Ambulans Bawa Jenazah Diduga Dihalangi Oknum Satpol PP di Surabaya

Seorang oknum Satpol PP Surabaya diduga menghalangi jalannya mobil ambulans yang sedang membawa jenazah. Ia sempat berdebat dengan sopir serta melihat isi ambulans tersebut. Aksinya itu sempat terekam kamera dan viral di media sosial.
Diketahui, ambulans tersebut merupakan milik BPJS Watch Surabaya yang sedang mengantarkan jenazah dan keluarga ke wilayah Sampang, Madura.
Sopir ambulans, Jeki, mengatakan peristiwa itu bermula saat dirinya berangkat mengantarkan jenazah dari Rumah Sakit Umum Surabaya Medical Service (RS SMS) pada Rabu (23/9) sekitar pukul 19.00 WIB.
Di tengah perjalanan, oknum Satpol PP tersebut tiba-tiba membuntuti ambulans. Sesampainya di Jalan Taman Putro Agung, Surabaya, anggota Satpol PP itu mengetuk mobil ambulans.
"Dipikir keluarga itu mau membantu mengawal, ternyata dia itu mengetok pintu ambulans dan menanyakan bahwasanya tidak boleh memainkan sirine sembarangan," kata Jeki saat dikonfirmasi, Jumat (25/9).
"Saya sendiri kan juga dalam misi tugas pengantaran jenazah dan membawa sesuatu, saya sudah sesuai SOP juga," lanjutnya.
Jeki lalu membuka kaca pintu mobil ambulansnya dan menunjukkan bahwa tengah mengantar jenazah serta keluarga.
Setelah ditunjukkan, masih terjadi perdebatan antara dirinya, keluarga jenazah, serta oknum Satpol PP itu. Selanjutnya, Jeki kembali melanjutkan perjalanannya menuju Sampang.
"Ternyata setelah saya buka, dia kan juga sudah tahu isinya apa, tapi dia masih ngotot aja bahwasanya itu pasien atau keluarga seperti itu. Saya sendiri juga kurang tahu pertanyaannya kan nggak masuk logika juga," ujar dia.
Penjelasan Satpol PP
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satpol PP Surabaya, Irna Pawanti, buka suara terkait insiden yang melibatkan anggotanya tersebut.
Irna mengatakan, pihaknya telah memanggil anggota yang bernama Dimas ke kantor Satpol PP Kota Surabaya untuk dimintai keterangan.
"Kami telah memanggil anggota kami tersebut. Kami juga sudah mengetahui bagaimana kronologi kejadian yang sebenarnya," kata Irna.
Dari keterangan yang diperoleh, anggota Satpol PP itu awalnya melihat kedua kaca spion ambulans dalam kondisi tertutup. Ia lalu berupaya mengejar dan memberi tahu pengemudi terkait kondisi kaca spion itu.
"Yang bersangkutan awalnya ingin memberi tahu pengemudi soal spion yang tertutup. Namun karena suara sirene yang cukup keras, apa yang ingin disampaikan tidak terdengar jelas oleh pengemudi ambulans," jelasnya.
Karena tidak ada respons, Dimas kemudian mengetuk kaca mobil ambulans. Ia meminta pengemudi mengecilkan suara sirene sekaligus menanyakan kondisi yang dibawa di dalam kendaraan tersebut.
"Petugas kami juga mengetuk kaca. Dia meminta tolong untuk dikecilkan dulu sirenenya, sambil teriak ini mau dibuka nggak ininya (spion). Dia berniat membantu, dia juga menanyakan ambulans itu sedang membawa jenazah atau membawa orang yang sedang sakit," ungkapnya.
Setelah mengetahui membawa jenazah, anggota Satpol PP itu lalu mempersilakan kendaraan tersebut melanjutkan perjalanan.
"Setelah tahu di dalamnya ada jenazah, anggota kami langsung mempersilakan untuk melanjutkan perjalanan dan tidak ada niat menghalang-halangi," ujar dia.
Saat kejadian itu, kata Irna, Dimas sedang dalam perjalanan dari rumah menuju kantor untuk tugas shift malam.
Menurut Irna, peristiwa tersebut terjadi karena adanya miskomunikasi antara petugas dan pengemudi ambulans.
"Jadi pada saat pengemudi ambulans membuka kaca jendela, itu sudah terjadi miskomunikasi. Waktu kejadian pun, anggota kami sedang dalam perjalanan bertugas, dari rumah menuju kantor untuk tugas malam," kata Irna.
Persoalan tersebut juga telah diselesaikan dengan mediasi di Kantor Kecamatan Bulak. Anggota Satpol PP itu menjelaskan duduk perkara sekaligus menyampaikan permohonan maaf kepada pengemudi ambulans.
"Kedua belah pihak juga sudah saling memaafkan dan diselesaikan secara kekeluargaan. Anggota kami juga sudah membuat surat pernyataan," ujar dia.
Irna berharap kejadian itu tidak terulang kembali dan akan melakukan evaluasi serta mengingatkan seluruh anggotanya dalam menjalankan tugas.
"Saya berharap kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Kami juga akan mengingatkan anggota kami agar dalam menjalankan tugas tetap mengedepankan sikap yang humanis, terutama ketika berhadapan dengan kendaraan yang memiliki kepentingan darurat," ucapnya.
