Konten dari Pengguna

Belajar Berdamai Dengan Emosi Negatif

Fatahilah Wijaya

Fatahilah Wijaya

Mahasiswa Psikologi di UIN Jakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fatahilah Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-orang-taman-duduk-14224500/
zoom-in-whitePerbesar
https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-orang-taman-duduk-14224500/

“Oh, ternyata ini ya yang bikin aku sedih. Aku enggak sadar selama ini aku merasa sedih karena masalah ini.”

Pernahkah Anda merasakan hal demikian? Bagaimana sih caranya berdamai dengan emosi-emosi yang kita rasakan tersebut? Seperti sedih, marah, kecewa, cemas, takut dan hal-hal lainnya yang membuat kita enggak nyaman. Sedangkan emosi positif seperti senang, bahagia, gembira, dan hal-hal yang sebaliknya dengan emosi negatif. Di sini kita masih menggunakan istilah emosi negatif dan emosi positif bukan untuk menganggap emosi negatif itu tidak baik untuk kita, tetapi kita menggunakan istilah emosi negatif untuk memudahkan pembaca memahami hal ini. Maka dari itu, sebelum kita beralih ke pembahasan selanjutnya. Mari kita pahami dulu apa itu emosi negatif dan emosi positif.

Mengenali Emosi Negatif dan Emosi Positif

Menurut Yuliani (2013;151), emosi negatif adalah perasaan atau keadaan kurang menyenangkan dalam diri seseorang yang memengaruhi sikap dan perilaku individu dalam berhubungan dengan orang lain. Sedangkan menurut Leba dalam (Wardani dan Trihudiyatmanto, 2021;27) emosi positif adalah perasaan atau suasana hati seseorang baik itu senang, sedih, maupun bahagia yang secara tidak langsung memengaruhi sikap dan tindakan individu. Kedua emosi ini memuai banyak perdebatan. Emosi itu sebenarnya semuanya baik untuk kita, baik emosi negatif maupun emosi positif. Dan tidak ada emosi yang negatif atau emosi yang positif. Semuanya mempunyai fungsi dan perannya masing-masing.

Emosi-emosi yang kita rasakan sebenarnya baik untuk kita, karena baik itu emosi negatif maupun emosi positif memiliki maksud dan tujuannya masing-masing. Seperti halnya jika kita tidak pernah merasa cemas, bagaimana kita ingin bersiap untuk menjadi lebih baik. Terkadang kecemasan membuat kita mempersiapkan segala sesuatunya menjadi lebih baik. Contohnya, ketika kita ingin presentasi besok. Kalau kita tidak merasa cemas sama sekali mana mungkin kita bersiap-siap sebelum presentasi besok. Secara tidak sadar, jika kita merasa cemas, kita akan bersiap-siap untuk presentasi besok. Kalau tidak bersiap-siap untuk presentasi besok pasti hasilnya akan tidak maksimal. Jadi, emosi itu baik untuk kita asalkan emosi tersebut tidak berlebihan dan tidak mengontrol kita, tetapi membuat kita melakukan hal-hal yang baik untuk perkembangan kita.

Cara Menanggulangi Emosi Negatif

1. Dengan Emotion Focus Coping

Ketika kamu merasa sedih, emotion focus coping ini menanggulangi kesedihan tersebut dengan cara menenangkan emosi kamu terlebih dahulu. Contohnya, ketika kamu merasa stres baik dari pekerjaan, pertemanan, percintaan atau perkuliahan. Kamu menanggulangi kesedihannya dengan cara mengalihkan emosi tersebut pada hal-hal yang menyenangkan seperti makan banyak, menonton film, bermain game atau melakukan aktivitas yang membuat kamu sibuk.

2. Dengan Problem Focus Coping

Ketika kamu merasa sedih, emotion focus coping ini menanggulangi kesedihan dengan cara menghadapi kesedihan tersebut. Kamu berdamai dan menyelesaikan emosi negatif dengan mencari solusi dari masalah tersebut. Contohnya, ketika kamu tidak mempunyai uang. Solusinya ya mencari uang atau bekerja supaya kamu bisa mempunyai uang. Jadi, emotion focus coping ini menanggulangi emosi negatif dengan cara menghadapi atau menyelesaikannya langsung.

Kapan Sih Sebaiknya Dua Hal di atas Dilakukan?

Ada saatnya kamu menggunakan emotion focus coping atau berusaha menenangkan diri terlebih dahulu dan ada saatnya kamu menggunakan problem focus coping atau berusaha langsung menghadapi masalah tersebut. Karena kalau hal tersebut tidak digunakan pada saat yang tidak tepat maka tidak baik untuk diri kamu. Contoh nyata, setiap si A merasakan stres baik itu dari pekerjaan, pertemanan, percintaan maupun perkuliahan. Ia selalu melampiaskannya dengan makan banyak sambil menonton film. Setelah menonton film dan makannya sudah selesai maka stres itu muncul lagi.

