Konten dari Pengguna

Mengenali Toxic Parenting Menghindari Luka Batin

Fatahilah Wijaya

Fatahilah Wijaya

Mahasiswa Psikologi di UIN Jakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fatahilah Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Source: https://www.pexels.com/photo/upset-little-ethic-boy-looking-at-faceless-father-during-argument-7114237/
zoom-in-whitePerbesar
Source: https://www.pexels.com/photo/upset-little-ethic-boy-looking-at-faceless-father-during-argument-7114237/

“Pokoknya nanti kamu begini ya, sudah nurut aja sama orang tua, kalo dengerin apa kata orang tua kamu pasti sukses.”

Apakah kamu pernah mendengar perkataan seperti itu? Hal tersebut bisa saja salah satu tanda dari toxic parenting. Toxic parenting ini tidak sepenuhnya salah orang tua, mungkin pola pengasuhannya saja yang salah. Mengasuh atau mendidik anak dengan cara yang salah bisa jadi merusak kondisi psikologis atau kesehatan mental anak terganggu. Mungkin ada beberapa orang tua yang tidak tahu cara mendidik dan mengasuh anak dengan baik dan secara tidak sadar melakukan toxic parenting pada anak. Maka dari itu, sebelum beralih ke pembahasan selanjutnya. Yuk, kita kenali terlebih dahulu apa itu toxic parenting.

Mengenali Apa Itu Toxic Parenting

Menurut Berliana, dkk (2022) toxic parenting adalah pola pengasuhan negatif yang dilakukan oleh orang tua secara terus-menerus yang dapat menyebabkan rasa trauma dan bahkan mengganggu kesehatan mental pada anak. Toxic parenting dapat berupa penghinaan, pelecehan, dan juga kekerasan pada anak. Selain itu juga, orang tua bersikap egois atau mementingkan dirinya sendiri, tidak memikirkan perasaan anak dan kurang mendengarkan perkataan anak sehingga perkataan orang tua harus selalu anak turuti. Sifat toxic merupakan sikap yang sering dilakukan oleh seseorang tidak hanya orang tua saja. Sadar atau tidak, sifat toxic bisa menyakiti lawan bicara atau bahkan dirinya sendiri.

Kita dapat mengenali toxic parenting dengan perilaku pola asuh orang tua melalui perbuatan dan ucapan orang tua terhadap anaknya. Hal demikian dapat berupa melindungi, memerintah, memarahi, mengubah, mengabaikan, menentang, mengkritik, dan mengatur anak yang memaksa atau mengharuskan anak untuk menuruti orang tuanya. Selain itu juga, anak tidak dibiarkan memenuhi kebutuhan atau keinginannya sendiri. Hal tersebut dapat menjadikan anak memiliki kepribadian yang selalu bergantung pada orang tuanya.

Seorang toxic parents enggan untuk berkompromi, bertanggung jawab dan meminta maaf kepada anaknya. Hal tersebut seringkali dilakukan oleh orang tua yang memiliki gangguan mental. Selain itu, trauma masa kecil orang tua akibat pengasuhan yang tidak tepat juga bisa menimbulkan terjadinya hal di atas.

Hal yang demikian dikarenakan orang tua masih mempunyai luka lama dan membawa luka lama tersebut lalu melukai anak seperti apa yang orang tuanya alami dulu. Oleh karena itu, kejadian toxic parenting ini bisa menjadi suatu hal yang berkepanjangan jika orang tua mengalami pola pengasuhan yang tidak tepat pada masa kecilnya dulu dan menerapkan kembali pola pengasuhan yang tidak tepat itu pada anaknya.

Toxic parents identik dengan hubungan yang kurang ideal antara anak dan orang tua. Beberapa perilaku dari toxic mungkin tidak kita disadari, tetapi dapat memengaruhi secara signifikan pada pertumbuhan dan juga cara pandang anak akan dunia ketika anak menjadi dewasa nantinya. Maka dari itu, penting untuk kita nantinya ketika menjadi orang tua atau yang saat ini sudah menjadi orang tua untuk mengenali ciri-cirinya supaya kita tidak meneruskan luka terhadap anak kita sekarang atau nantinya.

Ciri-Ciri Toxic Parenting

1. Terlalu mengontrol dan memaksakan kehendak anak

Menurut Rianti dan Dahlan (2022;193) orang tua terkadang lupa bahwa anak juga mempunyai keinginannya sendiri. Orang tua beranggapan merasa berhak atas kehidupan anak secara menyeluruh dan membatasi pilihan atau keinginan yang ingin dilakukan anak. Hal tersebut bisa menimbulkan perasaan tertekan dalam diri anak sehingga anak menjadi stres.

