin Kota Malang
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : dokumentasi penulis ketika berkunjung ke Masjid Al Mukarromah Kasin Kota Malang

PENDAHULUAN

Keterlibatan kalangan pesantren melawan Belanda seperti saat Belanda akan memasuki wilayah Malang. Keterlibatan laskar Hizbullah Malang tersebut meniggalkan bukti sejarah dalam mempertahankan kemerdekaan. Memasuki tahun 1944 keadaan perang bagi Jepang semakin terpojok. Dalam suasana yang demikian itu Pemerintah Jepang membentuk barisan Semi-Militer lainnya seperti Seishintai atau Barisan Pelopor pada tanggal 1 November 1944, Jubakutai atau Barisan Berani Mati pada tanggal 8 Desember 1944, Kaikyo Seinen Teishintai atau Hizbullah pada tanggal 14 Oktober1944.

Laskar Hizbullah merupakan Barisan Semi-Militer dari kaum muda Islam. Tujuan didirikan laskar Hizbullah sebagai cadangan tentara sukarela PETA (Pembela Tanah Air) dalam usaha membantu Jepang melawan pasukan Sekutu. Selanjutnya pada bulan Januari 1945 diumumkan susunan pengurus Hizbullah yang diketuai oleh KH. Zainul Arifin sebagai Panglima Laskar Hizbullah. KH. Zainul Arifin ditugaskan mengikuti latihan-latihan menjadi pimpinan Hizbullah selama tiga bulan. Laskar Hizbullah pada masa awal pembentukan pada tahun 1944 anggota terdaftar dari pemuda Ansor dan santri pesantren NU di jawa dan Madura. Pada perkembanganya lulusan pelatihan tersebut juga membentuk Sabilillah. Pembentukanya dilakukan oleh KH. Masykur yang dahulunya juga pimpinan Laskar Hizbullah Malang.Pada dasarnya Sabilillah dan Hizbullah memiliki keanggotaan yang sama namun dengan keputusan kongres Umat Islam KH. Masykur diminta membentuk barisan tersendiri.

Penelitian ini bertujuan mengetahui peranan Laskar Hizbullah dalam mempertahankan Kemerdekaan di Malang dan mengetahui peninggalan Laskar Hizbullah di Malang. Peninggalan Laskar Hizbullah Malang salah satunya adalah berupa bangunan. Bangunan tersebut merupakan sumber sejarah dalam bentuk artefaktual. Sumber sejarah artefaktual tersebut menggambarkan peranan Hizbullah dan menjadi penunjang penulisan sejarah peranan Hizbullah

PEMBAHASAN

Penulisan sejarah juga dapat pula membagi sumber menjadi dua. sumber kebendaan atau materil yaitu sumber sejarahya berupa benda yang dapat dilihat secara fisik baik itu berupa dokumen tertulis maupun bukti berupa benda (banguna atau monumen) yang berkaitan dengan peristiwa sejarah. Penelitian dapat dilakukan dengan mencari atau menemukan Jejak peristiwa sejarah sebagai tanda bukti dari serangkaian peristiwa sejarah Jadi, harus dicari hubungan antara jejak yang ditinggalkan dengan peristiwa sejarah. Jejak atau sumber sejarah tersebut dapat diklasifikas dalam sumber tertulis, sumber lisan, dan sumber benda (artefak).

Penelitian dilakukan untuk mencari hubungan antara jejak yang ditinggalkan dengan peristiwa sejarah. Jejak atau sumber sejarah tersebut dapat diklasifikas dalam sumber tertulis, sumber lisan, dan sumber benda (artefak). Penelitian akan berfokus kedalam sumber sejarah berupa benda seperti bangunan. Baru kemudian dilakukan kajian kaitan sumber sejarah berupa benda dengan dokumen sebagai sumber sejarah primer kemudian dikuatkan sumber sejarah berupa sumber lisan dari interview dengan pelaku sejarah. Penelitian lebih lanjut mengenai peninggalan Hizbullah Malang diharapkan mampu dilakukan lebih mendalam lagi mengenai arti dan keberadaan peninggalan sejarah tersebut. Diharapkan penelitian selanjutnya akan lebih membahas peninggalan lainnya yang berkaitan dengan lingkungan pesantren. Penelitian sejarah revolusi Indonesia diharapkan diperkaya dengan penulisan keterlibatan kalanganpesantren.

KEBERADAAN DAN PERANAN LASKAR HIZBULLAH DI MALANG

Pada awalnya Jepang memberikan pelatihan para santri sebagai bentuk upaya mengambil hati tokoh Islam Indonesia dan diberikan kesempatan untuk membentuk organisasi. Pada 15 Desember 1944 dibentuklah Kaikyo Seinen Teishintai oleh para tokoh Islam dikenal sebagai Hizbullah. Keanggotaan Hizbullah diwajibkan untuk mengikuti pelatihan kemiliteran dan juga merupakan santri sebagai representasi kalangan muda pesantren. Hizbullah Malang pada awalnya sama dengan Hizbullah daerah lain yaitu merupakan santri pesantren yan dilatih oleh Jepang di Cibarusa. Setelah pelatihan angkatan pertama ditunjuklah KH. Masjkur sebagai pimpinan Hizbullah Malang.