Ketika kamu mengalihkan emosi itu pada hal-hal yang menyenangkan memang hal tersebut bisa meredakan atau menenangkan emosi kamu, tetapi tidak selamanya atau hanya sementara saja karena emosi itu masih ada di dalam diri kamu. Kamu belum menyelesaikan masalah tersebut atau belum berbicara dengan diri sendiri. Hal demikian yang kamu lakukan hanyalah sebuah perasaan.

Ketika kamu melakukan hal tersebut lagi, kamu merasa sedih, hampa, kosong karena terbiasa memendam emosi negatif atau masalah-masalah kamu dikubur dalam-dalam dan dialihkan dengan cara-cara tersebut. Seolah-olah dengan cara tersebut, semua emosi kamu akan lenyap atau hilang padahal kamu tidak benar-benar menggali atau menghilangkan emosi tersebut. Sadar atau tidak, ketika kamu sedang sendiri tidak ada hal-hal yang dilakukan. Kamu terbayang hal-hal yang membuat kamu sedih. Oleh karena itu, kamu senang mengalihkan hal tersebut dengan menjalani kesibukan dan berbagai aktivitas.

Apa Sih yang Mesti Mita Lakukan?

Tidak apa-apa hal tersebut dilakukan sementara, tetapi tidak dilakukan secara terus-menerus malah mengabaikan emosi kita sendiri, karena emosi tersebut akan tetap tinggal di dalam diri kita. Jika kita tidak menyelesaikan atau menghadapinya langsung. Ketika kita sendirian di kamar, tidak ada aktivitas dan tiba-tiba kita merasa sendiri akan suatu hal. Cobalah tanyakan pada diri sendiri, “Mengapa aku kok sedih ya sekarang? Apa ya yang membuat rasa sedih sampaikan kepadaku? Sebenarnya aku merasa sedih karena apa ya?”

Dengan berbicara dengan diri sendiri, dengan mengakui perasaan yang ada. Kita akan jauh lebih baik perasaan atau kondisi suasana hati kita. Bagi orang lain mungkin hal tersebut terlihat sepele. Namun, bagi kita tidak, karena kita yang mengalaminya sendiri dan orang lain tidak merasakan apa yang kita rasakan. Kalau selama ini kita masih suka berpura-pura terlihat baik-baik saja di depan orang lain, paling tidak jangan membohongi diri sendiri. Di depan orang lain kita boleh saja menutupi kesedihan tersebut karena tidak semudah itu percaya orang lain dengan menunjukkan masalah kita. Hal tersebut bisa saja menyiksa diri sendiri.

Kita bisa membohongi orang lain, tetapi kita tidak pernah bisa membohongi diri sendiri. Setidaknya akui dulu pada diri sendiri. Ketika kita menerima hal tersebut, itulah awal kesembuhan kita yang tadinya suka mengalihkan masalah tersebut ke aktivitas lain. Maka dari itu, kita gali dan cari mengapa kita sedih. Belajar untuk menenangkan diri sendiri, belajar untuk mengayomi diri sendiri, dan belajar menjadi ayah dan ibu untuk diri sendiri.

Tenangkan diri sendiri seperti kita ingin ditenangkan oleh orang lain. Kita itu kalau lagi sedih ingin ditenangkan seperti apa sih oleh ayah atau ibu. Ketika orang lain enggak mampu mengasihi hal tersebut untuk kita. Cobalah peluk diri sendiri, berikan cinta itu ke diri sendiri, dan berikan perlakuan itu ke diri sendiri. Biasanya aku melakukan hal tersebut dengan berbicara dalam hati sambil menepuk-nepuk diriku, “Iya, gapapa kok Fatah. Iya, aku tahu kamu terluka. Iya, aku tahu kamu sedih. Tetapi gapapa, yuk besok kita coba lagi.”

Pernah enggak sih kita cerita ke orang lain dan itu tetap enggak buat hati kita lega dan merasa ada yang mengganjal, karena enggak semua orang bisa merasakan apa yang kita rasakan. Meskipun orang tersebut bisa berempati, tetapi yang paling tahu tentang diri kita ya kita sendiri. Hal tersebut bukan berarti kita tidak butuh bantuan orang lain, tetapi ada baiknya kalau kita juga bisa mengandalkan diri sendiri, menenangkan diri sendiri. Kalau kita merasa enggak kuat dan butuh bantuan orang lain, meminta saja bantuan atau pertolongan dari orang lain. Namun, ingatlah satu hal bahwa kita harus menjaga keseimbangan antara mencari atau mendapatkan cinta dari orang lain dengan mendapatkan cinta dari diri sendiri.

Cintailah diri sendiri sebelum mencintai orang lain.