Konten dari Pengguna

Misogini adalah Cara Lain untuk Mengkhianati Ideologi Bangsa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fatha Fauza Alifia Arrahma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Source Image: Unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Source Image: Unsplash.com

Ada kejengkelan mendalam saat mengamati bagaimana standar ganda masih terus dibebankan kepada perempuan di era yang katanya sudah modern ini. Perempuan dituntut harus selalu tampil bersih, menjaga diri, pandai mengurus rumah, hingga menanggung berbagai ekspektasi sosial, sementara laki-laki kerap diberi kelonggaran. Yang lebih menyebalkan, budaya patriarki ini tidak hanya dilanggengkan oleh laki-laki misoginis, tetapi juga oleh sesama perempuan yang tidak sadar bahwa mereka sedang mewariskan pola pikir yang merugikan gender mereka sendiri, hingga akhirnya melahirkan generasi laki-laki patriarki yang baru.

Ketimpangan ini semakin parah ketika ada oknum yang mengaku paham norma keagamaan tetapi bertindak dangkal. Mereka hobi melakukan cherry picking, yaitu memotong narasi atau teks keagamaan secara sepihak lalu salah mengartikan maksud aslinya demi mencari pembenaran atau pengakuan terhadap bias patriarki mereka. Begitu menemukan narasi yang bisa dibelokkan, mereka langsung menjadikannya senjata untuk memojokkan perempuan di kolom komentar. Mereka bertindak seolah-olah paling tahu, padahal yang disampaikan hanyalah pemikiran dangkal hasil dari makna yang mereka pelintir.

Padahal jika mau jujur dan mendalami esensi ajaran secara utuh, kedudukan perempuan tidak pernah dirancang untuk menjadi objek tuntutan atau sosok yang bisa disuruh-suruh sesuka hati. Perempuan hadir sebagai mitra dan teman setara yang harus diperlakukan dengan kelembutan serta rasa hormat yang tinggi. Laki-laki justru memikul tanggung jawab moral dan kepemimpinan yang sangat berat untuk mengayomi, bukan untuk menindas. Namun, esensi pemuliaan ini sengaja dibutakan oleh oknum-oknum yang hanya ingin mempertahankan kenyamanan sistem patriarki semata.

Ketakutan terbesar saya justru muncul saat melihat respons dari mereka yang satu generasi dengan saya, yaitu yang dunia biasa sebut sebagai gen Z. Banyak gen Z atau anak muda hari ini dengan bangga mengeklaim dirinya "kritis" dan open minded. Namun, ketika disuguhkan konten yang menyudutkan suatu ajaran, seperti tuduhan bahwa agama tertentu itu misoginis, kebanyakan dari mereka langsung percaya begitu saja.

Tanpa disadari, mereka juga sedang melakukan cherry picking: mencari-cari poin pembuktian yang lahir hanya dari informasi dangkal yang mereka terima tanpa menguji lebih lanjut keaslian atau validitas data dari informasi tersebut. Mereka tidak benar-benar membaca, tidak paham histori, dan tidak mengerti esensi di balik suatu aturan.

Mereka hanya menelan opini orang lain di media sosial yang sama-sama keliru, lalu merasa paling tercerahkan. Dampaknya sangat fatal. Karena malas mempelajari esensi nilai spiritual dan hanya melihat perilaku oknum yang manipulatif, banyak anak muda mengambil jalan pintas, seperti menganggap agama tidak lagi penting, mempertanyakan aturan dengan logika mentah, hingga membanggakan sikap skeptis atau ateis demi terlihat "keren". Mereka bingung membedakan mana kesalahan oknum yang memanipulasi ajaran, dan mana nilai murni dari ajaran itu sendiri.

Di sinilah esensi berbangsa kita benar-benar diuji. Satu isu bernama misogini ini nyatanya sanggup merusak dan menginjak-injak kelima sila Pancasila sekaligus:

1. Sila Pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa): Terancam runtuh ketika kebencian dan cherry picking oknum membuat anak muda krisis iman dan meragukan nilai-nilai kebaikan agama yang di mana saya sangat yakin bahwa semua agama mengajarkan kebaikan.

2. Sila Kedua (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab): Memojokkan satu gender jelas tindakan tidak beradab. Adil bukan berarti memukul rata peran secara kaku, melainkan memahami porsi dan proporsi kemanusiaan secara bijak.

3. Sila Ketiga (Persatuan Indonesia): Bagaimana bangsa ini bisa bersatu menghadapi perbedaan suku dan ras yang begitu beragam, jika perpecahan dan "perang gender" di media sosial saja masih terus dipelihara?

4. Sila Keempat (Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan): Klaim open minded dan kritis menjadi kosong ketika masyarakat tidak mampu bermusyawarah secara sehat, serta tidak bijak dalam menyampaikan opini di ruang publik.

5. Sila Kelima (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia): Perempuan adalah bagian dari rakyat Indonesia yang berhak atas keadilan sosial. Namun, realitanya stigma sosial selalu menimpa perempuan. Dalam kasus kehamilan di luar nikah, perceraian, atau penelantaran anak, perempuan selalu menjadi pihak yang paling dihujat, dicap buruk, dan dibebani kesalahan, sementara laki-laki penanggung jawabnya sering kali dengan mudah melarikan diri tanpa stigma sosial sedikit pun.

Bahkan julukan-julukan buruk pun lebih banyak diberikan untuk perempuan daripada laki-laki, seperti janda, fatherless, daddy issue, yang ironisnya semua sebutan itu lahir dari kegagalan seorang laki-laki dalam menjalankan tanggung jawabnya, namun malah terdengar seakan-akan menghina seorang perempuan.

Berpikir kritis yang sesungguhnya tidak pernah lahir dari kemalasan membaca atau keinginan untuk terlihat "berbeda" di media sosial. Berpikir kritis membutuhkan adab, kejujuran intelektual, dan keberanian untuk menggali informasi sampai ke akarnya. Jika kita benar-benar mengaku sebagai generasi muda yang berpendidikan dan berpancasila, hentikan kebiasaan asal terhasut oleh narasi dangkal. Jangan biarkan keangkuhan yang dibungkus kata open minded justru merenggut identitas, iman, dan nilai kemanusiaan kita.