Setelah kongres Masyumi diputuskan KH. Masjkur memimpin Laskar Sabillillah sebagai panglima tertinggi (Kedaulatan Rakyat, 09 November 1945). Pimpinan Hizbullah Malang lalu digantikan oleh KH. Nawawi Thohir yang merupakan adik ipar KH. Masjkur. Perbedaan Hizbullah dan Sabilillah adalah Sabilillah baru terbentuk pada akhir tahun 1945 dan beranggotakan elite dan tokoh muslim yang lebih tua (Sapto, 2019:61). Barisan Sabilillah yang dibentuk berada dibawah naungan Masyumi dan pemimpin aksi pergerakan pemuda Masyumi adalah KH. Masykur. Penempatan markas tertinggi Sabilillah di Malang karena berbagai faktor yang mendukung kemudahan pergerakan barisan Sabilillah (Suratmin,2015:32).

Masyarakat Malang terlibat aktif dalam perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan di Surabaya terbukti dengan dikirimkannya pasukan dari Malang. Pasukan dari Malang yang dikirim pertama kali kali ke Surabaya dari resimen 38 adalah kompi Sochifudin yang bertugas sekitar 14 hari di medan pertempuran. Masyarakat yang berjuang banyak bergabung dalam BKR maupun satuan lain salah satunya dalam bentuk kelaskaran dari kalangan santri pondok pesantren. Ada dua kelaskaran yang berbasis pondok pesantren berdiri di Malang yaitu Sabilillah dengan kepala markas tertingginya adalah KH. Masykur yang berasal dari Singosari Malang, Selain itu ada juga Hizbullah yang berangkat ke Surabaya dipimpin oleh KH. Nawawi Thohir dan Abbas Sato dengan Jumlah 168 Pasukan (Jauhari,2018:28).

Perjuangan mempertahankan Surabaya oleh pejuang republik indonesia mengalami tekanan yang berat maka pimpinan tertinggi Hizbullah-Sabilillah mutuskan melakukan penyatuaan koordinasi dalam satu wadah khusus untuk mempermudah strategi perjuangan. Mempermudah koordinasi Hizbullah dan Sabilillah memiliki pimpinan utama yang disebut markas tertinggi. Selain markas tertinggi masing-masing kelaskaran terdapat MUDT (Markas Ulama’ Djawa Timur) keberadaan markas tersebut selain menyatukan dua kelaskaran dari kalangan santri juga sebagai benteng pertahanan di Surabaya bagian selatan yaitu didaerah Jalan Blauran. MPHS (Markas Persatuan Hizbullah Sabilillah) dibentuk pada bulan Juli 1946 di Desa Jetis Sidoarjo (Jauhari,2018:27).

Akhir pertempuran di Surabaya ditandai dengan berhasil direbutnya markas pertahanan Gunung sari pada 29 November 1945 (Jauhari,2018:33). Pasukan Sekutu terus memojokan pasukan Republik hingga Markas Ulama’ Djawa Timur (MUDT) sekaligus markas Sabilillah-Hizbullah di Kepanjen Surabaya juga berhasil direbut oleh Sekutu. Pada bulan Mei 1946, tentara Inggris menyerahkan kekuasaan atas Surabaya secara resmi kepada Belanda atau NICA melalui pimpinan KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger) penyerahan dilakukan oleh panglima Divisi India V Mayor Jenderal GK, Bourne, kepada Kolonel Giebel (kayyis,2015:198).

Setelah Surabaya berhasil ditaklukan Belanda kembali berusaha mengusai wilayah strategis di Indonesia. Selain Surabaya wilayah yang ingin direbut NICA kembali adalah Kabupaten dan Kota Malang. Operasi serangan dilakukan karena pemerintah Belanda masih ingin mengambil untung dari wilayah Malang yang merupakan wilayah yang subur dan strategis. Penyerangan pasukan Belanda menyebabkan terjadi kekacauan karena pasukan Belanda tidak hanya menyerang sesama prajurit tapi juga rakyat sipil(Sapto,2018:79).

Pasukan Indonesia berjuang sekuat tenaga dalam mempertahankan wilayah Indonesia. Pasukan yang menpertahankan wilayah tersebut juga ada pasukan dari Malang. Seperti Batalyon 38 pimpinan Hamid Rusdi yang merupakan BKR dari Malang. Pasukan Indonesia yang bertahan di Pasuruan terutama Gempol berupaya agar Belanda tidak memasuki Malang meskipun harus kalah dan Belanda berhasil masuk ke daerah Lawang kemudian Singosari Kabupaten Malang.

