Paus Fransiskus dan Peran Substansial Agama Menghadapi Persoalan Global

Penulis Lepas. Pernah Bergiat di Komunitas Omah Aksara Yogyakarta. Alumnus Jurusan Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (ISIPOL) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Konten dari Pengguna
4 Februari 2023 17:22
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari M Fatah Mustaqim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Paus Fransiskus berhenti sejenak saat wawancara dengan The Associated Press di Vatikan, Selasa (24/1/2023). Foto: Domenico Stinellis/AP Photo
zoom-in-whitePerbesar
Paus Fransiskus berhenti sejenak saat wawancara dengan The Associated Press di Vatikan, Selasa (24/1/2023). Foto: Domenico Stinellis/AP Photo
Kita barangkali pernah mendengar Gerakan Teologi Pembebasan yang dipelopori oleh Imam Katolik Gustavo Gutierrez dari Peru. Teologi Pembebasan pada mulanya berangkat dari gerakan pemikiran dan pengalaman fenomenologis menghadapi krisis kemanusiaan di negara itu pada dekade 1970-an. Gerakan Teologi Pembebasan di Peru kemudian menginspirasi gerakan-gerakan serupa di beberapa negara Amerika Latin lainnya bahkan di dunia. Teologi Pembebasan menegaskan bahwa agama seharusnya hadir menjawab persoalan kemanusiaan. Bahwa empati terhadap penderitaan liyan adalah bagian dari laku keimanan kepada Tuhan.
Kini agama-agama di dunia sedang menghadapi tantangan yang sama bahkan lebih berat dan kompleks berkaitan dengan krisis kemanusiaan dan lingkungan. Pertemuan antar pemimpin umat beragama semestinya sudah membahas isu-isu kekinian seraya membangun kesepahaman mengenai krisis kemanusiaan dan lingkungan dengan sebuah piagam, misalnya. Bahwa modernitas dan jargon-jargon kemajuan tidak semestinya mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan dan kelestarian lingkungan. Kini saatnya memaknai kekuatan ilmu pengetahuan bukan demi penaklukan alam seperti dalam dongeng Faust namun bagaimana kekuatan pengetahuan itu disublimasi menjadi kebijaksanaan yang melahirkan sikap ugahari dan kesederhanaan hidup.
Namun realitasnya kini sebagian besar pemimpin dan tokoh agama masih lebih banyak berada di dalam kesibukan mengurusi simbolisme ritus dan persoalan internal agama masing-masing. Masih sedikit sekali yang mempunyai pemikiran progresif mengurai benang kusut krisis kemanusiaan dan lingkungan. Wacana keagamaan progresif yang berkaitan dengan persoalan kemanusiaan dan lingkungan masih sekadar menjadi pemikiran alternatif yang minor suaranya dibandingkan arus utama (mainstream) wacana agama yang berkutat pada aspek ritus dan formalisme agama.
Hari-hari ini krisis lingkungan telah mengakibatkan efek domino berupa pemanasan global, krisis iklim, bencana alam hingga ancaman ketersediaan pangan. Belum lagi ancaman munculnya virus akibat rusaknya habitat alam liar yang mengancam munculnya pandemi di masa depan. Persoalan-persoalan kemanusiaan yang berkelindan dengan rusaknya lingkungan itu tentu berangkat dari perilaku manusia yang terobsesi mengejar keuntungan materialistis semata dengan mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan dan kelestarian lingkungan.
Katakanlah perilaku manusia itu berangkat dari tesis antroposentrisme yang berpaham materialistik maka tentu diperlukan anti-tesis dari paham itu dan saya pikir di sinilah kehadiran agama menjadi relevan. Para saintis dan ahli ilmu lingkungan sudah menyimpulkan bahwa bumi semakin rusak bahkan belum pernah ada preseden dalam sejarah umat manusia dimana bumi mengalami kerusakan sedemikian parah. Bukankah kesimpulan sains mengenai kerusakan bumi hari ini sejalan dengan nubuat akhir zaman dalam pemahaman agama.
Nubuat akhir zaman dalam pemahaman agama sudah seharusnya tidak semata dimaknai sebatas propaganda ketakutan (fear mongering) namun sebagai early warning bagi individu beragama untuk berbuat lebih baik sebelum kiamat benar-benar terjadi. Nubuat akhir zaman juga mestinya dimaknai sebagai peringatan untuk memperbaiki kerusakan di bumi sehingga manusia mempunyai kesempatan lebih besar untuk memperbaiki diri sebelum kiamat benar-benar datang.