Selain itu juga, hal tersebut bisa menjadikan anak mempunyai dua sisi. Di satu sisi, anak akan menjadi pribadi yang tidak mandiri, karena merasa tertekan dan harus menuruti perkataan orang tuanya. Di sisi lain, anak akan menjadi pribadi yang memberontak atau tidak ingin dikendalikan, karena terlalu dikekang dan ingin menentukan apa yang ia inginkan.

2. Membandingkan dan menuntut anak secara berlebihan

Orang tua seringkali membandingkan anaknya dengan adik, kakak, sepupu atau anak orang lain. Kita tidak bisa menyamaratakan antara anak kita dengan anak lainnya, karena setiap anak mempunyai kemampuan dan tingkat kecerdasan yang berbeda-beda. Membandingkan anak biasanya dilakukan oleh orang tua dengan cara yang negatif seperti mengejek atau mempermalukannya seperti perkataan di bawah ini.

"Kamu itu enggak seperti anak tetangga, kakakmu atau adikmu."

Perkataan di atas bisa menimbulkan perlakuan yang tidak adil dalam diri seorang anak. Dengan perkataan tersebut, anak akan mengejar sesuatu yang padahal tidak ia inginkan. Meskipun anak berhasil mencapai apa yang orang tuanya inginkan. Hal tersebut membuat anak bingung terhadap apa yang sebenarnya ia inginkan.

3. Membentak dan menyalahkan anak

Menurut Rianti dan Dahlan (2022;193) membentak anak merupakan cara yang tidak tepat menanamkan ketegasan dan kedisiplinan pada anak. Setiap orang tua memang mempunyai caranya sendiri untuk mengasuh dan mendidik anak. Namun, ketika cara tersebut dilakukan oleh orang tua terhadap anak maka akan muncul luka batin pada anak. Luka tersebut bisa saja anak teruskan dan lakukan pada anaknya nanti ketika ia sudah menjadi orang tua. Hal tersebut bisa menjadi suatu hal yang dilakukan berulang-ulang dan akan terjadi secara terus-menerus.

Ketika anak secara tidak sengaja melakukan kesalahan. Menurut Forward dan Buck dalam Rianti dan Dahlan (2022;194) biasanya orang tua memberikan hukuman fisik secara berlebihan terhadap anak dengan berdalih karena untuk menjadikan anak yang disiplin. Sikap yang seharusnya orang tua lakukan adalah memahami kesalahan tersebut bukan malah memarahi, membentak, dan, memberikan hukuman fisik yang berlebihan terhadap anak.

Orang tua yang baik adalah orang tua yang memberitahu atau membicarakan secara baik-baik pada anak bahwa yang dilakukannya itu salah dan tidak boleh diulanginya lagi. Dengan demikian, anak akan menjadi mengerti dan memahami hal tersebut sehingga ia akan berusaha tidak akan mengulangi kesalahannya untuk yang kedua kalinya.

4. Bersikap egois dan mengganggu privasi anak

Para orang tua biasanya beranggapan bahwa privasi hanyalah dimiliki oleh orang dewasa saja. Sedangkan ia lupa bahwa anak juga mempunyai privasi yang tidak boleh diketahui siapa pun. Hal tersebut biasa orang tua lakukan seperti melihat isi pesan anaknya dengan teman-temannya. Apabila hal itu dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya maka akan mengganggu privasi anak.

Mengganggu privasi anak merupakan bentuk ketidakpercayaan orang tua terhadap anaknya. Ketidakpercayaan orang tua akan menyebabkan anak sulit berkembang, karena sejatinya anak membutuhkan kepercayaan dan dukungan dari orang tuanya terhadap apa yang ia lakukan.

Apa Sih yang Mesti Orang tua Lakukan?

Toxic parenting bisa berakibat buruk pada kesehatan mental anak. Anak akan menjadi mudah terkena depresi atau stres. Menurut Rianti dan Dahlan (2022;194) hal yang dilakukan orang tua terhadap anaknya ialah dengan cara mengenal lebih dalam perilaku anak, memberikan kesempatan anak untuk bicara terkait apa yang ia inginkan, mengendalikan emosi ketika anak secara tidak sengaja melakukan kesalahan, dan menjalin komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Hal yang demikian merupakan pola pengasuhan positif yang dilakukan oleh orang tua pada anaknya.