Pasukan Belanda menyerang pertahanan di Porong Sidoarjo dan terus mendorong mundur pasukan republik. Pasukan republik terus didorong hingga Gempol, Pandaan, Lawang, bertujuan menguasai kabupaten dan Kota Malang (Jauhari,2018:43). Pertempuran tersebut sebenarnya dimulai ketika Belanda melakukan penyerangan di Sidoarjo pada 25 Januari 1947. Dilakukan ketika akan ditanda tanganinya perjanjian Linggarjati. Pada 27 Januari 1946 daerah Krian dan Watutulis sudah mampu dikuasai oleh Belanda lalu akhirnya pasukan Belanda bergeser ke Selatan menuju Pandaan. Sebelumnya menuju Pandaan Belanda harus berhadapan dengan banyak pasukan Indonesia yang bertahan salah satunnya Resimen Infantri 38 Malang pimpinan Hamid Rusdi (Satopo,1997:39).

Sebagai bentuk dari strategi dan upaya memperthanakan kemerdekaan menghadapi penyerangan Belanda Pemerintah Indonesia mulai menata kembali pertahanan dengan mengkonsolidasi kekuataan persenjataan pada 25 Januari 1946 dengan mengganti TKR (Tentara Keselamatan Rakyat) yang sebelumnya BKR (Barisan Keamanan Rakyat) menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia). Selain Itu. Keputusan pemerintah itu ditanggapi baik oleh MPHS. Pada awalnya pemimpin MPHS menanggapi keputusan pemerintah dengan menata ulang struktur kelaskaran didalamnya. Penataan Laskar Hizbullah-Sabililah Malang dilakukan dengan membagi kedalam dua batalion:

• Batalion sunan Giri yang teritori kekuasanya Kota Malang sampai Malang Selatan dengan komandan KH. OemarMaksum

• Batalion Sultan Agung yang teritori kekuasaanya Singosari dan Wilayah Malang Utara dengan komandan KH. Dimyati (Jauhari,2018:39).

Sebelum memasuki wilayah Malang Belanda harus melalui beberapa daerah. Daerah tersebut dipertahankan pejuang Indonesia salah satunya Laskar Hizbullah Pasuruan. Gempol menjadi salah satu daerah yang dipertahankan oleh Laskar Hizbullah Pasuruan. Karena sudah dapat diperhitungan target penyerangan sebenarnya adalah Malang sebagai daerah strategis dan subur. Maka Banyak satuan Kelaskaran dan TRI dikirim ke Sidoarjo, Porong dan Gempol, Pada 28 Januari 1947 Belanda melakukan Penyerangan serentak yaitu :

• Serangan Pertama Watutulis kePrambon,

• serangan kedua dari tulangan menujukrembung,

• serangan ketiga dari tanggul menuju porong laluGempol.

Pertahanan di Pasuruan dan Pandaan adalah resimen 38 pimpinan Hamid Rusdi yang terdiri dari 4 Batalyon. Kempaat Batalyon ada 2 yang merupakan batalyon dari Hizbullah yaitu batalion pimpinan Syamsul Islam dan Abdul Manan. Pasukan ini berusaha mempertahankan Pandaan sekuat tenaga namun Belanda menggunakan serangan yang masif dan menggunakan serangaan udara sehingga membuat Hamid rusdi dan pasukanya harus mundur keselatan. Sejak 21 Juli 1946 pasukan Belanda bergerak secara ofensif sejak dari Porong yaitu dengan cara menyerang langsung dan memukul musuh mundur. Pergerakan tersebut dilakukan setelah sebelumnya pertahanan Divisi VII Untung Suropati diterobos (Satopo,1997:88). Pasukan Belanda terus bergerak keselatan hingga akhirnya pasukan Belanda masuk lawang pada 24 Juli 1946 (Jauhari,2018:44). Karena penyerangan yang dilakukan Belanda secara bersamaan tersebut pasukan Indonesia semakin dipukul mundur(Satopo,1997:66).

Satuan yang terlibat secara penuh dalam mepertahankan Jawa Timur adalah divisi I Untung Suropati dipimpin oleh Mayor Jenderal Imam Soedjai. Divisi I memiliki 3 Resimen dan sebelas battalion. Resimen 38 dipimpin oleh Letnan Kolonel Hamid Rusdi (Satopo,1997:75). Hamid rusdi juga merupakan Santri KH. Masjkur di Pondok pesantren Bungkuk Singosari. Sebelumnya Hamid Rusdi bersama Batalionnya bertahan di Pandaan namun karena mengalami kekalahan. Resimen 38 mundur menuju Kota Malang bersiap untuk melakukan aksi bumi hangus ketika Kota Malang akan dikuasai.

