Konten dari Pengguna

Salat Idul Adha PHBI Matraman: Tradisi Religius yang Dirawat Mahasiswa

Fathan Muslimin Alhaq

Fathan Muslimin Alhaq

Content Writer (Freelance) - Journalism Student at Esa Unggul University - Writer Enthusiast

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fathan Muslimin Alhaq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salat Idul Adha 1446 H PHBI Matraman | Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Salat Idul Adha 1446 H PHBI Matraman | Dokumen Pribadi

Setiap momentum Idul Adha di Jakarta Timur selalu menyimpan kehangatan tersendiri, terutama di kawasan Matraman. Salah satu tradisi yang telah mengakar dan tetap lestari hingga kini adalah pelaksanaan Salat Idul Adha oleh Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Matraman, yang digagas dan dijalankan oleh para mahasiswa asrama.

Kegiatan ini bukan hanya sekadar bentuk ibadah tahunan, tetapi juga simbol keberlanjutan nilai-nilai kebersamaan dan pengabdian sosial yang dijaga dari generasi ke generasi.

Pelaksanaan Salat Ied yang dirintis sejak dekade 1970-an ini tidak berdiri sendiri. Di balik keberhasilannya, ada semangat kolektif dari mahasiswa yang tinggal di Asrama Sunan Gunung Jati, kawasan Jatinegara, yang kini berkembang menjadi Yayasan Asrama Pelajar Islam.

Mereka tidak hanya menjadi panitia teknis, tetapi juga pewaris nilai dan budaya keislaman yang hidup berdampingan dengan masyarakat sekitar. Ini yang membuat PHBI Matraman tetap hidup dan relevan, meskipun zaman terus berubah.

“Dari dulu, pelaksanaan PHBI ini bukan sekali dua kali,” ujar Ilham Fajar Berutu, ketua pelaksana Salat Idul Adha 1446 H.

“Ini udah turun-temurun dari senior-senior kita. Kita memang merawatnya dari masa ke masa.” Ilham menegaskan bahwa peran mahasiswa bukan sekadar simbolik, tetapi benar-benar menjadi tulang punggung kegiatan keagamaan berskala besar ini.

Merawat Warisan, Menggerakkan Masyarakat

Ilham Pajar Berutu, Ketua Panitia PHBI Salat Idul Adha Matraman | Dokumen Pribadi

Apa yang dilakukan oleh para mahasiswa Matraman bukan hanya soal ritual keagamaan, tetapi juga bentuk tanggung jawab sosial dan spiritual yang diwariskan. Sejak awal berdiri pada tahun 1952, asrama mereka menjadi pusat kegiatan keislaman yang tumbuh bersama masyarakat Jatinegara. Kini, tradisi itu menjelma dalam bentuk pelaksanaan Salat Idul Adha PHBI Matraman yang terbuka untuk umum.

Bagi warga sekitar, Salat Ied ini bukan kegiatan baru. Justru, kehadiran panitia mahasiswa dari tahun ke tahun menjadi jembatan yang mempererat hubungan antarwarga.

Mayoritas jamaah yang hadir pun berasal dari Jatinegara dan sekitarnya. “Kalau mayoritas itu warga Jatinegara sendiri,” jelas Ilham. Kedekatan ini membuat kegiatan tetap terasa personal meski skalanya besar.

Ilham juga menambahkan bahwa dari waktu ke waktu, jumlah jamaah yang hadir terus berkembang. “Pernah kita mencapai paling banyak itu 20.000 jamaah. Tapi Idul Fitri kemarin kita hitung-hitung sekitar 13.000 orang.” Ini menjadi bukti bahwa masyarakat masih mempercayai dan mendukung penuh pelaksanaan ibadah yang digagas oleh mahasiswa.

Pengelolaan Modern, Spirit Tradisional

Meski dilaksanakan oleh panitia mahasiswa, pengelolaan acara dilakukan dengan serius dan profesional. Salah satu contohnya adalah pengaturan parkir dan lalu lintas di sekitar lokasi.

Panitia menutup enam titik strategis untuk memastikan keamanan dan kenyamanan jamaah. “Kita tutup enam titik dari panitia sendiri,” kata Ilham. Area seperti halte Matraman hingga jajaran wall rest disiapkan sebagai lahan parkir alternatif.

M Rifqinizamy Karsayuda, selaku Ketua Komisi II DPR-RI saat menjadi Khatib di PHBI Matraman | Dokumen Pribadi

Lebih dari itu, daya tarik kegiatan ini juga hadir dari strategi undangan khatib yang tidak biasa. Kali ini khatib yang mengisi Salat Idul Adha 1446 H adalah dari M Rifqinizamy Karsayuda, selaku Ketua Komisi II DPR-RI.

Panitia mengundang tokoh publik dan pejabat yang sudah dikenal masyarakat Jakarta sebagai bentuk magnet spiritual dan sosial. “Tujuan kita mengundang pejabat itu untuk menjadi daya tarik masyarakat,” jelas Ilham. Hal ini menjadikan Salat Ied PHBI Matraman bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan juga ruang interaksi sosial antar kelas dan generasi.

Solidaritas Lintas Iman di Tengah Kota Jakarta

Keunikan lain dari pelaksanaan Shalat Ied PHBI Matraman adalah relasi baik yang terbangun dengan pihak-pihak lintas iman. Lokasi yang berdekatan dengan tempat ibadah lain, termasuk gereja, tak membuat gesekan muncul. Justru sebaliknya, panitia mendapat dukungan moril dari para pengurus gereja sekitar. “Dari pihak pengurus gereja juga udah sering bercengkrama dengan kita. Mereka menjunjung solidaritas yang tinggi,” cerita Ilham.

Hal ini menjadi cerminan bahwa Jakarta sebagai ibu kota tidak kehilangan wajah toleransi. Matraman menjadi miniatur harmoni sosial yang bisa menjadi contoh bagi wilayah lain. Di tengah narasi konflik yang sering muncul di ruang publik, kolaborasi semacam ini membuktikan bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekayaan sosial.

Akhirnya, keberhasilan kegiatan ini bukan semata pada jumlah jamaah atau tokoh yang hadir. Lebih penting dari itu adalah semangat gotong royong dan keberlanjutan nilai yang dijaga para mahasiswa. Mereka tidak hanya menjalankan tanggung jawab logistik, tetapi juga mewarisi semangat pelayanan dan keterbukaan.

“Yang kita jaga bukan hanya kegiatan, tapi nilai-nilainya,” tutup Ilham. Di tengah hiruk pikuk ibu kota, tradisi religius yang dirawat mahasiswa ini menjadi penanda bahwa spiritualitas bisa tetap hidup—asal ada niat untuk merawat dan meneruskannya.