Guru Berhenti Belajar, Murid Berhenti Bernalar

Guru Sekolah Dasar
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari FATA AZMI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Guru bukan sekadar pengantar kurikulum ke ruang kelas. Lebih dari itu, guru berada di pusat proses pembebasan manusia dari kebodohan dan ketertinggalan. Ia membentuk cara berpikir, menanamkan sikap, dan membuka orientasi masa depan peserta didik.
Karena itu, guru berkualitas tidak bisa berhenti pada urusan administratif seperti modul ajar. Ia harus hadir sebagai inspirator. Ki Hajar Dewantara sejak awal menegaskan, guru adalah penuntun bagi anak untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup. Tugasnya bukan memerintah, melainkan menuntun agar murid merdeka lahir-batin. Kelas yang dialogis tidak melahirkan anak yang pasrah. Sebaliknya, kelas itu melatih murid membaca realitas, menyadari keterbatasan, dan berani mengubah keadaan.
Persoalannya, budaya belajar di kalangan guru masih tersendat. Di tengah disrupsi dan kompetisi global, kondisi ini mengkhawatirkan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada 22 April 2026 mengakui masih terdapat sejumlah guru aktif yang menjadi sasaran program Pendidikan Profesi Guru tetapi belum mengikuti proses pendaftaran seleksi administrasi hingga tahun 2025. Artinya, ajakan meningkatkan kompetensi lewat jalur resmi sekalipun belum sepenuhnya direspons. Padahal PPG adalah pintu masuk profesionalisme guru.
Mandeknya budaya belajar itu tecermin pada rapor mutu pendidikan. Hasil PISA 2022 yang dirilis OECD Desember 2023 menempatkan Indonesia di peringkat 69 dari 81 negara. Capaian literasi, numerasi, dan sains seluruhnya di bawah rerata OECD. Sulit berharap murid melompat jika sebagian pendidiknya enggan menambah kualifikasi.
Maka membangun budaya belajar guru adalah kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Belajar bukan sekadar mengejar sertifikat 40 JP. Belajar merupakan ikhtiar merawat nalar agar tetap relevan. Di dalamnya terjadi perjumpaan gagasan, perdebatan, dan lahirnya pertanyaan baru. Guru yang terus belajar akan menghadirkan kelas yang hidup. Materinya kontekstual, diskusinya mengalir, muridnya terlibat karena merasa terhubung dengan dunia nyata.
Tantangan paling dasar adalah kesadaran dalam diri guru itu sendiri. Kesadaran bahwa pengetahuan bergerak cepat dan dunia murid hari ini berbeda dengan dua dekade lalu. Guru yang sadar menempatkan pengembangan diri sebagai kebutuhan intelektual, bukan beban administratif demi angka kredit. Ketika guru memperkaya kapasitasnya, pembelajaran menjadi lebih reflektif. Peserta didik tidak hanya menerima, tetapi diajak membedah persoalan hidup secara kritis. Paulo Freire menyebut ini sebagai kesadaran kritis: dari guru ke murid, lalu menjadi kekuatan untuk mentransformasi realitas sosial.
Namun guru tidak bisa berjuang sendiri. Perlu ekosistem sekolah yang menumbuhkan iklim intelektual. Di sinilah kepemimpinan kepala sekolah menjadi kunci. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa keberhasilan transformasi pendidikan sangat ditentukan kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran dan penjaga mutu. “Peran kepala sekolah sangat menentukan arah transformasi pendidikan di sekolah. Kepala sekolah adalah penggerak utama ekosistem pembelajaran,” ujarnya. Ia menambahkan, kepala sekolah wajib mengedepankan fungsi pembinaan guru, mendorong pengembangan profesional berkelanjutan, serta memastikan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan kondusif.
Dalam ekosistem seperti itu, guru tidak hanya mengasah metode. Wawasannya ikut meluas. Dialog dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara hingga Paulo Freire mencegah cara pandang guru menjadi sempit di tengah perubahan zaman.
Ruang kelas yang sehat pada akhirnya melahirkan guru sebagai fasilitator. Ia tidak takut ditanya, justru memancing pertanyaan. Sebab ia paham, nalar kritis murid ditempa melalui dialog rasional, bukan ceramah satu arah.
Mutu pendidikan adalah cermin dari mutu gurunya. Guru merupakan teladan intelektual pertama yang ditemui anak. Selama guru masih mau menjadi murid, pendidikan Indonesia masih memiliki harapan. Sebab tidak pernah ada pendidik hebat yang lahir dari pribadi yang berhenti bertumbuh.