Belanda berupaya menguasai Kota Malang namun terlebih dahulu harus melalui wilayah Kabupaten Malang sisi Utara yaitu Lawang dan Singosari. Belanda harus berhadapan dengan pasukan Indonesia terdiri dari BKR dan badan kelaskaran yang bertahan di lawang dan Singosari. Salah satu badan kelaskaran yang terlibat dalam mempertahankan Malang adalah Hizbullah Malang. Singosari merupakan salah satu daerah perbatasan kabupaten dan Kota. Belanda sebelum masuk Kota Malang harus melewati Singosari yang merupakan salah satu daerah basis Laskar Hizbullah Malang. Kekuatan laskar Hizbullah Malang di Singosari cukup besar karena terdapat beberapa pondok pesantren tua dan juga memiliki jumlah santri yang banyak. Karena alasan tersebut kekuatan Hizbullah secara kuantitas besar dan mempersulit agresi militer Belanda. Sebelum memasuki Singosari pasukan Indonesia ketika di Lawang membagi pasukan yang beratahan sebagai upaya gerilya dalam menghadapi Belanda. strategi gerilya dilakukan karena pasukan Indonesia menyadari perbedaan persenjataan pasukan Indonesia dan Belanda .

Hizbullah-Sabillah Malang yang berada di Singosari berjuang bersama dalam MPHS (Markas Persatuan Hizbullah Sabilillah). Penyatuaan koordinasi dalam satu wadah khusus untuk mempermudah strategi perjuangan. Pemyatuan tersebut tidak menemui kendala berarti karena setelah kekalahan Indonesia di Surabaya pimpinan markas tertinggi Hizbullah yaitu KH. Zainul Arifin berada di Malang. Keberadaan KH, Zainul Arifin bertujuan untuk mengkoordinasikan pertahanan Indonesia bersama komandan Sabilillah juga untuk menyatukan Hizbullah dan TNI. Keberadaan markas tersebut selain menyatukan dua kelaskaran dari kalangan santri juga bertujuan menambah persenjataan dalam menghadapi Belanda. MPHS (Markas Persatuan Hizbullah Sabilillah) Malang bergerilya dengan kekuatan penuh di Singosari namun juga melibatkan masyarakat sekitar. Perjuang pasukan Indonesia dalam menghadapi Belanda sebelum memasuki Kota Malang menggunakan strategi gerilya meninggalkan berbagai bukti sejarah di sekitar daerah Singosari. Mulai dari tempat koordinasi hingga monumen yang didirikan khusu mengenang perjuang MPHS bersama masyarakat Singosari dalam menghadapi Belanda .

Akhirnya pada 31 Juli 1947 Belanda memasuki wilayah Kota Malang tetapi sudah berhasil di bumi hangus kan dan pemerintahan bergeser di tempatkan di Turen Kabupaten Malang. Belanda terus melakukan serangan hingga sampai ke Batu dan Pujon. Bahkan pasukan Belanda melakukan penyerangan ke Bululawang pada 4Agustus1947 saat pemerintah pusat dan Belanda sepakat menghentikan perang atau Genjatan Senjata. Pasukan Belanda mulai menyerbu Kota Malang dengan kendaraan berat dan persenjataan lengkap. Pasukan Belanda cukup mudah memasuki Kota Malang sebab Kota ini telah dikosongkan oleh Komando Divisi Untung Suropati dan Kota Malang dinyatakan sebagai Kota terbuka.

Meski begitu peranan Hizbullah-Sabilillah yang merupakan representasi kalangan pesantren dirasakan perlu untuk menulis historiografinya. Penulisan terutama dari kalangan pesantren sebagai basis keanggotaan Hizbullah dan Sabilillah pada dasarnya memiliki sumber sejarah yang melimpah. Dalam hal ini sumber sejarah berupa peniggalan dalam bentuk fisik (artefak). Seperti dijelaskan bahwa pesantren Tambakberas berperan penting sebagai tempat koordinasi Hizbullah Jombang (skripsi. Subhan, 2019:59). Bukti keberadaan pesantren dalam hal ini bukan lagi hanya dalam bentuk bangunan tapi juga wujud keberadaan pesantren sebagai lingkungan pendidikan islam. Disisi lain pesantren dalam fokus penelitian ini merupakan pesantren di kabupaten dan Kota Malang belum dituliskan dalam penelitian terdahulu. Pesantren di kabupaten dan Kota Malang memiliki peranan penting dalam latar terbentuknya Hizbullah dan Sabilillah

PENINGGALAN LASKAR HIZBULLLAH DIMALANG

Hizbullah maupun Sabilillah merupakan kelompok pejuang perwakilan pesantren, maka pasti akan memiliki peninggalan sejarah sebagai bukti sejarah. Menurut kuntowijoyo pengertian sumber sejarah atau dalam kata lain disebut dengan data sejarah harus dikumpulkan sesuai dengan sejarah yang akan ditulis. Sumber menurut bahanya juga dapat dibagi menjadi tertulis ataupun tidak tertulis, dalam penelitian ini dapat berupa dokumen atau artefak bangunan dan Monumen (Kuntowijoyo, 2001:73). Penulisan sejarah juga dapat pula membagi sumber menjadi dua. sumber kebendaan atau materil yaitu sumber sejarahya berupa benda yang dapat dilihat secara fisik baik itu berupa dokumen tertulis maupun bukti berupa benda (banguna atau monumen) yang berkaitan dengan peristiwa sejarah. Penelitian dapat dilakukan dengan mencari atau menemukan Jejak peristiwa sejarah sebagai tanda bukti dari serangkaian peristiwa sejarah (Herlina,2020:7).

