Tauhid: Cahaya Kesetaraan dan Perjuangan Manusia

FATA AZMI
Guru Sekolah Dasar, Fasilitator Kelas Peradaban, Mahasiswa Magister Aqidah dan Filsafat Islam Pascasarjana STFI SADRA,
Konten dari Pengguna
25 November 2023 8:45 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari FATA AZMI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
sumber : pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
sumber : pixabay.com
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Kesetaraan adalah nilai universal yang merangkul semua individu tanpa memandang perbedaan, baik itu agama, suku, gender, atau latar belakang sosial. Dalam konteks tauhid, kesetaraan diartikan sebagai pemahaman bahwa semua manusia adalah makhluk Tuhan yang sama, memiliki nilai yang setara di hadapan-Nya. Ini mendorong untuk menghapus segala bentuk diskriminasi, perlakuan tidak adil, dan ketidaksetaraan yang masih terjadi di berbagai bidang kehidupan.
ADVERTISEMENT
Pemahaman tentang konsep tauhid dalam Islam tidak hanya merujuk pada keyakinan akan keesaan Allah, tetapi juga membawa implikasi yang luas dalam berbagai aspek kehidupan manusia, seperti moralitas, sosial, dan politik. Sebagai landasan keagamaan, tauhid tidak hanya menegaskan keesaan Tuhan, tetapi juga menyoroti martabat dan kesetaraan manusia di antara ciptaan-Nya.
Pada intinya, tauhid bukanlah sekadar keyakinan metafisika, tetapi juga sebuah pandangan yang memperjuangkan pentingnya menghormati setiap individu dan mengakui hak-hak mereka. Pesan yang disampaikan oleh para nabi dalam mengajarkan tauhid memberikan fondasi bagi pemahaman akan kesetaraan esensial di antara semua manusia.
Dalam konteks sejarah, ajaran tauhid sering menjadi sumber inspirasi bagi mereka yang terpinggirkan atau ditekan. Konsep bahwa hanya Allah yang layak disembah dan dihormati secara penuh membawa konsekuensi moral yang kuat, yang menegaskan pentingnya memperlakukan sesama manusia dengan adil dan menghormati hak-hak mereka.
ADVERTISEMENT
Pentingnya tauhid dalam konteks sosial saat ini terletak pada potensinya sebagai sumber inspirasi bagi gerakan-gerakan yang memperjuangkan kesetaraan, keadilan, dan penolakan terhadap segala bentuk penindasan. Ketika individu memahami bahwa hak mereka diakui dan dihormati karena ajaran tauhid, hal ini dapat membawa perubahan mendasar dalam pandangan terhadap hierarki sosial yang cenderung memberikan keuntungan pada satu pihak dan merugikan yang lain.
Namun, perlu dicatat bahwa sejarah juga mencatat resistensi kuat terhadap ajaran tauhid. Para penguasa yang ingin mempertahankan kekuasaan sering kali menentang konsep ini. Mereka menggunakan berbagai alat, termasuk "dewa-dewa palsu" modern seperti uang atau kekuasaan politik, untuk menjaga status quo yang memberikan keuntungan pada mereka.
Dalam konteks perlawanan terhadap ajaran tauhid, pemahaman yang mendalam tentang konsep ini bukan hanya sekadar keyakinan, tetapi juga menjadi landasan bagi perubahan sosial yang menegakkan martabat manusia. Ini merupakan panggilan untuk menolak segala bentuk penindasan dan dominasi yang bertentangan dengan prinsip-prinsip moral yang ditekankan dalam tauhid.
ADVERTISEMENT
Pemahaman tauhid sebagai cahaya kesetaraan dan perjuangan manusia membangun kesadaran akan pentingnya menghargai martabat individu serta keadilan sosial. Konsep ini menegaskan bahwa semua manusia memiliki hak-hak yang sama, yang harus dihormati dan dilindungi oleh masyarakat dan pemerintahan.
Dalam aspek moral, tauhid menekankan pentingnya perilaku yang adil, kasih sayang, dan penghargaan terhadap kesetaraan di antara semua individu. Ajaran ini membangun fondasi bagi moralitas yang kuat, mendorong manusia untuk berbuat baik, menghormati sesama, dan menjauhi segala bentuk perlakuan tidak adil.
Sementara dalam aspek sosial, tauhid menjadi landasan bagi gerakan-gerakan yang memperjuangkan hak asasi manusia, kesetaraan gender, penghapusan diskriminasi, dan penciptaan masyarakat yang adil dan inklusif. Pemahaman akan kesetaraan esensial di antara semua manusia yang disuarakan oleh tauhid mendorong perubahan sosial yang bertujuan menciptakan lingkungan di mana setiap individu dihormati tanpa memandang latar belakang, agama, atau status sosial.
Ilustrasi politik identitas. Foto: Shutter Stock
Dalam konteks politik, tauhid mengajarkan pentingnya kepemimpinan yang adil dan bertanggung jawab. Konsep ini menekankan bahwa otoritas dan kekuasaan harus digunakan untuk kebaikan bersama, bukan untuk menindas atau mengeksploitasi orang lain.
ADVERTISEMENT
Namun, realitasnya juga menunjukkan bahwa implementasi ajaran tauhid dalam kehidupan sosial-politik sering kali menemui hambatan. Terdapat penguasa atau elite yang menentang konsep ini karena hal itu dapat mengancam posisi atau keuntungan mereka.
Perlu upaya yang berkelanjutan untuk memperjuangkan nilai-nilai tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Ini melibatkan pendidikan yang mempromosikan pemahaman yang mendalam tentang ajaran tauhid, pembangunan masyarakat yang menghormati hak asasi manusia, serta upaya politik untuk menciptakan kebijakan yang adil dan inklusif.
Dalam kesimpulannya, pemahaman tentang tauhid tidak hanya relevan dalam konteks keagamaan, tetapi juga memiliki implikasi yang besar dalam membangun masyarakat yang adil, inklusif, dan menghormati martabat manusia. Konsep ini bukan hanya tentang keyakinan, tetapi juga menjadi landasan bagi perubahan sosial yang bertujuan memastikan bahwa setiap individu dihargai dan dihormati dalam kehidupannya.
ADVERTISEMENT