Menghadirkan Peran Substansial Agama bagi Persoalan Global

Paus Fransiskus berhenti sejenak saat wawancara dengan The Associated Press di Vatikan, Selasa (24/1/2023). Foto: Domenico Stinellis/AP Photo
zoom-in-whitePerbesar
Paus Fransiskus berhenti sejenak saat wawancara dengan The Associated Press di Vatikan, Selasa (24/1/2023). Foto: Domenico Stinellis/AP Photo
Agama sudah saatnya menawarkan alternatif nilai dan hadir menjawab problem krisis kemanusiaan dan lingkungan. Agama adalah nubuat untuk menghidupkan kembali nilai-nilai ugahari dan kebersahajaan dalam hidup berhadapan dengan obsesi akan kemewahan, kebesaran dan kekuatan materialistik yang merusak. Menegakkan kembali etika asketisme publik dan semangat untuk melihat kembali pentingnya konservasi lingkungan berhadapan dengan eksploitasi dan perusakan lingkungan yang tanpa batas. Agama adalah rem bagi peradaban modern yang selalu ngegas dengan obsesi ekspansionis terhadap ruang hidup di bumi. Krisis kemanusiaan dan lingkungan kini terjadi dalam skala global maka global problems needs global solutions. Agama adalah entitas global yang melampaui batasan negara.
Salah satu dari sedikit pemimpin agama yang mempunyai pemikiran progresif, sejauh yang saya ketahui, adalah Paus Fransiskus. Meskipun pasti banyak juga pemimpin agama lain yang mempunyai pemikiran progresif namun tidak terekspos. Di pemberitaan media barat, saya menyaksikan ironi atau bisa dikatakan suatu yang mengharukan ketika para imigran muslim dari timur tengah, yang terlunta-lunta di negara-negara eropa, disambut dengan hangat oleh Paus Fransiskus.
Di beberapa kesempatan, Paus Fransiskus juga menyerukan para pemimpin negara-negara eropa dan amerika untuk menerima dengan tangan terbuka para imigran yang datang ke negara mereka. Setiap penolakan terhadap para imigran juga kasus tenggelamnya kapal para imigran adalah tragedi kemanusiaan yang semestinya menjadi tanggungjawab kaum agama.
Melalui sikap keteladanan dari Paus Fransiskus itulah kaum beragama semestinya akan lebih menyadari keterkaitan yang hakiki antara keimanan dan nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini terabaikan.
Tragedi yang menimpa para imigran juga tidak hanya dilihat sebagai persoalan ekses krisis politik di negara tertentu semata seolah tidak terkait dengan krisis kemanusiaan yang lebih luas.
Selain persoalan kemanusiaan, beberapa waktu lalu, Paus Fransiskus juga menyatakan sikap atas kerisauannya terhadap persoalan lingkungan. Menurut Paus, siapa pun yang merusak lingkungan adalah seorang pendosa. Ia mencontohkan bahwa mengotori lingkungan dengan sampah plastik adalah perbuatan kriminal. Krisis lingkungan adalah persoalan global yang mengancam peradaban manusia oleh sebab itu institusi agama seharusnya terlibat untuk memecahkannya.
Krisis lingkungan juga erat kaitannya dengan naluri primitif manusia berupa keserakahan mengeruk kekayaan alam. Naluri primitif yang buruk itu bisa ditemui di dalam sifat manusia di mana pun tidak peduli apa pun identitas agamanya sehingga persoalan krisis lingkungan adalah persoalan krisis nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Bukankah agama diturunkan untuk memperbaiki akhlak manusia sehingga menjadi rahmat bagi alam semesta?