Perjalanan hijrah pasukan Hizbullah menuju Malang selatan ketika terus digempur Belanda tetap membutuhkan koordinasi dalam melaksanakan strategi. Sehingga saat berada diwilayah Kasin Hizbullah melakukan koordinasi anggota. Selain beberapa tempat bersejarah dan monumen yang berkaitan dengan Hizbullah di Malang terdapat pula makam anggota Hizbullah. Sumber artefaktual sejarah tersebar di beberapa daerah di kabupaten dan Kota Malang. Di Singosari Kabupaten Malang terdapat peninggalan sejarah yaitu Masjid Hizbullah di Desa Pagentan Singosari. Monumen Obor perjuang di Jalan raya Singosari berada didepan kantor Bank Jatim Singosari yang juga merupakan halaman pusat studi Ken Dedes. Selain itu terdapat pula rumah yang pada masa perang Surabaya menjadi tempat tinggal sementara KH. Zainul Arifin. Makam salah seroang petinggi Hizbullah – Sabillillah Malang yaitu KH. Masjkur berada di Singosari. Makam KH. Masjkur berada di lingkungan Pondok Pesantren Bungkuk Singosari. Keberdaan makam dilingkungan Pondok Pesantren sebagai bukti sejarah keterlibatan kalangan pesantren memperjuangkan kemerdekaan. Selain terdapat pula Pondok Pesantren Al-Mun’ib Sonotengah Pakisaji sebagai tempat melakukan pembekalan santri anggota HizbullahMalang.

Selain di wilayah Kabupaten Malang di Kota Malang juga terdapat Makam KH. Malik dan Monumen perjuangan Kidul pasar kelurahan Sukoharjo belakang Kantor Cabang BRI Martadinata. Monumen Kidul Pasar menuliskan nama pejuang yang berasal dari kelurahan Sukaharjo Kota Malang. Pejuang tersebut seperti dijelaskan diatas berjuang ketika Kota Malang sudah dikuasai dan berusaha terus mendorong mundur pejaung hingga ke wilayah Malang selatan. Pada saat pejuang terus diserang hingga ke Bululawang Hizbullah malalukukan koordinasi di Kasin lebih tepatnya di Masjid Al-Mukarromah. Selain itu dari beberapa makam anggota Hizbullah berada didalam lingkungan Pondok pesantren, Namun ada makam salah seorang anggota Hizbullah yang berada di tepi jalan yang berada di kelurahan Buring.

Masjid Hizbullah

Pada awalnya masjid Hizbullah merupakan musholla yang di waqaf kan oleh keluarga H. Maksum (Ayundasari. 2018:12). H. Maksum merupakan ayah dari KH.Masjkur pemimpin tertinggi Sabilillah Malang. Masjid Hizbullah sejak masa Jepang menjadi tempat mengumpulkan pemuda untuk bergabung dalam Laskar Hizbullah. Anggota Hizbullah Malang berasal dari pondok pesantren di wilayah Malang.

Lokasi masjid dianggap strategis untuk mengumpulkan massa karena berdekatan dengan pasar singosari. Masjid juga memiliki halaman luas untuk dipergunakan sebagai tempat pelatihan Hizbullah Masjid Hizbullah sekarang memiliki bangunan yang lebih baru dan banyak digunakan sebagai aktifitas ibadah masyarakatsekitar.

Peninggalan masjid yang tersisa adalah lahan luas terutama dibagian halaman masjid. Setelah kalah di Surabaya dan terbentuknya MPHS maka Masjid Hizbullah juga menjadi tempat koordinasi MPHS. Menanggapi kemungkinan itu komandan tertinggi Hizbullah memutuskan untuk bertempat di Malang selama masa penyerangan Belanda (Sari, 2015:27). Komandan tertinggi Hizbullah KH. Zainul Arifin selama berada di Malang bertempat tinggal di tepi jalan Singosari. Rumah tersebut sekarang beralih fungsi menjadi pos pengamanan polisi lalu lintas.

Monumen Obor Revolusi Pejuang 45 Singosari

Selain Masjid Hizbullah di Singosari juga terdapat Monumen Obor Revolusi Pejuang 45. Lokasi monumen berada ditepi jalan raya Singosari dipelataran pendopo kantor pembantu Singosari. Monumen Obor Revolusi Pejuang 45 berada sekarang di seberang pasar Singosari dihalaman Pusat Studi Ken Dedes dan bersebelahan dengan Kantor Bank JATIM Singosari. Monumen tersebut juga tidak terlalu jauh dengan lokasi Masjid Hizbullah. monumen tersebut didalamnya terdapat tulisan sebagai berikut:

Monumen Obor Revolusi Pejuang 45 bertuliskan sejarah terbentuknya Batalion Infantri 514 Brawijaya

I. Th. 1945 - 1947 : Hizbullah /Sabilillah.

II. Th. 1947 - 1948 : Yon Inf 96, Yon 12,7 BE XIII DivisiI.

III. Th. 1948-1950 : Yon Iv Brigade Iv DivisiI.

IV. Th. 1950-1951 : Yon 33 Brigade Iv DivisiI.

V. Th. 1951 – Sekarang : Yon Inf 514Brawijaya

TTD

H. Moechlas Rowi MAJEND. PURN. TNI

Peranan Hizbullah dan Sabilillah sebagai badan kelaskaran sebelum menjadi TNI menjadi sejarah penting. Sejarah penggabungan Hizbullah-Sabilillah dalam TNI tertulis dalam Monumen Obor Perjungan 45 yang berada di Singosari di Tanda Tangani oleh Mayjend. PURN. TNI H. Moechlas Rowi.

Masjid Al Mukarromah Kasin

Pada 31 Juli 1947 Belanda memasuki wilayah Kota Malang Pasukan Belanda dengan mudah memasuki Kota Malang sebab Kota telah dikosongkan oleh Komando Divisi Untung Suropati. Penyerangan dilakukan disaat pemerintah Indonesia dan Belanda sepakat menghentikan perang atau genjatan senjata. Pasukan Belanda mulai menyerbu Kota Malang dengan kendaraan berat dan persenjataan lengkap membuat pasukan Hizbullah dan Sabilillah mengalami kekalahan. Setelah Belanda berhasil mengusai Kota Malang pasukan Indonesia dipukul mundur keselatan. Begitu juga Hizbullah dan Sabilillah bergerak terus keselatan Kota Malang menuju Turen Kabupaten Malang. Selama proses perpindahan tersebut Hizbullah Malang melakukan koordinasi di Kasin Kota Malang. Tempat koordinasi tersebut adalah Masjid Al Mukarromah yang sekarang berada di dalam gang 4 jalan Arief Margono Kota Malang.

Ditengah pelarian dan strategi gerilya tersebut juga Hizbullah terus mengkonsolidasikan pasukan untuk melebur bersama TKR menjadi satuan tentara resmi milik negara kesatuan Republik Indoneasia. Pentingnya keberadaan Masjid Al Mukarromah bagi Hizbullah Malang harus tetap dihargai meski sedikit bukti yang menjelaskannya.

Monumen Hizbullah Kidul Pasar

Bukan hanya di Singosari di Kota Malang terdapat pula Monumen perjuangan di Jalan Prof. Yamin V Kidul Pasar Sukoharjo klojen Kota Malang. Monumen tersebut terdapat 15 nama pejuang yang berasal dari kelurahan Sukoharjo. Terdapat pula beberapa nama mantan anggota Hizbullah yang saat itu sudah bergabung dalam TNI. Terdapatnya nama pemuda asal sukaharjo dikarenakan di kelurahan Sukaharjo berdiri pesantren asuhan KH. Tamim (Wawancara Kyai mashudi Wajak pada10 februari 2020). Pesantren tersebut merupakan salah satu pesatren tua di Kota Malang. Para pemuda sukoharjo berjuang mempertahankan kemerdekaan indonesia karena motivasi Keterlibatan pemuda Sukaharjo Kota Malang dalam mempertahankan kemerdekaan di apresiasi dengan pembangunan tuguh perjuangan. Monumen dibangun oleh pemerintah Kota Malang pada 1988. Seperti tercatat dalam monumen tersebut yang menandatangani adalah wali Kota Malang Dr.H. Tom Uripan Nitiharjo, S.H.

Makam pahlawan

Tokoh elite jawa timur terlibat aktif dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari upaya Belanda kembali merebut kekuasaan. Pada awal kemerdekaan tokoh elite jawa timur dapat dibagi kedalam enam kelompok berdasar kecenderungan dan kepentingan (Sapto,2017:88) Kelompok elite pertama yang mendasarkan islam sebagai perilaku dalam hidup adalah Sabilillah dan Hizbullah. Merupakan kelompok yang pada dasarnya terbentuk dan bergerak karena adanya individu atau dapat disebut dengan tokoh elite yang mampu menggerakan satu kelompok masyarakat. Hizbullah tidak dapat dilepaskan dari pondok pesantren karena memang Hizbullah berdiri dari pesantren dan para tokoh elite pesantren. Beberapa tokoh elite pesantren di Malang terlibat dalam kesatuan Hizbullah Malang. Diantara tokoh elite pesantren menempati posisi pimpinan Hizbullah Malang adalah KH Masykur. Menjadi hal menarik pula ketika salah seorang tokoh Hizbullah yang bukan orang asli Malang, namun mempertahankan Malang dari Agresi Militer Belanda II. Makam tokoh elite pesantren yang perlu dilestarikan sebagai bukti sejarah seperti KH. Masykur salah satunya. KH. Masykur dimakamkan di pemakaman pondok Pesantren Bungkuk Singosari.Adapula selain makam KH. Masykur di Singosari yaitu makam yang berada di pinggir jalan raya Buring. Makam tersebut bertuliskan anggota Hizbullah battalion 33 Yon Inf 514 divisi 1 brawijaya. Makam tersebut merupakan makam KH. Malik salah seorang Anggota Hizbullah yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari Agresi Militer Belanda. Menjadi hal menarik lagi karena KH.Malik merupakan anggota Hizbulllah Malang namun bukan tokoh asal Malang dan merupakan pendatang (Wawancara kepada KH. Mashudi pada 10 Februari 2020 di Wajak Kab. Malang).

KESIMPULAN

Penelitian akan berfokus kedalam sumber sejarah berupa benda seperti bangunan. Baru kemudian dilakukan kajian kaitan sumber sejarah berupa benda dengan dokumen sebagai sumber sejarah primer kemudian dikuatkan sumber sejarah berupa sumber lisan dari interview dengan pelaku sejarah. Beberapa sumber sejarah berupa peninggalan keberadaan antara lain Masjid Hizbullah di Singosari, Tempat tinggal KH. Zainul Arifin komandan Hizbullah semasa di Malang, Masjid Al-Mukarromah di Kasin Kota Malang. Selain itu juga tempat pembekalan Hizbullah sebelum berangkat ke medan pertempuran yaitu Pondok Pesantren Al-Mun’ib Sonotengah Pakisaji menjadi bukti peninggalan sejarah Hizbullah Malang. Peninggalan juga dapat berupa Monumen seperti Monumen Obor perjuangan dan Monumen perjuangan Arek kidul pasar. Karena Hizbullah sebagai kelompok juga memiliki beberapa tokoh sentral yang juga sebagian merupakan tokoh pesantren dan dihormati dikalangan umat islam di Malang, maka makam para tokoh tersebut dapat dikategorikan sebagai peninggalan sejarah

DAFTAR RUJUKAN

Ayuhanafiq. 2013. Garis depan pertempuran laskar hizbullah1945-1950.

Mojokerto : Azza Grafika

Ayundasari, Lutfiah. 2018. KH. Masjkur Dalam Sejarah Pendidikan Islam Modern di Indonesia 1923-1992. Universitas Negeri Malang : UMpress

Bayqhuni, Ahmad. 2008. Perjuangan Gerakan Pemuda Islam Indonesia Pada Masa Revolusi Fisik 1945-1949. Skripsi UIN Syarif Hidayattullah Jakarta

Bustami, Abdul Latif dan Tim Sejarahwan Tebuireng. 2015. Resolusi Jihad perjuangan Ulama: dari Menegakkan Agama Hingga Negara, Jawa Timur: Pustaka Tebuireng

Benda, Harry J. 1985. The Crescent and The Rising Sun : Indonesian Islam under the japanese occupation 1942-1945, Penerjemah : Daniel Dhakidae ; Cet. 2 – Jakarta: PT Dunia PustakaJaya

Choirun, Umi Nisa 2019 Peran KH. Ahyat Halimy Dalam Perjuangan Laskar Hizbullah Mojokerto 1945-1949 Skripsi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Dien, M. Madjid & Johan Wahyudi, 2014. Ilmu Sejarah Sebuah Pengantar

Depok : Prenadamedia

Hadi, Nur dan Sutopo. 1997. Perjuangan Total Brigade IV Pada Perang Kemerdekaan Di Karesidenan Malang, Publisher : Malang : Penerbit IKIP Malang

Herlina, Nina. 2020 Metode Sejarah, Satya. Historika, Bandung

Hutagulung, Batara R. 2018. Indonesia Tidak Pernah Dijajah. Yogyakarta: Matapadi Presindo

Jauhari, Najib. 2018 Laskar Sabilillah Malang Dalam Perang Kemerdekan Kajian Historis Dan Edukatif. Skripsi. Malang : Universitas Negeri Malang diterbitkan oleh Percetakan Universitas Negeri Malang dalam judul “KH.MASJKUR : Laskar Sabilillah Dan HeroismeSantri“

Joehanda, Wawan K. 2017 YOGJAKARTA : mereka (pernah) disini desember 1948 juni 1949 Yogjakarta : Matapadi

Jumeroh Mulyaningsih & Dedeh Nur Hamidah. 2018. Laskar Santri PEJUANG NEGERI: Rekam Jejak Laskar Hizbullah dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya Jurnal Tamaddun. 6(2). 1-30 Dari: https://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/tamaddun/article/view/3519Kholili, Muhammad. 2013. Perjuangan K.H. Malik dalam mempertahankan

kemerdekaan di Kota Malang. Skripsi. Malang : IKIP Budi Utomo Malang Kuntowijaya. 2001. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: YayasanBentang

Budaya.

Kuntowijaya. 2003. Metodelogi Sejarah, Edisi Kedua.Yogyakarta: Tiara Wacana. Kayyis,Isno.2015 Perjuangan Laskar Hizbullah di Jawa Timur. Jombang:

Pustaka Tebuireng

Latief, Hasyim. 1995. Laskar Hizbullah Berjuang Menegakkan Negara RI, Jakarta :LTNUPBNU.

Leirissa, R.Z. 2004. Charles Tilly dan Study Tentang Revolusi Sosial. Jurnal Sejarah. 6 (1).1-30 Dari: http://jurnal.masyarakatsejarawan.or.id/index.php/js/article/view/198

Nur, Muhammad Kholid. 2017. Studi Tentang Peran Laskar Hizbullah Jombang Pada Peristiwa 10 November 1945 Di Surabaya. Skripsi Universitas Nusantara PGRI Kediri

Nasution. Abdul Haris.1978. Sekitar Perang Kemerdekaan 1945-1950 Jilid IIDiplomasi atau bertempur Bandung : DISJARAH TNI AD & ANGKASANasution. Abdul Haris.1978. Sekitar Perang Kemerdekaan 1945-1950 Jilid IIIDiplomasi sambil bertempur Bandung : DISJARAH TNI AD &

ANGKASA

Nasution. Abdul Haris.1978. Sekitar Perang Kemerdekaan 1945-1950 Jilid IV. Periode Linggarjati. Bandung : DISJARAH TNI AD & ANGKASA

Nasution. Abdul Haris.1978. Sekitar Perang Kemerdekaan 1945-1950 Jilid V. Agresi militer Kolonial Belanda I. Bandung : DISJARAH TNI AD & ANGKASA

Nasution. Abdul Haris.1978. Sekitar Perang Kemerdekaan 1945-1950 Jilid VI. Perang Gerilya semesta I. Bandung : DISJARAH TNI AD & ANGKASA

Oktorino. Nino. 2019. HEIHO:Barisan pejuang Indonesia yang terlupakan.

Jakarta : PT. Elex Media Komputindo

Oostindie, Gert 2016 Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950: Kesaksian perang pada sisi sejarah yang salah penerjemah: Susi Moeimam, Nurhayu Santoso, dan Maya Sutedja-Liem; Cet. 1 – Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia;KITLV-Jakarta

Sapto. Ari 2019. Republik Dalam Pusaran Elit Sipil Dan Militer. Yogjakarta : Matapadi

Sartono, dkk . 2013. Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV. Jakarta : Pustaka.

Sari, Indah Nur Eva 2015 Perjuangan Panglima Kh. Zainul Arifin Dalam Organisasi Laskar Hizbullah Tahun 1944-1948. Skripsi, IAIN SMH Banten.

Sjamsuddin, Helius. 1996. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Subhan, Muhammad. 2019. Peran Pesantren Tambakberas Sebagai Pusat Laskar Hizbullah Di Jombang Tahun 1944-1948 Skripsi. UIN Sunan Ampel Surabaya

Suratmin. 2017. Perjuangan Laskar Hizbullah dalam pertempuran Surabaya 10 November 1945. Yogjakarta : Matapadi

Sunyoto, Agus. 2017. Fatwa dan Resolusi Jihad: Sejarah Perang Rakyat Semesta Di Surabaya, 10 Nopember 1945. Jakarta : Pustaka Pesantren Nusantara

DOKUMEN DAN ARSIP

 Arsip kementerian kepolisian RI No.550 8 November1947

 Arsip kementerian kepolisian RI No.575 12 Oktober1947

 Arsip kementerian kepolisian RI No.591 6September

 Foto copy interview Veteran BrigadeIV

 Arsip kementerian Pertahanan RI No.1314 15 September1967

 Koran Kedaulatan Rakyat 9 November1945

 Koran Kedaulatan Rakyat 26 Oktober1945

DAFTAR NARASUMBER PENELITIAN

 Djoemain (84 Tahun) Wawancara di Jl. Bululawang RT.02 RW.01 Sidomukti Kab. Malang pada

 H. M. Nidhom Thohir (58 Tahun) Jl. Masjid No. 50 Pagentan Singosari Kabupaten Malangpada

 KH. Mashudi (92 Tahun )Wawancara di Sukokecik, Sukolilo, Wajak KabupatenMalang